Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

7 Hewan yang Tuli atau Tidak Punya "Telinga", Mendengar Lewat Kaki?

armadillo
armadillo (commons.wikimedia.org/www.birdphotos.com)
Intinya sih...
  • Armadillo bergantung pada indra penciuman dan cakar besar untuk bertahan hidup di alam liar.
  • Cephalopoda menggunakan statocyst untuk mendeteksi suara frekuensi rendah, namun tidak bisa mendengar suara frekuensi tinggi.
  • Naked mole-rat memiliki pendengaran lemah karena sel telinga abnormal, tetapi sensitif terhadap rentang suara tertentu.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kemampuan mendengar biasanya dianggap sebagai salah satu modal utama bagi hewan untuk bertahan hidup di alam liar. Indra ini berfungsi vital untuk mendeteksi mangsa atau menghindari sergapan predator yang mengintai di sekitarnya. Namun, alam semesta selalu menyimpan kejutan unik di mana beberapa spesies justru berevolusi dengan kondisi yang tampak merugikan, seperti tidak memiliki daun telinga atau bahkan mengalami ketulian secara alami.

Keterbatasan fisik tersebut ternyata tidak menghalangi mereka untuk tetap eksis dan berkembang biak. Hewan-hewan ini beradaptasi dengan cara yang luar biasa, mulai dari mengandalkan getaran tanah yang dirasakan kaki hingga menajamkan indra penciuman sebagai pengganti fungsi telinga. Jika kamu penasaran bagaimana hewan ini berinteraksi dengan dunia tanpa suara atau tanpa organ pendengaran yang lazim, berikut adalah ulasannya.

1. Armadillo yang mengandalkan indra penciuman

armadillo
armadillo (commons.wikimedia.org/Chaetophractus)

Hewan bercangkang keras ini sebenarnya tidak tuli total, tetapi memiliki pendengaran frekuensi tinggi yang sangat terbatas. Selain pendengaran yang kurang peka, penglihatan mereka juga tergolong buruk sehingga membuat mereka tampak rentan di alam liar.

Untuk bertahan hidup, armadillo sangat bergantung pada indra penciuman yang tajam serta cakar besar mereka untuk menggali tanah dan mencari makanan. Kekurangan pada indra pendengar dan penglihatan ini ditutupi oleh kemampuan adaptasi fisik lainnya, termasuk kulit baja yang melindungi mereka dari serangan predator.

2. Cephalopoda dan sensor keseimbangan tubuh

ikan sotong
ikan sotong (Pexels.com/Merve Ekmekci)

Kelompok hewan laut yang mencakup gurita, cumi-cumi, dan sotong ini dulunya dianggap tuli sepenuhnya oleh para ilmuwan. Namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa mereka sebenarnya bisa mendeteksi suara frekuensi rendah menggunakan statocyst, sebuah organ keseimbangan dalam tubuh mereka yang peka terhadap getaran.

Sayangnya mekanisme pendengaran unik ini memiliki kelemahan fatal karena mereka tidak bisa mendengar suara frekuensi tinggi. Artinya mereka sering kali tidak menyadari kehadiran predator utama seperti lumba-lumba atau paus yang berkomunikasi dan berburu menggunakan gelombang suara bernada tinggi.

3. Naked mole-rat dengan sel telinga abnormal

naked mole-rat
naked mole-rat (commons.wikimedia.org/Ltshears)

Tikus mondok telanjang memiliki pendengaran yang sangat lemah karena struktur sel rambut di telinga luar mereka tidak normal. Sel-sel ini tidak mampu memperkuat gelombang suara seperti pada mamalia umumnya, sehingga dunia mereka terdengar jauh lebih sunyi.

Hewan pengerat yang hidup di bawah tanah ini hanya sensitif terhadap rentang suara tertentu, terutama nada-nada rendah. Meski begitu, kekurangan ini tidak menghambat kelangsungan hidup mereka karena lingkungan bawah tanah tempat mereka tinggal relatif stabil dan tidak terlalu menuntut pendengaran yang tajam.

4. Salamander mendengar melalui kaki depan

salamander
salamander (unsplash.com/iuiuilles)

Banyak spesies salamander yang terlahir tanpa telinga tengah maupun gendang telinga, tapi bukan berarti mereka tuli. Hewan amfibi ini memiliki cara mendengar yang sangat unik dengan memanfaatkan kaki depan mereka yang menempel di tanah untuk menangkap getaran suara.

Getaran yang ditangkap oleh kaki depan tersebut kemudian disalurkan ke telinga bagian dalam melalui sistem otot khusus. Mekanisme ini memungkinkan mereka mendeteksi pergerakan atau suara di sekitar mereka meskipun secara fisik tidak memiliki lubang telinga seperti hewan darat lainnya.

5. Laba-laba memanfaatkan rambut kaki dan jaring

laba-laba
laba-laba (unsplash.com/Edvandujn)

Laba-laba tidak memiliki telinga atau antena, tetapi mereka adalah salah satu pendengar paling efektif di dunia serangga. Mereka mengandalkan rambut-rambut halus yang sangat sensitif di sekujur kaki mereka untuk menangkap gelombang suara dan getaran udara di sekitarnya.

Selain rambut di kaki, jaring yang mereka buat juga berfungsi sebagai alat bantu dengar raksasa. Benang sutra laba-laba dapat dikonfigurasi sedemikian rupa untuk menangkap frekuensi getaran tertentu, sehingga membantu mereka mengetahui posisi mangsa atau bahaya yang mendekat bahkan dari jarak yang cukup jauh.

6. Anjing laut tanpa daun telinga eksternal

anjing laut
anjing laut (commons.wikimedia.org/MikeBaird)

Sesuai dengan namanya, kelompok anjing laut ini tidak memiliki daun telinga yang menonjol di kepala mereka sehingga terlihat lebih mulus dan aerodinamis. Meski tampak tidak memiliki alat pendengar, kemampuan mendengar mereka justru sangat luar biasa, terutama saat berada di dalam air.

Mereka mampu menangkap suara dengan frekuensi sangat tinggi saat menyelam, yang sangat berguna untuk navigasi dan komunikasi bawah laut. Uniknya lagi, saat berada di daratan, kemampuan pendengaran mereka beradaptasi menjadi setara dengan pendengaran manusia pada umumnya.

7. Kucing putih bermata biru dan risiko tuli bawaan

kucing putih
kucing putih (unsplash.com/IanTalmacs)

Berbeda dengan hewan lain di daftar ini, ketulian pada kucing putih bermata biru disebabkan oleh kelainan genetik bawaan. Kucing dengan bulu putih bersih dan sepasang mata biru memiliki risiko sangat tinggi, sekitar 65 hingga 85 persen, untuk terlahir dalam kondisi tuli total akibat degenerasi telinga bagian dalam.

Menariknya, jika kucing tersebut memiliki warna mata yang berbeda atau odd-eye (satu biru dan satu warna lain), ketulian biasanya hanya terjadi pada satu sisi telinga saja. Sisi telinga yang tuli umumnya berada pada sisi yang sama dengan mata yang berwarna biru tersebut.

Keterbatasan fisik seperti hilangnya indra pendengaran atau ketiadaan daun telinga ternyata bukan penghalang bagi mereka untuk tetap bertahan hidup di lingkungan yang keras. Fenomena ini mengajarkan kamu bahwa adaptasi adalah kunci utama dalam evolusi, di mana makhluk hidup akan selalu menemukan jalan keluar kreatif untuk mengatasi setiap tantangan yang diberikan oleh alam.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Hella Pristiwa
EditorHella Pristiwa
Follow Us

Latest in Science

See More

4 Alasan Greenland Jadi Rebutan Negara Besar menurut Sains

27 Jan 2026, 13:24 WIBScience