- Lindungi dan pulihkan hulu DAS, misalnya dengan reforestasi berbasis ekologi, restorasi lahan kritis, dan perlindungan kawasan riparian.
- Batasi kegiatan ekstraktif di area sensitif, seperti halnya penambangan, pembukaan lahan skala besar, dan pembangunan jalan yang membuka lereng curam harus diawasi ketat atau dilarang di zona rawan.
- Manajemen DAS terpadu dengan menggabungkan data ilmiah seperti hidrologi atau pemetaan tutupan lahan dengan pengetahuan lokal untuk sistem peringatan dini dan tata ruang yang adaptif.
- Perbaiki tata kota dan izin lokasi, misalnya dengan gak membiarkan pemukiman baru menempati daerah resapan atau bantaran sungai tanpa mitigasi yang memadai.
- Kebijakan dan penegakan hukum yang kuat terhadap pembalakan liar dan perusakan hutan, serta insentif untuk praktik pengelolaan lahan berkelanjutan.
Hutan, Sungai, dan Manusia: Hubungan Ekologis yang Kerap Diabaikan

- Hutan dan sungai kehilangan fungsinya karena penggundulan dan perubahan lahan.
- Hutan mengontrol air dengan memperlambat hujan, meratakan aliran air, dan menahan sedimen.
- Perluasan lahan non-hutan di DAS berkorelasi dengan fluktuasi banjir yang lebih sering dan parah.
Musim hujan datang, hujan deras turun, lalu beberapa jam kemudian muncul banjir bandang yang menelan rumah dan jalanan. Lantas kita bilang penyebabnya karena curah hujan yang ekstrem. Meskipun benar itu jadi salah satu faktornya, ada hal lain yang sering tak terlihat, yaitu hutan dan sungai yang kehilangan fungsinya karena penggundulan dan perubahan penggunaan lahan.
Pengetahuan ilmiah menunjukkan bahwa ketika hutan hilang, risiko banjir, terutama banjir bandang dan debit puncak dapat meningkat drastis.
Bagaimana hutan mengontrol air?

Hutan bukan cuma sekadar pepohonan, mereka juga merupakan sistem pengelola air. Daun, tajuk, dan lapisan serasah memperlambat hujan sehingga air punya waktu meresap ke tanah. Akar pohon memperbaiki struktur tanah sehingga meningkatkan infiltrasi dan cadangan air tanah (groundwater). Tak hanya itu, vegetasi tepi sungai (riparian) dapat menahan sedimen sehingga aliran sungai tetap stabil dan gak cepat dangkal.
Gabungan fungsi ini menurunkan laju limpasan permukaan (runoff) dan meratakan puncak aliran air saat hujan deras, yang artinya banjir besar bisa dikurangi.
Deforestasi menyebabkan air hujan sulit menyerap ke dalam tanah

Kalau hutan ditebang, entah untuk tambang, kelapa sawit, perkebunan atau pemukiman, lapisan tanah yang menyerap air terkikis. Alhasil, hujan gak lagi disimpan dalam tanah, air mengalir cepat ke sungai, meningkatkan debit puncak dan kemungkinan banjir bandang yang tiba-tiba. Selain itu, tanah yang terbuka mudah tererosi, sehingga sungai cepat penuh sedimen. Sungai yang dangkal ini lebih mudah meluap dan mengubah arah aliran, lalu memperbesar kerusakan.
Studi empiris dan review internasional menemukan hubungan kuat antara hilangnya tutupan hutan dan peningkatan risiko banjir lokal maupun regional.
Kasus benjana banjir bandang di Indonesia adalah bukti nyata

Di Indonesia, banyak kejadian banjir bandang dan longsor akhir-akhir ini berafiliasi dengan perubahan penggunaan lahan di hulu, seperti halnya pembukaan hutan untuk pertambangan, kebun, atau akses jalan tambang, serta kebakaran dan pengeringan lahan gambut. Peneliti di universitas lokal dan lembaga seperti CIFOR menunjukkan bahwa perluasan lahan non-hutan di DAS (daerah aliran sungai) berkorelasi dengan fluktuasi banjir yang lebih sering dan lebih parah. BNPB serta pakar dari UGM juga mengaitkan sebagian peristiwa banjir bandang dengan kerusakan ekosistem hulu.
Banjir bandang: cepat, destruktif, dan sulit diprediksi

Berbeda dengan banjir lambat yang naik pelan, banjir bandang datang dengan cepat. Air bercampur lumpur dan material berat melesat sepanjang sungai kecil atau lembah sempit. Faktor pemicunya adalah hujan intens di daerah hulu yang tak lagi punya penyangga ekologis. Penebangan hutan di lereng dan jalan tambang yang membuka permukaan tanah mempercepat proses ini.
Di beberapa studi kasus, penghilangan vegetasi di hulu terkait langsung dengan kenaikan risiko banjir bandang dan longsor.
Tata guna lahan dan manajemen sungai juga ikut berperan

Selain mengembalikan fungsi hutan, solusi yang efektif untuk mencegah banjir bandang juga menuntut pendekatan terpadu. Misalnya dengan pengelolaan DAS yang mempertimbangkan tata guna lahan (land-use), restorasi riparian, pengendalian erosi, serta peringatan dini yang menggabungkan data hidrologi dan pengetahuan lokal.
Organisasi internasional seperti FAO menekankan pengelolaan hutan yang berfokus pada jasa air (forest–water management) sebagai strategi kunci untuk mengamankan pasokan air dan mengurangi risiko banjir.
Beberapa studi menunjukkan bahwa penghilangan hutan luas di sebuah DAS dapat meningkatkan kemungkinan dan intensitas peristiwa banjir secara signifikan. Dalam kasus tertentu, risikonya meningkat hingga berkali-kali lipat. Namun angka pastinya tergantung pada banyak faktor, seperti tipe tanah, topografi, intensitas hujan, dan jenis deforestasi.
Apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah banjir bandang?

Hutan, sungai, dan cara kita menggunakan lahan membentuk satu sistem. Mengabaikan satu bagian (misalnya menebang hutan hulu demi keuntungan jangka pendek) berarti memperbesar risiko bagi jutaan orang di hilir. Solusi jangka panjangnya bukan hanya pompa dan tembok beton, tapi pemulihan ekologi yang disertai dengan kebijakan yang baik serta keterlibatan masyarakat. Jika kita ingin menurunkan frekuensi tragedi banjir bandang, maka merawat hutan dan sungai adalah kewajiban yang harus diupayakan.


















