- Perseids, karena radiant berada di konstelasi Perseus.
- Leonids, karena berasal dari arah konstelasi Leo.
- Lyrids, karena tampak memancar dari konstelasi Lyra.
- Geminids, karena radiant berada di konstelasi Gemini.
Kenapa Hujan Meteor Memiliki Nama yang Berbeda-beda?

- Nama hujan meteor ditentukan dari konstelasi lokasi radiant, titik semu asal meteor di langit, lalu memakai nama Latin dengan akhiran “-ids”, seperti Perseids dan Geminids.
- IAU tidak memakai nama komet atau asteroid induk karena namanya bisa rumit, data benda induk dapat berubah, dan satu komet berpotensi menghasilkan beberapa hujan meteor.
- Jika radiant berada pada konstelasi sama, penamaan dibedakan lewat bintang terdekat, bulan, atau arah; temuan baru memakai kode sementara sebelum diverifikasi IAU.
Pernahkah kamu mendengar nama-nama hujan meteor, seperti Perseid, Leonid, Geminid, atau Quadrantid? Nama-nama tersebut terdengar unik, bahkan seperti tokoh dalam mitologi Yunani. Padahal, penamaan hujan meteor bukanlah sesuatu yang asal dibuat atau diambil dari nama komet.
Setiap hujan meteor memiliki nama yang berbeda karena astronom menggunakan sistem penamaan khusus berdasarkan titik asal semu (radiant) di langit. Sistem ini membuat para pengamat astronomi di seluruh dunia dapat dengan mudah mengenali dan membedakan setiap hujan meteor. Lalu, bagaimana sebenarnya nama-nama itu ditentukan? Simak penjelasannya berikut ini.
1. Nama hujan meteor berasal dari konstelasi
Saat Bumi mengorbit Matahari, planet kita sesekali melintasi jalur debu yang ditinggalkan komet atau asteroid. Ketika partikel-partikel debu tersebut memasuki atmosfer dengan kecepatan tinggi, mereka terbakar dan tampak sebagai garis cahaya yang kita kenal sebagai meteor.
Meski meteor sebenarnya bergerak sejajar, dari sudut pandang pengamat di Bumi semuanya terlihat seolah-olah memancar dari satu titik di langit yang disebut radiant. Nah, titik inilah yang menjadi dasar penamaan hujan meteor.
Astronom kemudian mencari konstelasi tempat radiant berada. Nama hujan meteor diambil dari nama Latin konstelasi tersebut, lalu diberi akhiran "-ids". Beberapa contohnya antara lain:
Dengan cara ini, siapa pun yang ingin mengamati hujan meteor dapat mengetahui ke arah mana harus melihat di langit.
2. Mengapa tidak dinamai sesuai nama komet
Mungkin muncul pertanyaan, bukankah hujan meteor berasal dari komet? Mengapa tidak dinamai berdasarkan nama komet induknya? Memang benar, sebagian besar hujan meteor berasal dari serpihan yang ditinggalkan komet. Misalnya:
- Perseids berasal dari komet 109P/Swift-Tuttle.
- Leonids berasal dari komet Tempel-Tuttle.
Namun, International Astronomical Union (IAU) menetapkan bahwa nama resmi hujan meteor sebaiknya tidak menggunakan nama komet atau asteroid induknya. Alasannya cukup sederhana:
- Nama komet sering kali rumit dan tidak menggunakan bahasa Latin.
- Penemuan baru dapat mengubah informasi mengenai benda induknya.
- Satu komet bahkan bisa menghasilkan lebih dari satu hujan meteor.
Karena itu, penamaan berdasarkan radiant dianggap jauh lebih konsisten dan mudah dipahami oleh para astronom maupun masyarakat umum.
3. Bagaimana jika ada banyak hujan meteor yang berasal dari konstelasi yang sama

Dalam beberapa kasus, lebih dari satu hujan meteor tampak berasal dari konstelasi yang sama. Untuk membedakannya, astronom menambahkan penanda tertentu pada namanya. Misalnya:
- nama bintang terang terdekat, seperti Eta Aquariids atau Delta Aquariids;
- bulan terjadinya, misalnya April Lyrids dan May Lyrids;
- arah radiant, seperti Northern Taurids dan Southern Taurids.
Dengan sistem ini, setiap hujan meteor tetap memiliki nama yang unik meskipun berasal dari wilayah langit yang hampir sama.
4. Bagaimana penamaan hujan meteor baru
Teknologi modern seperti kamera langit otomatis dan radar kini mampu menemukan puluhan aliran meteoroid baru setiap tahunnya. Sebelum dipastikan sebagai hujan meteor resmi, setiap temuan baru akan diberi nama sementara oleh kelompok kerja IAU.
Kode sementara biasanya mengikuti waktu penemuan, misalnya M2025-A1, yang berarti hujan meteor pertama yang dilaporkan pada paruh pertama Januari 2025. Setelah keberadaan hujan meteor tersebut diverifikasi dan radiant-nya dipastikan, IAU akan menetapkan nama resmi berdasarkan konstelasi tempat radiant berada. Jika ternyata dua tim menemukan hujan meteor yang sama, keduanya akan digabung menjadi satu nama resmi.
5. Mengapa nama hujan meteor penting
Nama hujan meteor bukan sekadar istilah ilmiah yang terdengar keren. Nama tersebut berfungsi sebagai petunjuk lokasi di langit.
Sebagai contoh, ketika mendengar hujan meteor Perseids, astronom langsung mengetahui bahwa meteor-meteor tersebut akan tampak memancar dari arah konstelasi Perseus. Meski demikian, sumber sebenarnya bukan berasal dari konstelasi itu, melainkan dari serpihan komet Swift-Tuttle yang dilewati Bumi setiap tahun. Memahami perbedaan antara radiant dan asal material meteor membantu kita mengerti bahwa nama hujan meteor menunjukkan arah kemunculannya di langit, bukan tempat asal debunya di ruang angkasa.
Kesimpulannya, hujan meteor memiliki nama yang berbeda-beda karena penamaannya didasarkan pada konstelasi tempat titik radiant berada, bukan berdasarkan komet atau asteroid yang menjadi sumber debunya. Sistem yang ditetapkan oleh International Astronomical Union (IAU) ini membuat setiap hujan meteor memiliki identitas yang jelas, mudah dikenali, dan memudahkan para pengamat astronomi di seluruh dunia.
Referensi
International Astronomical Union Commission 22. (n.d.). Nomenclature rules for meteor showers.
National Aeronautics and Space Administration. Diakses pada Juli 2026. Perseids Meteor Shower
Universe Guide. Diakses pada Juli 2026. Meteor Showers: Nature’s Celestial Fireworks
Universe Today. Diakses pada Juli 2026. What is a Meteor Shower?




















