Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Langit Senja Saat Buka Puasa Warnanya Bisa Berbeda-beda?
ilustrasi langit senja (freepik.com/freepik)
  • Fenomena langit senja terjadi karena Rayleigh scattering, di mana cahaya Matahari tersebar oleh molekul udara sehingga warna biru hilang dan tersisa merah serta oranye saat Matahari rendah di horizon.
  • Perbedaan warna senja tiap hari dipengaruhi kondisi atmosfer seperti debu, polusi, dan uap air yang memicu hamburan Mie scattering, menghasilkan variasi warna dari merah terang hingga ungu lembut.
  • Awan berperan memantulkan dan membiaskan cahaya senja, menciptakan gradasi dramatis; kombinasi sains atmosfer dan pengalaman emosional membuat momen buka puasa terasa lebih hangat dan bermakna.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernah gak sih kamu merasa takjub melihat fenomena langit senja saat menunggu waktu berbuka? Kadang warnanya merah menyala, di hari lain justru ungu lembut atau oranye keemasan. Fenomena langit senja ini bukan sekadar estetika alam, tapi ada penjelasan ilmiahnya. Sains sunset ternyata menyimpan proses fisika yang menarik untuk dipahami.

Perubahan warna tersebut berkaitan dengan bagaimana cahaya Matahari berinteraksi dengan atmosfer Bumi. Penyebab langit berwarna merah ungu bukan karena langit “berubah warna”, melainkan karena cahaya yang tersebar. Hal ini dikarenakan adanya fenomena yang disebut Rayleigh scattering. Yuk, kita bahas satu per satu supaya makin paham.

1. Fenomena Rayleigh scattering, kunci sains sunset

ilustrasi langit senja (freepik.com/victor217)

Salah satu kunci utama fenomena langit senja adalah Rayleigh scattering atau hamburan Rayleigh. Ini merupakan proses fisika ketika cahaya Matahari bertabrakan dengan molekul kecil di atmosfer, seperti nitrogen dan oksigen. Akibatnya, cahaya dengan panjang gelombang pendek seperti biru dan ungu lebih mudah tersebar ke segala arah. Itulah sebabnya langit siang hari tampak biru.

Namun saat senja, posisi Matahari berada lebih rendah di horizon. Cahaya harus menempuh jalur atmosfer yang lebih panjang sebelum sampai ke mata kita. Akibatnya, cahaya biru sudah lebih dulu tersebar habis. Yang tersisa adalah cahaya dengan panjang gelombang lebih panjang seperti merah dan oranye.

2. Kenapa penyebab langit berwarna merah ungu bisa berbeda-beda?

ilustrasi langit senja (freepik.com/nikitabuida)

Mungkin kamu bertanya, kalau penyebabnya sama, kenapa warna senja bisa berbeda setiap hari? Jawabannya ada pada kondisi atmosfer saat itu. Debu, polusi, uap air, dan partikel kecil lain bisa memengaruhi cara cahaya tersebar. Hal ini dikarenakan partikel yang lebih besar dapat memicu jenis hamburan lain yang disebut Mie scattering.

Akibatnya, warna yang muncul bisa lebih pekat atau justru lebih lembut. Jika udara lebih bersih, warna merah dan oranye cenderung tampak jelas. Namun jika banyak partikel di udara, langit bisa terlihat ungu atau bahkan keabu-abuan. Variasi inilah yang membuat fenomena langit senja selalu terasa unik.

3. Peran awan dalam membentuk warna dramatis

ilustrasi langit senja (freepik.com/wirestock)

Selain hamburan cahaya, awan juga punya peran besar dalam sunset. Awan dapat memantulkan dan membiaskan cahaya Matahari yang sudah berubah warna. Itulah sebabnya kadang kita melihat gradasi warna merah, jingga, hingga ungu dalam satu waktu. Struktur awan yang berbeda akan menghasilkan efek visual yang berbeda pula.

Jika awan berada di ketinggian tertentu, cahaya merah yang tersisa akan memantul lebih kuat. Akibatnya, langit tampak dramatis dan memukau. Namun jika langit terlalu tertutup awan tebal, warna senja bisa terlihat lebih redup. Kombinasi hamburan cahaya dan pantulan awan menciptakan pertunjukan alam yang sulit ditebak.

4. Kenapa momen senja saat buka puasa terasa lebih spesial?

ilustrasi langit senja (freepik.com/freepik)

Secara ilmiah, fenomena langit senja memang bisa dijelaskan lewat fisika atmosfer. Namun secara psikologis, warna hangat seperti merah dan oranye memberi efek emosional tertentu. Warna-warna ini sering diasosiasikan dengan rasa tenang dan harapan. Itulah sebabnya momen menunggu azan Magrib terasa lebih syahdu.

Akibatnya, kita bukan hanya menikmati perubahan warna, tapi juga maknanya. Sains sunset membantu kita memahami prosesnya, sementara pengalaman pribadi memberi nilai emosional. Kombinasi keduanya membuat senja terasa lebih dari sekadar perubahan cahaya. Ada rasa takjub yang muncul ketika sains dan perasaan bertemu.

Fenomena langit senja saat buka puasa ternyata bukan kebetulan semata. Penyebab langit berwarna merah ungu berkaitan erat dengan Rayleigh scattering, kondisi atmosfer, dan pantulan awan. Sains sunset menunjukkan bahwa warna-warna indah itu adalah hasil interaksi cahaya dan partikel di udara. Jadi, lain kali saat melihat senja, kamu tahu bahwa di balik keindahannya ada proses fisika yang luar biasa.

Sumber Referensi:

  1. NASA Space Place – Why Is the Sky Blue? Diakses pada Februari 2026.

  2. National Geographic – Red Sky at Night: The Science of Sunsets. Diakses pada Februari 2026.

  3. Encyclopaedia Britannica – Rayleigh Scattering. Diakses pada Februari 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team