5 Fakta Parade Planet di Langit Ramadan 2026, Jangan Sampai Ketinggalan!

- Pada Ramadan 2026, lima hingga enam planet seperti Merkurius, Venus, Saturnus, Jupiter, Uranus, dan Neptunus bisa diamati bertahap setelah senja di langit Indonesia.
- Puncak fenomena terjadi 28 Februari 2026 saat keenam planet berada di langit yang sama; empat di antaranya dapat terlihat tanpa teleskop jika cuaca cerah.
- Perubahan posisi tiap pekan disebabkan pergerakan orbit planet dan Bumi, menjadikan parade ini bukti nyata dinamika tata surya yang bisa dinikmati sepanjang Ramadan.
Ramadan 2026 bukan cuma soal sahur, Tarawih, dan ngabuburit. Tahun ini, langit senja menghadirkan tontonan kosmik yang jarang terjadi, yakni enam planet tampak menghiasi langit dalam satu rentang waktu yang sama. Fenomena yang populer disebut planetary parade ini ramai dibicarakan komunitas astronomi global karena terjadi berdekatan dengan akhir Februari 2026—bertepatan dengan Ramadan di Indonesia.
Tapi jangan salah paham dulu. “Parade” bukan berarti planet-planet itu berbaris lurus sempurna seperti di poster film fiksi ilmiah. Secara ilmiah, ini adalah efek perspektif dari Bumi karena planet-planet mengorbit matahari di bidang yang hampir sama (ekliptika). Dari sudut pandang kita, mereka tampak berderet di langit setelah matahari terbenam. Lalu, kapan tepatnya bisa diamati? Planet apa saja yang terlihat? Yuk, kita bahas satu per satu.
1. Pekan pertama Ramadan, 5 planet sudah nongol setelah senja

Pada awal Ramadan (sekitar 18 sampai 22 Februari 2026, menyesuaikan awal puasa di Indonesia), lima planet sudah bisa diamati dalam rentang waktu berbeda. Menurut laporan prakiraan langit bulanan di EarthSky, Merkurius, Venus, Saturnus, dan Jupiter berada di langit malam, sementara Uranus bisa dideteksi dengan alat bantu optik.
Sekitar 30 hingga 45 menit setelah matahari terbenam, arahkan pandangan ke barat. Venus akan tampak paling terang. Merkurius muncul rendah dekat ufuk barat dan hanya terlihat sebentar. Saturnus sedikit lebih tinggi dari Merkurius. Sementara itu, Jupiter justru bersinar lebih tinggi di langit dan bisa diamati hingga mendekati tengah malam.
Menurut BBC Sky at Night Magazine, cara membedakan planet dan bintang cukup mudah: planet cenderung bersinar stabil (tidak berkelap-kelip sekuat bintang). Pada pekan ini, setidaknya empat planet bisa dilihat tanpa teleskop jika langit cerah dan minim polusi cahaya.
2. Pertengahan Ramadan, formasi makin rapat

Memasuki pertengahan Ramadan (sekitar 23 sampai 27 Februari 2026), posisi planet-planet tampak semakin “rapat” di sepanjang jalur ekliptika. Menurut panduan observasi dari Starwalk.space, ini adalah fase transisi menuju puncak parade pada 28 Februari.
Dalam rentang ini, waktu terbaik mengamati adalah 30 sampai 60 menit setelah matahari terbenam. Venus, Merkurius, dan Saturnus terlihat di barat–barat daya. Jupiter tetap tinggi dan terang di langit timur. Sementara Uranus berada dekat gugus bintang Pleiades dan membutuhkan binokuler untuk terlihat jelas.
Menurut ulasan di BBC Sky at Night Magazine, fenomena multiplanet seperti ini memang tidak super langka, tetapi kombinasi kecerahan dan posisi yang nyaman diamati setelah senja menjadikannya momen yang sayang dilewatkan.
3. 28 Februari 2026, puncak parade 6 planet

Tanggal paling penting untuk dicatat, yaitu Sabtu, 28 Februari 2026. Inilah malam ketika enam planet—Merkurius, Venus, Saturnus, Jupiter, Uranus, dan Neptunus—secara teoritis berada di langit yang sama setelah Matahari terbenam. Informasi ini juga ditegaskan dalam laporan fenomena langit akhir Februari oleh Astronomy Magazine.
Namun, realistisnya, yang bisa dilihat mata telanjang adalah Venus, Jupiter, Saturnus, dan kemungkinan Merkurius (jika horizon bersih). Uranus dan Neptunus memerlukan teleskop kecil karena redup. Menurut EarthSky, jendela observasi terbaik adalah sekitar pukul 18.30 hingga pukul 19.15 waktu lokal Indonesia (menyesuaikan waktu Magrib masing-masing daerah).
Fenomena ini bukan “garis lurus sempurna” seperti ilustrasi viral, melainkan tampilan planet-planet di sepanjang ekliptika. Meski begitu, melihat empat hingga enam planet dalam satu rentang senja tetap menjadi pengalaman astronomi yang mengesankan.
4. Pekan terakhir Ramadan, tinggal 3 planet dominan

Memasuki pekan terakhir Ramadan (awal Maret 2026), beberapa planet mulai tenggelam lebih cepat. Menurut pembaruan posisi dari Starwalk.space, Merkurius dan Saturnus makin sulit terlihat karena mendekati matahari dari perspektif Bumi.
Yang masih dominan adalah Venus (rendah di barat saat magrib), Jupiter (tinggi dan terang hingga tengah malam), serta Uranus yang masih bisa ditemukan dekat Pleiades dengan teleskop. EarthSky mencatat bahwa Jupiter menjadi objek paling stabil dan mudah dikenali sepanjang periode ini.
Artinya, jika kamu melewatkan puncak 28 Februari, masih ada kesempatan menikmati setidaknya tiga planet terang sebelum Ramadan berakhir.
5. Kenapa posisi planet berubah tiap pekan?

Perubahan posisi ini bukan sulap. Planet benar-benar bergerak mengelilingi matahari dengan periode orbit berbeda-beda. Karena Bumi juga bergerak, sudut pandang kita berubah dari hari ke hari. Itulah sebabnya pada pekan kedua Ramadan posisinya sudah berbeda dibanding pekan pertama.
Seperti dijelaskan dalam artikel observasi teleskop oleh Bakich di Astronomy Magazine, fenomena ini justru bukti nyata bahwa tata surya bersifat dinamis. Kita sedang menyaksikan mekanika langit secara langsung, tanpa perlu roket atau satelit.
Ramadan sering identik dengan langit yang lebih sering kita pandangi. Entah saat menunggu berbuka, pulang Tarawih, atau iktikaf ikaf di sepuluh malam terakhir. Tahun 2026 memberi bonus kosmik, berupa kesempatan menyaksikan beberapa planet sekaligus dalam satu rentang bulan suci.
Jadi, jangan cuma sibuk scroll media sosial. Sesekali, tengadah ke langit. Siapa tahu, di antara cahaya Venus dan kilau Jupiter, kamu menemukan rasa takjub yang sama seperti para astronom ratusan tahun lalu. Kalau alam semesta selalu bergerak, dan kita beruntung bisa menyaksikannya.


















