Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kenapa Merkurius Panas Tapi Bukan Planet Terpanas di Tata Surya?

Kenapa Merkurius Panas Tapi Bukan Planet Terpanas di Tata Surya?
ilustrasi Merkurius (commons.wikimedia.org/NASA/Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory/Carnegie Institution of Washington)
Intinya Sih
  • Merkurius bukan planet terpanas meski paling dekat dengan Matahari karena hampir tidak memiliki atmosfer yang mampu menahan panas, menyebabkan perbedaan suhu ekstrem antara siang dan malam.
  • Venus justru menjadi planet terpanas berkat atmosfer tebal kaya karbon dioksida yang menciptakan efek rumah kaca ekstrem, menjebak panas hingga suhu permukaannya stabil sekitar 465 derajat Celsius.
  • Perbedaan utama suhu kedua planet ditentukan oleh keberadaan dan komposisi atmosfer, bukan jarak dari Matahari; Venus menyimpan panas, sedangkan Merkurius membiarkannya lepas begitu saja.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Seperti kita tahu Merkurius adalah planet terdekat dengan Matahari di tata surya. Jaraknya yang begitu dekat membuat banyak orang langsung berasumsi bahwa planet ini pasti yang paling panas. Asumsi itu terasa masuk akal secara intuitif, tapi ternyata salah besar.

Ada satu planet lain yang ternyata suhunya jauh lebih tinggi dan konsisten meski posisinya lebih jauh dari Matahari. Kalau kamu penasaran apa yang sebenarnya menentukan suhu sebuah planet, penjelasannya lebih menarik dari yang dibayangkan. Yuk, simak sama-sama!

1. Merkurius hampir tidak punya atmosfer

Ilustrasi penampang planet Merkurius menampilkan lapisan dalam termasuk inti padat, inti luar cair, mantel berbatu, dan kerak padat.
ilustrasi Merkurius (commons.wikimedia.org/A loose necktie)

Merkurius memiliki atmosfer yang sangat tipis hingga hampir bisa dibilang tidak ada sama sekali. Lapisan gas di sekitar permukaannya disebut eksosfir, bukan atmosfer dalam pengertian yang sesungguhnya. Eksosfir ini terdiri dari atom-atom seperti oksigen, natrium, dan hidrogen yang tersebar sangat jarang. Kepadatannya jauh terlalu rendah untuk bisa menahan atau menyimpan panas dari Matahari.

Tanpa atmosfer yang berarti, panas dari sinar Matahari langsung menghantam permukaan Merkurius dan langsung terlepas kembali ke luar angkasa saat malam tiba. Sisi yang menghadap Matahari bisa mencapai suhu sekitar 430 derajat Celsius. Tapi begitu sisi itu memasuki malam, suhunya anjlok hingga minus 180 derajat Celsius. Perbedaan suhu yang sangat ekstrem ini terjadi justru karena gak ada atmosfer yang bisa menjadi penyangga termal.

2. Venus punya atmosfer tebal yang menjebak panas

Ilustrasi struktur internal planet Venus menampilkan lapisan atmosfer, permukaan, mantel, dan inti dengan suhu serta komposisi gas.
ilustrasi atmosfer Venus (commons.wikimedia.org/Andrea Pittalis)

Venus adalah planet kedua dari Matahari dan jaraknya hampir dua kali lipat lebih jauh dari Merkurius ke Matahari. Meski begitu, suhu rata-rata permukaannya mencapai sekitar 465 derajat Celsius secara konstan. Venus memiliki atmosfer yang sangat tebal dengan tekanan permukaan sekitar 92 kali lipat tekanan atmosfer bumi. Atmosfer itu hampir seluruhnya tersusun dari karbon dioksida dengan awan tebal asam sulfat di lapisan atasnya.

Kombinasi gas-gas ini menciptakan efek rumah kaca yang ekstrem dan gak terkendali. Panas dari Matahari masuk menembus awan Venus tapi gak bisa keluar karena terperangkap oleh karbon dioksida. Proses ini terus berjalan tanpa henti selama miliaran tahun sehingga suhu permukaan Venus terus menumpuk. Hasilnya adalah suhu yang cukup panas untuk melelehkan timbal dan berlangsung sama stabilnya baik siang maupun malam.

3. Efek rumah kaca adalah kunci perbedaannya

Ilustrasi efek rumah kaca yang menunjukkan sinar matahari masuk ke atmosfer bumi, sebagian dipantulkan dan sebagian terperangkap oleh gas rumah kaca.
ilustrasi efek rumah kaca (commons.wikimedia.org/A loose necktie)

Efek rumah kaca adalah proses di mana gas-gas tertentu di atmosfer menyerap radiasi inframerah dan memancarkannya kembali ke permukaan planet. Gas seperti karbon dioksida, metana, dan uap air dikenal sebagai gas rumah kaca karena kemampuannya melakukan hal ini. Venus memiliki konsentrasi karbon dioksida di atmosfer yang mencapai sekitar 96 persen. Jumlah itu jauh melampaui ambang batas yang diperlukan untuk menciptakan efek rumah kaca yang mematikan.

Di Bumi, efek rumah kaca dalam kadar wajar justru berguna karena membuat suhu planet cukup hangat untuk mendukung kehidupan. Tapi di Venus, prosesnya sudah berjalan jauh melampaui titik keseimbangan. Setiap joule energi yang masuk dari Matahari hampir semuanya tersimpan di dalam sistem. Merkurius sebaliknya, gak punya mekanisme penyimpanan panas sama sekali sehingga energi masuk dan keluar dengan bebas.

4. Rotasi Merkurius yang sangat lambat memperparah kondisinya

Ilustrasi orbit Merkurius dan Bumi di antara bintang-bintang dengan lintasan elips planet TIC 241249530 b yang ditandai di ruang angkasa.
ilustrasi rotasi Merkurius (commons.wikimedia.org/NOIRLab/NSF/AURA/R. Proctor)

Merkurius berputar pada sumbunya dengan sangat lambat dibanding planet lain. Satu hari di Merkurius setara dengan sekitar 59 hari Bumi. Artinya, satu sisi planet menghadap Matahari dalam waktu yang sangat lama sebelum akhirnya memasuki sisi malam. Sisi yang terpapar Matahari mendapat bombardemen panas terus-menerus tanpa jeda selama berminggu-minggu dalam hitungan waktu Bumi.

Kondisi ini membuat suhu di sisi siang Merkurius naik sangat tinggi karena pemanasan berlangsung dalam durasi panjang. Tapi begitu sisi itu berbalik menjauhi Matahari, gak ada mekanisme apapun yang mempertahankan panas itu. Suhu langsung terjun bebas ke angka negatif yang ekstrem karena gak ada selimut atmosfer.

5. Albedo Venus juga berperan dalam dinamika suhunya

Ilustrasi planet Venus berwarna kekuningan dengan permukaan tertutup awan tebal terlihat di angkasa luar berlatar belakang bintang.
ilustrasi Venus (commons.wikimedia.org/Sbb1413)

Albedo adalah ukuran seberapa banyak cahaya yang dipantulkan kembali oleh permukaan atau atmosfer sebuah objek. Nilai albedo berkisar dari 0 yang berarti menyerap semua cahaya hingga 1 yang berarti memantulkan semua cahaya. Venus memiliki albedo sekitar 0,7 yang termasuk sangat tinggi karena awan tebalnya memantulkan banyak cahaya Matahari. Artinya, hanya sebagian cahaya yang benar-benar masuk ke permukaan Venus.

Fakta ini terdengar kontradiktif karena Venus sangat panas padahal banyak memantulkan cahaya. Kuncinya ada pada cahaya yang berhasil masuk meski jumlahnya lebih sedikit. Begitu cahaya itu masuk dan berubah menjadi panas di permukaan, panas tersebut gak bisa keluar karena terperangkap atmosfer. Merkurius justru punya albedo yang rendah, sekitar 0,07, artinya permukaannya menyerap hampir semua cahaya tapi tetap gak bisa menyimpannya karena gak ada atmosfer yang membantu.

Suhu sebuah planet bukan hanya soal seberapa dekat ia dengan Matahari. Atmosfer, komposisi gas, dan kemampuan menyimpan panas jauh lebih menentukan kondisi termal sebuah planet daripada jarak semata. Venus adalah bukti paling jelas bahwa faktor-faktor itu bisa mengalahkan logika kalau Merkurius bukan planet terpanas.

Referensi:

"Mercury Facts." NASA. Diakses pada April 2026

"Surprise: Mercury isn’t the Solar System’s hottest planet" Big Think. Diakses pada April 2026

"Planet Mercury." NHM. Diakses pada April 2026

"Venus is the hottest planet, even though Mercury is closer to the Sun. This is why." BBC Sky at Night Magazine. Diakses pada April 2026

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina
Follow Us

Related Articles

See More