Strawberry Moon dengan posisi lebih rendah (unsplash.com/Mohammed Shaheen)
Ini dia alasan ketiga yang sering bikin orang makin terpukau: posisi bulan purnama di bulan Juni cenderung lebih rendah di langit malam, apalagi buat yang tinggal di belahan bumi utara. Karena posisinya itu, cahaya bulan bisa tampak lebih oranye kemerahan, bikin suasana terasa lebih dramatis dan magis.
Fenomena ini terjadi karena sudut orbit bulan terhadap horizon kita membuatnya terlihat lebih dekat ke cakrawala. Ketika cahaya bulan harus melewati lebih banyak atmosfer, warnanya jadi lebih hangat. Mirip seperti matahari terbenam. Ini bukan hanya cantik dilihat, tapi juga memperkuat identitas visual dari si Strawberry Moon.
Nah, perpaduan antara momen musim, posisi bulan, dan cahaya yang lebih hangat ini jadi ciri khas tersendiri. Dan semua itu tercipta secara alami di bulan Juni, gak terjadi di bulan-bulan lain. Jadi tidak heran kalau bulan ini jadi jadwal tetap buat si bulan purnama paling manis di sepanjang tahun.
Jadi, kalau tahun depan kamu lihat Strawberry Moon lagi, kamu udah tahu kenapa dia munculnya selalu di bulan Juni. Bukan karena iseng, tapi karena alam punya cara tersendiri buat menunjukkan bahwa waktu dan siklus hidup itu selalu punya pola. Manisnya bulan ini bukan cuma di namanya, tapi juga di kisah dan maknanya.