Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Lebaran di 5 Kekhalifahan Islam, dari Sederhana hingga Mewah

Lebaran di 5 Kekhalifahan Islam, dari Sederhana hingga Mewah
Masjid Suleiman Turki (AhmetSelcuk, CC BY 3.0, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Perayaan Idul Fitri di masa Khulafaur Rasyidin berlangsung sederhana, berfokus pada salat Ied, khutbah nasihat, dan tradisi saling bermaafan serta berbagi melalui zakat fitrah.
  • Dalam kekhalifahan Umayyah hingga Abbasiyah, Lebaran berkembang menjadi perayaan megah dengan takbir semalam suntuk, prosesi istana terbuka, hadiah khalifah, dan hidangan mewah khas Baghdad.
  • Era Fatimiyah dan Utsmaniyah menampilkan kemeriahan prosesi Kairo hingga Istanbul dengan kue qatayef, baklava, lentera fawanees, serta tradisi keluarga dan pemberian uang layaknya THR.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Lebaran atau Idul Fitri adalah momen kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa. Tradisi yang kita kenal sekarang—salat Ied, silaturahmi, hingga hidangan khas—ternyata sudah dirayakan sejak masa Kekhalifahan Islam, dengan cara yang unik di setiap zamannya. Mulai dari kesederhanaan ala Khulafaur Rasyidin hingga kemegahan protokol istana Ottoman. Berikut 5 fakta menarik perayaan Lebaran di lima kekhalifahan besar dalam sejarah Islam.

1. Khulafaur Rasyidin (632–661 M): Sederhana, Penuh Khutbah, dan Langsung Bermaaf-maafan

Miniatur Khulafur Rasyidin
Miniatur Khulafur Rasyidin (Anonim, Public domain, via Wikimedia Commons)

Di masa empat khalifah pertama setelah Rasulullah, perayaan Idul Fitri dirayakan dengan sangat sederhana namun khidmat. Pusat perayaan adalah masjid dan lapangan terbuka (mushalla). Khalifah Umar bin Khattab dikenal sangat menekankan kesederhanaan; ia melarang umatnya berlebihan dalam berpakaian atau makanan.

Salah satu tradisi yang sudah ada sejak masa ini adalah khutbah Idul Fitri yang berisi nasihat dan pengingat untuk terus istiqomah setelah Ramadan. Setelah salat, kaum muslimin saling bersalaman dan bermaaf-maafan. Tradisi ini kemudian menjadi akar dari silaturahmi Lebaran yang kita kenal sekarang. Tak ada pesta mewah, karena prioritas saat itu adalah solidaritas dan berbagi dengan fakir miskin melalui zakat fitrah yang diwajibkan sebelum salat Ied.

2. Kekhalifahan Umayyah (661–750 M): Kemegahan di Damaskus dan Takbir Sepanjang Malam

Kekhalifahan Umayyah
Ilustrasi Kekhalifahan Umayyah (Rumomo, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Di era Bani Umayyah dengan pusat pemerintahan di Damaskus, perayaan Idul Fitri mulai menunjukkan kemegahan. Khalifah dan para pejabat tinggi mengenakan pakaian terbaik dan berjalan menuju masjid dalam iring-iringan pengawal. Masjid Umayyah Damaskus yang megah menjadi saksi ribuan umat yang memadati pelataran untuk salat Ied.

Salah satu fakta unik adalah pengeras suara takbir yang menggema sepanjang malam dari menara-menara masjid. Pemerintah Umayyah secara khusus menugaskan para muadzin untuk mengumandangkan takbir sejak malam takbiran hingga pagi hari, menciptakan suasana meriah di seluruh kota. Tradisi ini kemudian diadopsi oleh kekhalifahan setelahnya dan menjadi ciri khas Idul Fitri di dunia Islam hingga kini.

3. Kekhalifahan Abbasiyah (750–1258 M): Istana Terbuka, Hadiah Khalifah, dan Hidangan Mewah

Khalifah Al-Ma'mun
Lukisan Khalifah Al-Ma'mun (1598 author, Public domain, via Wikimedia Commons)

Baghdad pada masa Abbasiyah adalah pusat peradaban dunia. Perayaan Idul Fitri menjadi ajang unjuk kekuasaan dan kemurahan hati khalifah. Istana Khalifah di Baghdad dibuka untuk umum setelah salat Ied. Rakyat biasa dapat bersalaman dengan khalifah dan menerima hadiah berupa uang atau pakaian.

Tradisi yang menarik adalah "al-Jawa'iz" (pemberian hadiah) dari khalifah kepada para pejabat, ulama, dan penyair. Khalifah Al-Ma'mun, misalnya, dikenal sangat dermawan di hari raya. Hidangan Lebaran di istana pun sangat mewah: domba panggang, manisan khas Persia seperti baklava, dan minuman dingin dari salju yang didatangkan dari pegunungan. Bahkan, para sejarawan mencatat adanya pasar malam dan pertunjukan sulap yang meramaikan malam takbiran di tepi Sungai Tigris.

4. Kekhalifahan Fatimiyah (909–1171 M): Prosesi Mewah di Kairo dan Kue Khusus "Qatayef"

Al-Azhar
Universitas Al-Azhar (Ashashyou, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)

Berpusat di Kairo, dinasti Syiah Ismailiyah ini mengembangkan protokol perayaan Idul Fitri yang sangat detail. Khalifah Fatimiyah melakukan prosesi besar dari Istana Timur ke Masjid Al-Azhar atau Masjid Al-Hakim dengan diiringi ribuan prajurit, pejabat, dan pembawa hadiah. Rute prosesi dihiasi permadani dan wewangian.

Fakta menarik dari masa Fatimiyah adalah tradisi kuliner: mereka memperkenalkan kue qatayef (atau katayif) sebagai hidangan khas Lebaran. Qatayef adalah pancake isi kacang atau keju yang digoreng dan direndam dalam sirup manis. Hingga kini, qatayef masih menjadi kue wajib Idul Fitri di Mesir dan seluruh Timur Tengah. Malam takbiran di Kairo juga dimeriahkan dengan lentera warna-warni yang disebut fawanees—tradisi yang konon berasal dari masa ini.

5. Kekhalifahan Utsmaniyah (1299–1924 M): Perayaan Dua Hari, Baklava, dan "Boyacılık" ala Turki

Ottoman
Wanita Ottoman (Pera Museum, Public domain, via Wikimedia Commons)

Kesultanan Utsmaniyah (Turki Ottoman) merayakan Idul Fitri selama tiga hari penuh (seperti sekarang). Tradisi yang paling ikonik adalah berkumpulnya keluarga besar di rumah tertua, saling mencium tangan, dan menikmati hidangan manis, terutama baklava dan lokum (Turkish delight). Istana Topkapi di Istanbul menggelar upacara resmi yang disebut "Bayramlaşma" , di mana sultan menerima ucapan selamat dari pejabat dan prajurit.

Uniknya, di Turki Ottoman ada tradisi "Boyacılık" (mewarnai). Anak-anak kecil yang baru pertama kali berpuasa akan dihias dengan pacar atau cat alami di tangan mereka sebagai tanda kebanggaan. Tradisi lain adalah memberikan amplop berisi uang receh kepada anak-anak yang berkunjung, mirip dengan "THR" di Indonesia. Perayaan juga diramaikan dengan pertunjukan Karagöz dan Hacivat (wayang kulit bayangan) di alun-alun kota.

Dari Damaskus hingga Istanbul, dari kesederhanaan hingga kemegahan, semangat Idul Fitri tetap sama: kemenangan spiritual, kebersamaan, dan berbagi kebahagiaan. Tradisi-tradisi ini kemudian menyebar ke seluruh dunia Islam, termasuk Nusantara, dan berakulturasi dengan budaya lokal membentuk wajah Lebaran yang kita kenal saat ini. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina
Follow Us

Latest in Science

See More