Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mengapa Ada Negara yang Tidak Memiliki Bandara?

5 min read
Mengapa Ada Negara yang Tidak Memiliki Bandara?
Vatican, negara yang tidak memiliki bandara (unsplash.com/Caleb Miller)
  • Sejumlah negara seperti Vatican City dan Monaco tidak memiliki bandara karena wilayahnya sangat kecil dan padat, sehingga tidak tersedia ruang untuk landasan pacu serta fasilitas pendukung.

  • Andorra dan Liechtenstein terkendala medan pegunungan; sementara biaya pembangunan, pengoperasian, dan perawatan bandara dinilai kurang sepadan bagi negara berpenduduk serta berwilayah kecil.

  • Ketiadaan bandara tidak membuat negara-negara tersebut terisolasi karena mereka memanfaatkan bandara negara tetangga, lalu terhubung melalui mobil, bus, kereta, atau helikopter.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bayangkan kamu hendak berkunjung ke sebuah negara, tetapi saat mencari tiket pesawat, kamu tidak menemukan satu pun penerbangan yang mendarat di negara tersebut. Bukan karena penerbangannya sedang sepi atau bandara sedang ditutup. Memang tidak ada bandara di sana. Kondisi ini mungkin terdengar aneh, mengingat pesawat kini menjadi salah satu moda transportasi utama untuk bepergian antarnegara.

Namun, beberapa negara memang tidak memiliki bandara di dalam wilayahnya. Meski begitu, ketiadaan bandara ternyata tidak serta-merta membuat negara tersebut terisolasi. Lalu, bagaimana penduduk dan wisatawan bisa bepergian ke sana? Dan mengapa negara-negara tersebut memilih tidak memiliki bandara sendiri?

  1. 1. Wilayah negaranya terlalu kecil

    Salah satu alasan paling sederhana adalah keterbatasan lahan. Bandara membutuhkan area yang luas, bukan hanya untuk landasan pacu, tetapi juga terminal, fasilitas navigasi, area keamanan, serta zona di sekitar landasan.

    Vatican City menjadi contoh paling jelas. Dengan luas wilayah hanya sekitar 0,44 kilometer persegi, negara ini terlalu kecil untuk memiliki bandara konvensional. Letaknya pun berada di tengah Kota Roma, Italia, sehingga pembangunan landasan pacu hampir tidak mungkin dilakukan.

    Hal serupa terjadi di Monaco. Negara kota yang berada di pesisir Prancis ini memiliki luas sekitar 2 kilometer persegi dan wilayahnya sudah sangat padat. Daripada mengorbankan ruang yang terbatas untuk bandara, Monaco mengandalkan fasilitas penerbangan di sekitarnya.

  2. 2. Kondisi geografis tidak mendukung

    Ukuran wilayah bukan satu-satunya masalah. Bentuk dan kondisi geografis juga sangat menentukan apakah sebuah bandara bisa dibangun. Andorra, misalnya, berada di kawasan Pegunungan Pyrenees yang terletak di antara Prancis dan Spanyol. Sebagian besar wilayahnya berupa pegunungan dengan kontur yang sulit. Padahal, pesawat komersial membutuhkan landasan yang relatif panjang, datar, dan aman untuk lepas landas maupun mendarat.

    Membangun landasan di kawasan seperti itu tentu membutuhkan pekerjaan konstruksi yang sangat besar. Pemerintah harus mengubah kontur tanah, membangun infrastruktur pendukung, dan menghadapi berbagai persoalan lingkungan.

    Liechtenstein juga menghadapi kendala serupa. Negara kecil yang berada di antara Swiss dan Austria ini terletak di kawasan Alpen dan memiliki banyak wilayah dengan medan yang tidak mudah digunakan untuk pembangunan landasan pacu.

  3. 3. Membangun bandara belum tentu sepadan dengan biayanya

    ilustrasi check-in di bandara
    ilustrasi check-in di bandara (pexels.com/dongfang xiaowu)

    Bandara bukan sekadar landasan pacu dan gedung terminal. Pembangunannya membutuhkan investasi besar, mulai dari pembebasan lahan, konstruksi, sistem keamanan, pengatur lalu lintas udara, hingga biaya operasional dan perawatan.

    Untuk negara yang wilayah dan jumlah penduduknya kecil, jumlah penumpang mungkin tidak cukup besar untuk membuat investasi tersebut masuk akal secara ekonomi.

    Daripada mengeluarkan biaya besar untuk membangun bandara sendiri, negara-negara kecil tersebut dapat memanfaatkan bandara internasional di negara tetangga. Pilihan ini memungkinkan mereka tetap mendapatkan akses ke berbagai tujuan penerbangan tanpa harus menanggung seluruh biaya infrastrukturnya.

  4. 4. Bandara negara tetangga sudah cukup dekat

    Tidak memiliki bandara sendiri bukan berarti tidak memiliki akses ke penerbangan. Contohnya, Vatican City berada di dalam Roma sehingga penduduk dan wisatawan dapat menggunakan bandara yang melayani ibu kota Italia. San Marino juga dapat mengandalkan jaringan transportasi Italia.

    Sementara itu, Monaco memiliki akses ke Nice Côte d'Azur Airport di Prancis. Dari bandara tersebut, perjalanan menuju Monaco dapat dilanjutkan menggunakan mobil atau bahkan helikopter.

    Liechtenstein dapat dijangkau melalui sejumlah bandara di Swiss. Sedangkan, wisatawan yang menuju Andorra dapat menggunakan bandara di sekitar Spanyol dan Prancis. Dengan kata lain, negara-negara tersebut tidak harus memiliki bandara sendiri karena fasilitas penerbangan internasional sudah tersedia dalam jarak yang relatif mudah dijangkau.

  5. 5. Transportasi darat menjadi penghubung utama

    Bagi negara yang berada di tengah daratan Eropa, perjalanan menuju bandara di negara tetangga bisa menjadi hal yang cukup praktis. Setelah pesawat mendarat, perjalanan dapat dilanjutkan menggunakan mobil, bus, kereta, atau layanan transportasi lainnya. Bagi negara yang wilayahnya sangat kecil, tambahan waktu perjalanan melalui jalur darat ini sering kali lebih masuk akal daripada membangun bandara baru.

    Kondisi tersebut juga menunjukkan bahwa konektivitas sebuah negara tidak hanya bergantung pada keberadaan bandara di dalam wilayahnya. Jaringan jalan, kereta api, serta kedekatan dengan pusat transportasi negara lain juga berperan besar.

  6. Tidak punya bandara bukan berarti terisolasi

    Bandara Noi Bai, Vietnam
    ilustrasi bandara (pexels.com/Toàn Văn)

    Ketiadaan bandara mungkin terdengar seperti hambatan besar bagi sebuah negara. Namun, kenyataannya tidak selalu demikian.

    Vatican City dan San Marino memiliki akses mudah ke jaringan transportasi Italia. Monaco terhubung dengan bandara internasional di Nice. Sementara itu, Liechtenstein dan Andorra dapat memanfaatkan bandara di negara-negara yang berbatasan dengannya.

    Bahkan, Monaco memiliki layanan helikopter yang menghubungkannya dengan Nice dalam waktu singkat. Artinya, wisatawan tetap dapat mencapai negara tersebut dengan relatif mudah meskipun tidak ada pesawat komersial yang mendarat langsung di dalam wilayahnya.

    Pada akhirnya, keberadaan bandara sangat bergantung pada kebutuhan dan kondisi sebuah negara. Bagi negara dengan wilayah luas dan jumlah penduduk besar, bandara bisa menjadi infrastruktur penting untuk mendukung mobilitas, perdagangan, pariwisata, dan berbagai kebutuhan lainnya. Namun, bagi negara yang sangat kecil atau memiliki medan geografis yang sulit, membangun bandara sendiri belum tentu menjadi pilihan yang paling praktis. 

    Referensi

    Ferrovial. Diakses pada September 2026. These Five Countries Have No Airport (Because There’s No Space)
    Money Control. Diakses pada September 2026. No Airport. No Currency. No Language of Its Own. Yet This Tiny Country is One of the World’s Richest 
    Travel and Tour World. Diakses pada September 2026. Vatican City Reveals the World’s Smallest Nations and Their Extraordinary Global Power
    Unearth the Voyage. Diakses pada September 2026. 5 Countries in the World That Don’t Have a Single Airport

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More