Anak panda yang baru lahir sangat bergantung pada induknya untuk mendapatkan susu dan perlindungan karena mereka belum bisa melihat, mendengar, atau merangkak. Mereka begitu tak berdaya hingga tidak mampu mengatur suhu tubuh atau bahkan buang air sendiri pada minggu-minggu pertama kehidupannya.
Oleh karena itu, induknya harus mengurus keduanya, menggendong anak-anaknya untuk menjaga kehangatan dan menggosok perut mereka guna merangsang otot agar mengeluarkan urin dan feses. Pada minggu-minggu awal ini, induk panda tidak meninggalkan anak-anaknya, bahkan ketika mereka perlu makan atau minum.
Menjadi ibu adalah tugas yang sangat berat sehingga panda yang melahirkan anak kembar seringkali hanya bisa merawat satu—dan terpaksa meninggalkan yang lain. Di penangkaran, para ilmuwan turun tangan untuk merawat anak yang terabaika, bahkan mencoba menukar anak-anak panda tersebut untuk memastikan keduanya mendapatkan perhatian dan susu dari induknya.
Meskipun perkembangannya di dalam rahim tidak terlalu pesat, bayi panda segera mengejar ketertinggalannya. Dalam waktu 48 jam, bulu putih mulai menutupi kulit merah mudanya, diikuti oleh corak hitam di sekitar mata dan di tubuhnya. Dalam waktu sekitar tiga minggu, bulunya sudah tumbuh lengkap.
Panda mulai mandiri dari induknya pada usia sekitar lima bulan. Mereka meninggalkan sarangnya untuk pertama kalinya dan belajar berjalan, memanjat, serta makan makanan padat. Setahun berikutnya, mereka sepenuhnya mempersiapkan diri menuju masa dewasa.
Pada usia lima bulan, anak panda telah berkembang secara kognitif hingga titik di mana penjaga dapat memulai pelatihan yang akan memungkinkan mereka untuk memvaksinasi anak panda, serta melakukan pemeriksaan kesehatan lengkap (termasuk pengambilan darah).