Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Dampak Bediding terhadap Tanaman Holtikultura, Petani Wajib Tahu!

5 Dampak Bediding terhadap Tanaman Holtikultura, Petani Wajib Tahu!
Ilustrasi embun upas akibat bediding (pexels.com/Anna Stepko)
Share Article

Pernahkah kamu merasakan udara pagi yang tiba-tiba menusuk tulang di tengah musim kemarau? Fenomena itulah yang disebut dengan bediding, kondisi khas tropis ketika suhu udara turun drastis pada malam hingga menjelang fajar. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa fenomena bediding terjadi akibat tiupan angin monsun Australia yang bersifat kering, sehingga siang terasa terik namun malam berubah sangat dingin. Bagi petani holtikultura, momen ini bukan sekadar pergantian suhu, melainkan ancaman serius yang mengintai hasil kebun. Lantas, apa saja dampak bediding terhadap tanaman? Yuk, simak daftar berikut ini!

1. Embun beku yang membakar jaringan daun

Potret embun beku pada tanaman
Potret embun beku pada tanaman (commons.wikimedia.org/Gerda Arendt)

Dampak paling dramatis dari bediding adalah kemunculan embun upas atau embun beku (frost) di dataran tinggi. Embun ini adalah uap air yang membeku menjadi kristal es di permukaan tanaman, yang oleh petani setempat dianggap beracun serupa “upas”. Kala kristal es ini menempel, ia merusak struktur sel daun dan jaringan tanaman layaknya luka bakar dingin, menyebabkan daun layu, mengering, lalu akhirnya mati.

Di kawasan Dieng, suhu permukaan rumput sempat mencapai -6°C pada Juli 2026. Bahkan, BMKG memprediksi suhu mampu turun sampai 0°C, kondisi yang memicu pembentukan embun beku. Fenomena bediding pun pernah merusak 200 hektar lahan kentang di Dieng serta 5 hektar lahan di Pengalengan, memaksa petani memanen lebih awal dengan kualitas umbi yang menurun.

2. Gangguan fisiologis dan penurunan kualitas hasil panen

Ilustrasi hasil panen terung yang cacat
Ilustrasi hasil panen terung yang cacat (pexels.com/Atlantic Ambience)

Dingin ekstrem bukan cuma bikin tanaman menggigil, tetapi juga mengacaukan proses fisiologis penting di dalam tubuh tanaman. Penelitian ilmiah mengungkap, cekaman dingin pada tanaman holtikultura menyebabkan penurunan aktivitas enzim antioksidan sekaligus peningkatan akumulasi Reactive Oxygen Species (ROS) atau radikal bebas beracun dalam sel. Efeknya, membran sel rusak, kandungan klorofil menurun, dan proses fotosintesis terganggu.

Dampak ini sangat terasa pada tanaman terung dan sayuran Brassica. Suhu dingin menghambat pertumbuhan, membuat bunga dan buah rontok, bahkan menyebabkan buah cacat atau lambat membesar. Hal ini tentu merugikan secara kuantitas maupun kualitas jual. Sayuran hasil panen lebih cepat busuk dan kehilangan daya tarik di mata konsumen, yang berarti kerugian finansial langsung bagi petani.

3. Memperparah serangan hama dan penyakit tanaman

Potret lalat buah di daun tanaman
Potret lalat buah di daun tanaman (pexels.com/Erik Karits)

Bediding tidak bekerja sendirian. Ia seringkali membuka pintu bagi serangan hama dan penyakit. Kondisi kabut serta dingin menciptakan lingkungan ideal bagi berkembangbiaknya patogen penyebab penyakit, terutama yang bersifat virus dan bakteri. Tanaman yang sedang stres karena suhu dingin mempunyai sistem pertahanan lemah, sehingga lebih mudah terserang.

Di musim tanam kemarau atau MT2, hama lalat buah merupakan ancaman signifikan. Begitu tanaman holtikultura tengah memasuki fase pembuahan, serangan hama ini dapat berdampak buruk pada hasil akhir. Dengan kata lain, petani tidak hanya berjuang melawan dingin, melainkan juga harus ekstra waspada akan serangan hama dan penyakit yang datang ”mengambil kesempatan dalam kesempitan”.

4. Risiko gagal panen dan kerugian ekonomi petani

Ilustrasi tomat tidak layak jual
Ilustrasi tomat tidak layak jual (pixabay com/atimedia)

Risiko gagal panen adalah gabungan dari semua dampak di atas. Ketika daun rusak akibat embun beku, pertumbuhan terhambat, dan serangan hama merebak, maka kuantitas serta kualitas panen pasti anjlok. Dalam kasus ekstrem, seluruh lahan yang seharusnya menghasilkan untung malah jadi “pahit”. Hasil panen tidak layak dijual sama sekali.

Di Indonesia, kerugian bertambah berat lantaran mayoritas petani holtikultura masih berorientasi pada produksi dan memiliki akses pemasaran yang terbatas, seringkali mengandalkan tengkulak. Saat hasil panen rusak, posisi tawar petani semakin lemah. Mereka berakhir menanggung beban kerugian seorang diri. Organisasi pertanian yang lemah bikin petani sulit beradaptasi dan mencari solusi kolektif demi menghadapi tantangan iklim ini.

5. Ancaman berkelanjutan bagi produktivitas lahan

Potret lahan perkebunan stroberi
Potret lahan perkebunan stroberi (pexels.com/Mark Stebnicki)

Bediding bukan masalah musiman belaka. Paparan dingin ekstrem yang berulang tiap tahun berpotensi mengubah struktur dan kesuburan tanah, khususnya di lahan pertanian dataran tinggi yang rapuh. Kentang dan stroberi memang tumbuh subur di kisaran 15-22°C, tapi fluktuasi suhu yang melonjak ke titik beku bisa merusak keseimbangan ekosistem mikro di dalam tanah.

Sebagai respons, Pemerintah Kota Batu, misalnya, mendorong penggunaan green house untuk mengontrol suhu dan melindungi tanaman. Namun, tidak semua petani punya akses ke teknologi ini. Maka dari itu, langkah antisipasi sederhana seperti menyiram tanaman di sore hari, boleh menjadi alternatif yang lebih ringan diterapkan.

Dengan memahami dan mengantisipasi kelima dampak di atas, petani bisa lebih siap dan tangguh. Mari dukung para petani kita agar tetap produktif walau suhu malam terus merunduk!

Referensi :

Raza, M. A., Sohail, H., Hassan, M. A., Sajad, S., Xing, Y., & Song, J. (2024). Cold stress in Brassica vegetables: Morpho-physiological and molecular responses underlying adaptive mechanism. Scientia Horticulturae, 329, 113002.

Cai, P., Lan, Y., Gong, F., Li, C., Xia, F., Li, Y., & Fang, C. (2024). Comparative physiology and transcriptome response patterns in cold-tolerant and cold-sensitive varieties of Solanum melongena. BMC Plant Biology, 24(1), 256.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More