Sundew, atau dalam bahasa ilmiah dikenal dengan genus Drosera, merupakan salah satu tumbuhan karnivora yang tersebar luas di hampir setiap benua, terutama di Australia. Tumbuhan ini paling sering ditemukan di rawa dan lahan basah dengan tanah asam berpasir yang minim kandungan nutrisi. Kondisi tanah seperti inilah yang membuat sundew beradaptasi dengan cara yang tidak biasa dibandingkan dengan tumbuhan pada umumnya.
Sundew, Tumbuhan Karnivora Menangkap Mangsa dengan Lendir

- Sundew atau Drosera adalah tumbuhan karnivora yang hidup di rawa dan lahan basah bertanah asam, berpasir, serta miskin nutrisi; genus ini mencakup sekitar 152 spesies.
- Daunnya memiliki rambut kelenjar berlendir yang menarik sekaligus merekatkan serangga. Tentakel dan daun lalu melengkung melalui respons sentuhan untuk mengunci mangsa sebelum enzim mencerna tubuhnya.
- Karnivora menjadi adaptasi sundew untuk memperoleh nitrogen, fosfor, kalium, dan mineral dari serangga. Drosera glanduligera di Australia bahkan memakai tentakel pelontar cepat menuju jebakan lengket.
Ciri paling khas dari sundew terletak pada daunnya yang dipenuhi rambut kelenjar penghasil lendir lengket, sehingga terlihat berkilau menyerupai embun. Penampilannya memang terlihat menarik, tapi di balik itu, sundew punya cara yang mematikan untuk menjebak mangsanya. Penasaran dengan keunikan tanaman pemakan serangga yang satu ini? Yuk, simak 5 fakta menarik Sundew di bawah ini!
1. Lendirnya berfungsi sebagai umpan sekaligus perekat mematikan

Dilansir National Wildlife Federation, kelenjar pada tentakel sundew menghasilkan cairan yang berfungsi ganda, yaitu sebagai nektar untuk menarik perhatian mangsa sekaligus perekat kuat untuk menjebaknya. Begitu serangga menyentuh cairan tersebut, tentakel di sekitarnya akan melingkar dan menutup mangsa hingga tidak bisa bergerak. Tampilan lendir yang berkilau menyerupai tetesan embun inilah yang justru menjadi jebakan paling efektif. Serangga yang tertarik mendekat karena mengira ada sumber makanan, pada akhirnya malah terjebak dan tidak bisa melepaskan diri.
2. Daunnya bergerak melengkung untuk mengunci mangsa

Laman Biology Insights menjelaskan bahwa begitu serangga terjebak dan mulai meronta, tentakel-tentakel di sekitarnya perlahan menekuk ke arah mangsa, bahkan seluruh permukaan daun bisa ikut melengkung untuk memperluas area kontak dengan tubuh serangga tersebut. Gerakan ini dikenal dengan istilah thigmonasti, respons tumbuhan terhadap sentuhan fisik. Setelah mangsa benar-benar terkunci, sundew mulai melepaskan enzim pencernaan langsung ke tubuh serangga. Proses ini berlangsung secara bertahap, sehingga mangsa yang tertangkap nyaris tidak punya kesempatan untuk melarikan diri sejak awal terjebak.
3. Menjadi karnivora karena hidup di tanah yang minim nutrisi

Dilansir Green Garden, sundew tidak berevolusi menjadi karnivora karena kekurangan sinar matahari, melainkan karena tumbuh di lingkungan dengan kandungan nitrogen dan fosfor yang sangat rendah di dalam tanah. Kondisi tanah seperti ini biasanya lembap sepanjang waktu, tetapi sangat miskin unsur hara yang penting bagi pertumbuhan tanaman. Dengan menangkap serangga, sundew bisa memperoleh nitrogen, fosfor, kalium, dan berbagai mineral lain yang sulit didapatkan dari tanah tempatnya tumbuh. Strategi ini menjadi cara adaptasi yang efektif agar tanaman tetap bisa berkembang meski berada di lingkungan yang minim nutrisi.
4. Terdiri dari sekitar 152 spesies yang tersebar di berbagai belahan dunia

Laman Britannica menjelaskan bahwa, genus sundew atau Drosera mencakup sekitar 152 spesies tumbuhan karnivora yang tersebar luas di kawasan tropis maupun wilayah beriklim sedang. Sundew umumnya ditemukan di daerah rawa dan lahan basah dengan tanah asam berpasir. Meski jumlah spesiesnya cukup banyak, hampir semuanya memiliki ciri khas serupa, yaitu bunga kecil berwarna putih atau merah muda dengan lima kelopak yang tumbuh menghadap ke bawah. Beberapa spesies bahkan dibudidayakan sebagai tanaman hias karena bentuk jebakannya yang unik.
5. Salah satu spesies sundew bisa melontarkan mangsanya dalam hitungan milidetik

Dilansir National Geographic, spesies sundew langka bernama Drosera glanduligera dari Australia memiliki dua jenis tentakel berbeda, yaitu tentakel lengket biasa dan tentakel pelontar yang tidak menghasilkan lendir sama sekali. Begitu serangga menyentuh tentakel pelontar ini, tentakel tersebut akan bergerak cepat melemparkan mangsanya langsung ke bagian tengah daun yang dipenuhi tentakel lengket. Kecepatan gerakan tentakel pelontar ini bahkan disebut sebagai salah satu yang tercepat di antara seluruh mekanisme berburu tumbuhan karnivora yang pernah diteliti. Setelah berhasil dilemparkan dan menempel pada tentakel lengket di tengah daun, mangsa akan ditarik perlahan ke bagian cekung daun untuk mulai dicerna, membuat peluang mangsa untuk melarikan diri nyaris tidak ada sejak awal terjebak.
Kelima fakta ini menunjukkan bahwa sundew bukan sekadar tanaman hias dengan tampilan berkilau, melainkan predator yang memanfaatkan keterbatasan lingkungan tempatnya tumbuh menjadi kekuatan tersendiri. Keunikan sundew menjadi bukti bahwa evolusi bisa menghasilkan strategi bertahan hidup yang tidak terduga, bahkan dari tumbuhan sekalipun.



















