Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengapa Longsor Sering Terjadi setelah Hujan Deras?
ilustrasi tanah longsor (unsplash.com/Jacob Padilla)
  • Hujan deras atau berkepanjangan membuat tanah jenuh dan menaikkan tekanan air pori, sehingga kekuatan tanah menahan geseran di lereng berkurang.
  • Risiko longsor dipengaruhi intensitas serta durasi hujan, kemiringan lereng, jenis tanah atau batuan, retakan, dan keberadaan vegetasi pengikat tanah.
  • Longsor dapat terjadi setelah hujan reda karena air yang telah meresap masih menjaga kejenuhan dan tekanan tanah, sementara drainase lereng membutuhkan waktu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Hujan deras tidak hanya membuat jalanan tergenang atau sungai meluap. Di daerah yang memiliki banyak lereng dan perbukitan, hujan dengan intensitas tinggi juga bisa meningkatkan risiko longsor. Tak jarang, tanah baru bergerak beberapa saat setelah hujan berhenti. Mengapa bisa begitu?

Longsor terjadi ketika tanah, batuan, atau material lain di lereng kehilangan kestabilannya dan bergerak ke bawah akibat gravitasi. Salah satu pemicu yang paling umum adalah air hujan. Ketika hujan turun dengan deras atau berlangsung dalam waktu lama, air dapat meresap ke dalam tanah dan mengubah kondisi di dalam lereng. Pada titik tertentu, tanah tidak lagi cukup kuat untuk menahan beban sehingga terjadilah longsor. Mari, kita bahas lebih dalam seputar fenomena ini!

1. Air hujan membuat tanah semakin jenuh

Saat hujan turun, sebagian air akan meresap ke dalam tanah dan mengisi ruang-ruang kecil di antara butiran tanah. Semakin banyak air yang masuk, semakin tinggi kandungan air di dalam tanah.

Dalam kondisi normal, terdapat gaya yang membantu butiran tanah tetap saling menempel. Namun, ketika tanah semakin basah dan mendekati kondisi jenuh, gaya tersebut dapat berkurang. Akibatnya, tanah menjadi lebih mudah bergerak, terutama jika berada di lereng yang curam.

Itulah sebabnya hujan deras yang berlangsung cukup lama dapat menjadi masalah. Air yang terus masuk ke dalam tanah membuat kondisi lereng perlahan berubah dari relatif stabil menjadi lebih rentan mengalami pergerakan.

2. Tekanan air di dalam tanah meningkat

Selain membuat tanah lebih basah, air hujan juga dapat meningkatkan tekanan air di dalam pori-pori tanah. Tekanan ini dikenal sebagai pore-water pressure atau tekanan air pori.

Sederhananya, tanah membutuhkan gaya tertentu agar butiran-butirannya tetap saling mengunci dan mampu menahan beban di atasnya. Ketika tekanan air di antara butiran tanah meningkat, gaya yang membuat tanah tetap kuat dapat berkurang.

Jika kondisi ini terus berlangsung, tanah akan kehilangan kekuatannya untuk menahan geseran di lereng. Sementara itu, gravitasi terus menarik material ke arah bawah. Ketika gaya yang mendorong tanah untuk bergerak menjadi lebih besar daripada kemampuan tanah untuk menahannya, lereng dapat mengalami longsor.

3. Hujan yang terlalu deras atau terlalu lama sama-sama berisiko

ilustrasi hujan deras (pexels.com/Rain Photography)

Bukan berarti setiap kali hujan deras pasti terjadi longsor. Risiko longsor dipengaruhi oleh intensitas dan durasi hujan, serta kondisi tanah dan lereng di suatu wilayah.

Hujan yang sangat deras dalam waktu singkat bisa menyebabkan lapisan tanah bagian atas cepat jenuh. Kondisi ini berpotensi memicu longsor dangkal yang terjadi secara tiba-tiba.

Sementara itu, hujan yang tidak terlalu deras tetapi berlangsung selama berjam-jam atau bahkan berhari-hari juga bisa berbahaya. Air memiliki lebih banyak waktu untuk meresap semakin dalam dan meningkatkan kandungan air serta muka air tanah. Akibatnya, lapisan tanah yang lebih dalam pun dapat kehilangan kestabilannya.

Karena itu, jumlah hujan saja tidak cukup untuk menentukan risiko longsor. Seberapa deras hujan turun dan berapa lama hujan berlangsung juga menjadi faktor penting.

4. Kondisi lereng menentukan mudah atau tidaknya terjadi longsor

Hujan memang menjadi salah satu pemicu utama, tetapi air bukan satu-satunya penyebab longsor. Kondisi lingkungan di sekitar lereng turut menentukan apakah hujan akan berakhir sebagai longsor atau tidak.

Lereng yang curam tentu memiliki risiko lebih tinggi karena gravitasi memberikan tarikan yang lebih besar terhadap material di atasnya. Jenis tanah dan batuan juga berpengaruh. Tanah yang lemah, batuan yang telah mengalami pelapukan, atau batuan yang memiliki banyak retakan cenderung lebih mudah mengalami pergerakan ketika terkena air.

Vegetasi juga memiliki peran penting. Akar tanaman dapat membantu mengikat tanah sehingga lereng menjadi lebih stabil. Ketika tutupan vegetasi berkurang akibat penebangan hutan atau perubahan penggunaan lahan, kemampuan tanah untuk tetap berada di tempatnya juga dapat menurun.

5. Aktivitas manusia juga bisa memperbesar risiko

Dalam beberapa kasus, kondisi alami suatu lereng sebenarnya masih cukup stabil. Namun, aktivitas manusia dapat membuatnya menjadi lebih rentan terhadap longsor.

Pembangunan jalan, pemotongan lereng untuk permukiman, pembukaan lahan, hingga perubahan sistem drainase dapat mengubah kondisi alami lereng. Jika air hujan tidak dapat mengalir dengan baik, air bisa lebih banyak meresap dan tertahan di dalam tanah.

Karena itu, daerah dengan curah hujan tinggi, lereng curam, kondisi tanah yang lemah, dan perubahan penggunaan lahan perlu mendapat perhatian lebih. Kombinasi beberapa faktor tersebut dapat membuat satu kejadian hujan ekstrem memicu banyak longsor di wilayah yang sama.

6. Mengapa longsor terkadang terjadi setelah hujan berhenti

ilustrasi hujan deras (pexels.com/Md Nadim Mahmud)

Ini yang sering membuat orang bertanya-tanya. Di kala hujan sudah berhenti, mengapa tanah longsor justru terjadi?

Penyebabnya adalah air hujan yang sudah telanjur masuk ke dalam tanah tidak langsung hilang ketika hujan berhenti. Air masih dapat meningkatkan kejenuhan tanah dan tekanan air pori selama beberapa waktu.

Dengan kata lain, lereng membutuhkan waktu untuk mengalirkan atau membuang air yang telah masuk. Jika pada saat itu kekuatan tanah sudah berada di batas kestabilannya, longsor tetap bisa terjadi meskipun hujan telah reda.

Jadi, hujan deras dapat memicu longsor karena air membuat tanah semakin jenuh, meningkatkan tekanan air di dalam tanah, dan mengurangi kestabilan lereng. Ketika kondisi tersebut bertemu dengan lereng yang curam atau tanah yang lemah, gravitasi dapat membuat tanah dan batuan bergerak ke bawah.

Referensi

Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada September 2026. Landslides and Mudslides and Your Safety
Earth Data. Diakses pada September 2026. Connecting Rainfall and Landslides 
The Conversation. Diakses pada September 2026. Explainer: Why Do Landslides Happen and Why are They So Devastating? 
Walker Consultants. Diakses pada September 2026. Understanding Landslides: Causes, Risks, and What to Do After One Occurs

Curated For You

Editorial Team

Related Article