5 Negara Afrika Tertua Berdasarkan Tanggal Kemerdekaan, Bisa Tebak?

- Liberia menjadi negara Afrika pertama yang merdeka pada 26 Juli 1847, diikuti pengakuan Amerika Serikat setelah berakhirnya praktik perbudakan pada 1862.
- Afrika Selatan memperoleh status wilayah otonom dari Inggris pada 31 Mei 1910, sementara Mesir resmi diakui merdeka oleh Inggris pada 28 Februari 1922.
- Etiopia dan Libya menegaskan kedaulatannya masing-masing setelah mengusir pendudukan Italia, dengan Etiopia memulihkan kekuasaan Kaisar Haile Selassie pada 5 Mei 1941 dan Libya merdeka pada 24 Desember 1951.
Sejarah Benua Afrika tak lepas dari penjajahan, perbudakan dan kemiskinan. Sejak akhir abad 19 hingga pertengahan abad 20, kawasan ini dikuasai oleh berbagai negara Eropa seperti Prancis, Inggris, Spanyol, Portugal, dan Belgia.
Terlepas dari penjajahan, beberapa negara di Benua Afrika seperti Mesir dan Etiopia, merupakan lokasi berdirinya peradaban tua. Walaupun begitu, entitas negara berdaulat bagi ketiga wilayah tersebut baru muncul pada awal abad 20.
Lantas, bisakah kamu menebak lima negara afrika yang paling awal mendeklarasikan kemerdekaannya? Apakah tanggal kemerdekaan Mesir atau Etiopia menjadi yang tertua di Afrika? Yuk simak penjelasannya berikut ini.
5. Libya
Ketika berada di bawah kekuasaan Ottoman, wilayah Libya terbagi menjadi tiga kawasan besar yaitu Cyrenaica di sisi timur, Tripolitania di sisi barat laut, dan Fazzan di sisi barat daya. Setelah kedatangan Italia pada 1912, ketiga wilayah tersebut dikuasai oleh Italia sebagai satu kesatuan.
Di tengah kemelut Perang Dunia I, Italia harus menghadapi kebangkitan gerakan perlawanan kelompok Sanusiyya yang dipimpin Muhammad Idris. Tidak hanya itu, seorang pemuka agama Islam, Umar al-Mukhtar, turut hadir sebagai pemimpin perlawanan bangsa Libya.
Untuk mengambil alih Cyrenaica dan Fezzan serta memperkuat pengaruhnya di Tripolitania, Benito Mussolini melancarkan operasi agresif berupa kamp konsentrasi dan penyebaran gas beracun jenis mustard gas yang membuat sebagian besar masyarakat Libya terisolasi. Situasi ini memudahkan pasukan Italia untuk menangkap Umar al-Mukhtar dan mengeksekusinya di tahun 1931. Sejak saat itu, gerakan perlawanan masyarakat Libya berhasil dilumpuhkan.
Kemenangan Sekutu pada Perang Dunia II membuat wilayah Libya dikuasai gabungan pasukan Prancis dan Inggris. Pada 24 Desember 1951, Kerajaan Libya resmi berdiri dengan Idris I sebagai pemimpinnya.
4. Etiopia

Peradaban manusia di tanah Etiopia sudah dimulai sejak tahun 400 SM dan ditandai dengan berdirinya Kerajaan Aksum. Kerajaan Aksum kala itu dikenal sebagai salah satu kerajaan berpengaruh selain Romawi, Persia dan Tiongkok.
Berbeda dengan Libya yang dijajah Italia dalam kurun waktu lama, Etiopia sebenarnya tidak dikategorikan sebagai negara jajahan walaupun Italia sempat menginvasi negara tersebut. Perang Italia-Etiopia yang berlangsung pada 1895-1896, dimenangkan oleh Etiopia dan memaksa Italia mengakui kedaulatan Etopia melalui Perjanjian Addis Ababa.
Meski telah mengakui Etiopia sebagai negara, Italia tetap mencoba menginvasi negara tersebut untuk kedua kalinya. Pada 1936, Italia berhasil menduduki Etiopia sekaligus mencabut kekuasaan Kaisar Haile Selassie.
Tanggal 5 Mei 1941 menandai kembalinya Kaisar Haile Selassie sebagai penguasa Etiopia sekaligus mengakhiri pendudukan militer Italia. Karena tidak pernah dijajah secara resmi, masyarakat Etiopia memperingati 5 Mei sebagai hari kemenangan pahlawan Etiopia.
3. Mesir

Sejak abad ke-7, Mesir telah menjadi wilayah penting bagi bangsa Arab. Meski berganti dinasti, pengaruh peradaban Islam sangat terasa di Mesir selama ribuan tahun hingga masa Kekaisaran Ottoman pada abad 18.
Kepemimpinan Kekaisaran Ottoman di Mesir berakhir ketika Napoleon Bonaparte menduduki kawasan tersebut di tahun 1798. Menariknya, Napoleon masih mengakui Mesir sebagai bagian dari Ottoman meskipun secara de facto telah dipimpin oleh Napoleon.
Setelah tahun 1805, Prancis menarik pasukannya dari Mesir dan dimulailah serangkaian revolusi ulama Mesir untuk menghilangkan pengaruh Ottoman. Di sela-sela waktu tersebut, Inggris Raya memasuki wilayah Mesir dan secara resmi dimulailah pendudukan Inggris pada 1882.
Ketika Perang Dunia I meletus, Inggris Raya menjadikan Mesir sebagai protektorat sekaligus menyingkirkan sepenuhnya pengaruh Ottoman dari wilayah Mesir. Memasuki tahun 1918, beberapa politisi Mesir meminta Inggris Raya untuk memberikan kemerdekaan sepenuhnya bagi Mesir.
Karena tidak mendapat respon yang baik, revolusi rakyat Mesir pun pecah di seluruh kawasan. Setelah melalui serangkaian upaya diplomasi, Inggris Raya akhirnya mengakui kemerdekaan Mesir pada 28 Februari 1922 sekaligus dimulainya era Kerajaan Mesir.
2. Afrika Selatan

Era kolonialisme Afrika Selatan dimulai ketika Belanda mendirikan kantor VOC pada 1652. Setelah VOC bangkrut, wilayah Afrika Selatan dikuasai oleh Inggris.
Karena sempat dijajah oleh Belanda, Afrika Selatan menjadi rumah bagi Boer atau kaum petani keturunan Belanda. Saat era kolonialisme Inggris berlangsung, kaum Boer beberapa kali mendirikan negara seperti Republic of Natal dan Orange Free State.
Di sisi lain, sebagian kawasan Afrika Selatan merupakan teritori Kerajaan Zulu. Inggris ingin menjadikan masyarakat Zulu sebagai pekerja tambang berlian. Peperangan Inggris-Zulu pun pecah pada 1879 dan berakhir dengan kemenangan Inggris.
Tak lama berselang, giliran Inggris untuk melumpuhkan kekuatan kaum Boer yang saat itu berada di bawah nama South African Republic. Perang pertama berhasil dimenangkan oleh Boer dan membuat South African Republic eksis untuk sementara waktu.
Akan tetapi, Inggris tidak pergi begitu saja dan kembali menginvasi Afrika Selatan pada 1902. Kali ini, Inggris menyatukan wilayah bekas Kerajaan Zulu dan teritori South African Republic menjadi satu wilayah kesatuan bernama Uni Afrika Selatan. Tanggal 31 Mei 1910, Inggris secara resmi mengakui Afrika Selatan sebagai salah satu wilayah otonom dari Inggris.
1. Liberia

Selain Etiopia, Liberia merupakan salah satu negara di Afrika yang tidak memiliki sejarah penjajahan. Kawasan ini sempat menjadi persinggahan pedagang Portugis di pertengahan abad 15 dan dikenal dengan banyaknya hasil pertanian cabai malagueta.
Ketika organisasi American Colonization Society terbentuk di Amerika Serikat pada 1816, Liberia dipilih sebagai lokasi tujuan pembangunan pemukiman bagi mantan budak maupun kaum kulit hitam Amerika. Puluhan tahun setelahnya, lebih dari 19ribu kaum kulit hitam Amerika telah menempati wilayah Liberia.
Karena masih berstatus koloni Amerika Serikat, Liberia mendeklarasikan kemerdekaannya pada 26 Juli 1847. Amerika Serikat masih enggan mengakui kemerdekaan Liberia sebelum berakhirnya praktik perbudakan secara total pada 1862.
Dari kisah kelima negara tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa setiap negara menghadapi situasi penjajahan ataupun pendudukan militer yang berbeda-beda. Scramble of Africa yang ditandai dengan masifnya gelombang kolonialisme bangsa Eropa pada abad 19 dan 20, merupakan peristiwa penting dan bersejarah bagi banyak negara Afrika.


















