Pertempuran Gallipoli, Titik Balik Turki di Perang Dunia I

- Kesultanan Utsmaniyah bergabung dengan Blok Sentral pada Perang Dunia I demi dukungan Jerman, memanfaatkan posisi strategisnya meski tengah melemah secara politik dan militer.
- Inggris meremehkan kekuatan Turki di Gallipoli, menyiapkan serangan tergesa-gesa dengan pasukan ANZAC dan Prancis, namun menghadapi pertahanan kuat serta kondisi medan yang berat.
- Strategi pertahanan Mustafa Kemal berhasil menggagalkan invasi Sekutu, menjadikan kemenangan Gallipoli simbol kebangkitan nasionalisme Turki dan awal perjalanan menuju Republik modern.
Pada awal abad 20, Kesultanan Utsmaniyah yang juga dikenal sebagai Turki, telah kehilangan kejayaannya. Wilayah kekuasaannya menyusut drastis setelah kehilangan daerah-daerah penting. Meski begitu, posisi strategis Turki tetap menjadi perhatian dunia, terutama saat Perang Dunia I pecah pada 1914.
Meskipun awalnya tidak ada negara yang ingin bersekutu dengan Turki, Kesultanan Utsmaniyah akhirnya bergabung dengan Blok Sentral pada Perang Dunia I. Hal ini terjadi setelah Kesultanan Utsmani bersekutu dengan Kekaisaran Jerman. Aliansi ini membawa Turki ke dalam konflik besar yang mengubah sejarah, terutama melalui pertempuran di Gallipoli.
1. Bergabungnya Turki dengan Blok Sentral

Kesultanan Utsmaniyah/Turki pada awal abad 20 bukan lagi kekuatan besar seperti sebelumnya. Mereka telah kehilangan banyak wilayah penting dan mengalami kekalahan dalam beberapa perang, termasuk melawan Italia dan negara-negara Balkan. Negara-negara Eropa bahkan telah meremehkannya karena kondisinya yang lemah.
Namun, ketika Perang Dunia I dimulai, Turki memutuskan untuk bergabung dengan Blok Sentral setelah bernegosiasi dengan Jerman. Keputusan ini didorong oleh keinginan untuk mendapatkan bantuan teknologi dan ekonomi dari Jerman, Di sisi lain, Blok Sentral menginginkan posisi Turki yang strategis dalam hal geografis dan politik dalam konflik global.
2. Turki diremehkan dan dianggap terlalu lemah

Setelah Rusia mengalami kesulitan melawan Turki di Kaukasus, Tsar Nicholas II meminta Inggris membuka front baru untuk mengalihkan perhatian Turki. Permintaan ini direspons Inggris dan para petinggi, termasuk Winston Churchill. Ia percaya bahwa kekuatan angkatan laut Inggris dapat dengan mudah menaklukkan Selat Dardanella dan membuka jalan ke Istanbul.
Rencana ini dianggap mudah oleh para petinggi Inggris. Mereka tampak mengabaikan kemampuan pertahanan Turki yang mendapat dukungan Jerman. Mereka berharap dengan menguasai Selat Dardanella, Turki dapat dipaksa menyerah dan keluar dari perang.
Akan tetapi, persiapan Inggris kala itu tak terlalu baik. Mereka tampak tergesa-gesa dalam menyiapkan pertempuran ini. Di sisi lain, mereka pun mengalami keterbatasan pasokan meski disokong oleh personel tambahan dari Australia, Selandia Baru, dan India.
3. Peran Mustafa Kemal dalam persiapan dan pertahanan Turki di Gallipoli

Saat Inggris meremehkan, Turki justru mempersiapkan dengan matang. Di pihak Turki, Letnan Kolonel Mustafa Kemal mempersiapkan pertahanan yang kuat di Gallipoli. Berbekal pengalaman bertempur di Perang Balkan, ia memahami pentingnya posisi geografis dan memilih untuk mempertahankan bukit-bukit tinggi yang strategis agar mudah memonitor posisi musuh.
Kemal juga memerintahkan pasukannya untuk membangun pertahanan yang kokoh. Hal ini dilakukan agar ketika pasukan Sekutu mendarat, mereka bisa langsung menghadapi dan menciptakan perlawanan sengit yang sulit ditembus. Strategi ini menjadi kunci keberhasilan Turki dalam mempertahankan Gallipoli. Dalam peran ini, Turki dibantu Komandan Jerman, Otto Liman von Sanders.
4. Sulitnya Pertempuran Gallipoli bagi Sekutu

Pertempuran dimulai dengan serangan bombardir angkatan laut Inggris pada 19 Februari 1915 dan berakhir pada 25 Februari 1915 karena cuaca buruk. Selain itu, serangan infanteri Inggris juga sering terhambat karena ranjau air. Akhirnya, pada 25 April 1915, pasukan ANZAC (Australia dan Selandia Baru) mendarat di Tanjung ANZAC. Sedangkan, pasukan Inggris mendarat di Cepe Helles dan Prancis mendarat di Kumkale.
Setelah itu, pertempuran berubah menjadi perang parit yang sengit dengan kondisi yang sangat berat bagi kedua belah pihak. Penyakit seperti disentri dan kekurangan air bersih menjadi musuh tambahan yang mematikan bagi Sekutu di medan perang. Fakta di lapangan jelas berbanding terbalik dengan perkiraan para petinggi Inggris, termasuk Churchill.
5. Sekutu gagal total di Gallipoli

Strategi bertahan Mustafa Kemal ternyata berbuah hasil. Sekutu sadar bahwa wilayah tersebut tak bisa direbut. Pertempuran Gallipoli pun dimenangkan oleh Turki setelah Sekutu menarik pasukan pada 8 Januari 1916. Pada pertempuran ini, diperkirakan lebih dari 100 ribu jiwa melayang dari kedua belah pihak.
Kemenangan Turki di Gallipoli mengubah pandangan dunia terhadap Kesultanan Utsmaniyah, yang sebelumnya dianggap lemah. Bagi Inggris, kegagalan ini menjadi aib besar, terutama bagi Winston Churchill yang harus mundur dari jabatannya. Sedangkan, bagi Turki, kemenangan ini dianggap sebagai pemersatu dan penguat nasionalisme bangsa.
Setelah perang berakhir, Mustafa Kemal dikenal sebagai pahlawan nasional. Kelak, ia dipercaya memimpin perang kemerdekaan dan mendirikan Republik Turki modern. Sedangkan, bagi Australia dan Selandia Baru, Gallipoli adalah momen penting yang menandai pertama kalinya mereka bertempur sebagai bangsa merdeka.



















