"Untuk itu, Direktorat PJL Kementerian Kehutanan bersama Taman Nasional Gunung Gede Pangrango menghadirkan gelang RFID," melalui unggahan Instagram @ayoketamannasional_official, Jumat (16/1/2026).
3 Fakta Gelang RFID, Wajib Dipakai Sebelum Daki Gunung Gede Pangrango

- RFID dan Panic Button untuk respons darurat
- Cara kerja teknologi RFID
- Peran RFID Reader dalam sistem pemantauan pendaki
Pengelola jalur pendakian Gunung Gede Pangrango mulai memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan keselamatan pendaki. Salah satu langkah yang diambil adalah penerapan sistem Radio Frequency Identification atau RFID di sejumlah jalur pendakian utama.
Pada tahap awal, sistem ini diterapkan di Jalur Gunung Putri, Jalur Cibodas, serta di check point kawasan Surya Kencana, yang dikenal memiliki aktivitas pendakian cukup tinggi.
Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pengawasan dan manajemen pendaki di kawasan konservasi tersebut. Berukut beberapa fakta RFID yang harus kamu tahu!
1. RFID dan Panic Button untuk respons darurat
Melalui sistem RFID, setiap pendaki dapat terdata dan dipantau pergerakannya sejak masuk hingga keluar jalur pendakian, sehingga memudahkan petugas dalam melakukan pengawasan. Selain itu, pengelola juga menyediakan Panic Button atau tombol SOS sebagai lapisan keamanan tambahan.
Tombol ini bisa digunakan pendaki saat menghadapi kondisi darurat, seperti tersesat, cedera, atau cuaca ekstrem. Dengan menekan tombol SOS, sinyal permintaan bantuan akan langsung diterima oleh petugas di bawah, sehingga proses evakuasi atau penanganan darurat dapat dilakukan lebih cepat dan terkoordinasi.
Integrasi teknologi ini diharapkan mampu menekan risiko kecelakaan dan meningkatkan rasa aman bagi pendaki selama berada di jalur.
2. Cara kerja teknologi RFID

Secara umum, teknologi RFID menggunakan tag yang dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu RFID aktif dan RFID pasif. RFID aktif dilengkapi baterai, antena, dan chip, sehingga mampu mengirimkan sinyal secara mandiri dengan jangkauan baca yang lebih jauh, bahkan hingga sekitar 120 kaki, serta memiliki masa pakai baterai rata-rata 3 hingga 5 tahun.
Sementara itu, RFID pasif tidak menggunakan baterai dan sepenuhnya bergantung pada sinyal dari pembaca RFID untuk dapat terbaca. Karena tidak memiliki sumber daya sendiri, jenis ini dapat bertahan dan tetap berfungsi selama puluhan tahun, sehingga cocok digunakan untuk pelacakan, verifikasi, dan pengelolaan data pendaki dalam jangka panjang.
3. Peran RFID Reader dalam sistem pemantauan pendaki
RFID reader berfungsi sebagai perangkat pemancar gelombang radio dengan frekuensi tertentu untuk mengaktifkan antena pada tag RFID, sehingga data di dalam tag dapat dikirim dan dibaca. Perangkat ini kemudian terhubung dengan sistem perangkat lunak yang mengintegrasikan ID tag dan data pendaki untuk keperluan pelacakan serta pengelolaan informasi secara real time.
Dalam penerapannya, RFID reader dapat dipasang secara permanen di jalur pendakian atau pos pemeriksaan, maupun digunakan dalam bentuk portabel oleh petugas. Ini akan disesuaikan dengan kebutuhan pengawasan dan keselamatan di lapangan.
Dengan penerapan RFID dan panic button SOS, pengelolaan keselamatan pendaki menjadi lebih terukur dan responsif. Teknologi ini membantu petugas memantau pergerakan pendaki sekaligus mempercepat penanganan darurat di jalur pendakian.

















