Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Dari Lab ke Luar Angkasa, Chip Ini Mampu Bertahan di Suhu 700°C

Dari Lab ke Luar Angkasa, Chip Ini Mampu Bertahan di Suhu 700°C
ilustrasi perakitan chipset (unsplash.com/Alexandre Debiève)
Intinya Sih
  • Tim peneliti University of Southern California menciptakan chip memori jenis memristor yang tetap berfungsi stabil hingga suhu 700°C, jauh melampaui batas perangkat elektronik konvensional.
  • Rahasia ketahanan chip ini terletak pada kombinasi material tungsten, hafnium oxide, dan graphene yang mencegah korsleting akibat pergerakan atom logam di suhu ekstrem.
  • Penemuan tak sengaja ini membuka peluang besar bagi pengembangan teknologi elektronik tahan panas untuk eksplorasi luar angkasa, energi nuklir, dan lingkungan ekstrem lainnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Selama puluhan tahun, hampir semua perangkat elektronik, mulai dari ponsel hingga satelit, memiliki batas gagal ketika suhu melewati sekitar 200 derajat Celsius. Batas termal ini menjadi salah satu tantangan paling keras kepala dalam dunia rekayasa, terutama ketika ilmuwan ingin mengembangkan teknologi yang mampu bertahan di lingkungan ekstrem seperti luar angkasa atau planet lain.

Namun, terobosan terbaru dari tim peneliti di University of Southern California membuka kemungkinan baru. Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Science, mereka memperkenalkan jenis chip memori baru yang tetap berfungsi stabil pada suhu hingga 700 derajat Celsius. Suhu ini lebih panas dari lava cair, bahkan melampaui suhu permukaan Venus yang selama ini dikenal menghancurkan perangkat elektronik hanya dalam hitungan jam.

Yang lebih mengejutkan, suhu ekstrem tersebut bukanlah batas kemampuan chip, melainkan batas alat pengujian yang tersedia.

1. Chip kecil dengan ketahanan ekstrem

Perangkat revolusioner ini dikenal sebagai memristor, sebuah komponen skala nano yang mampu sekaligus menyimpan data dan menjalankan proses komputasi. Secara sederhana, memristor bisa dibayangkan seperti “sandwich mini” yang terdiri dari dua lapisan elektroda di bagian luar dan lapisan tipis material di tengah yang berfungsi sebagai inti pemrosesan sekaligus penyimpanan.

Untuk mencapai ketahanan ekstrem, tim peneliti merancang memristor ini menggunakan kombinasi material unggulan. Lapisan utamanya dibuat dari tungsten, yaitu logam dengan titik leleh tertinggi di antara semua unsur. Ini kemudian dipadukan dengan hafnium oxide sebagai material keramik di bagian tengah, serta lapisan dasar dari graphene.

Masing-masing material ini sudah dikenal tahan terhadap suhu tinggi, namun ketika digabungkan, hasilnya jauh melampaui ekspektasi dan mampu bertahan di kondisi panas ekstrem yang sebelumnya mustahil bagi perangkat elektronik.

2. Graphene jadi kunci mencegah kerusakan pada suhu ekstrem

ilustrasi unsur kimia(Unsplash.com/Eyematrix)
ilustrasi unsur kimia(Unsplash.com/Eyematrix)

Keunggulan utama dari perangkat ini terletak pada penggunaan graphene, yang berperan sebagai “pelindung” di tingkat atom. Dalam perangkat elektronik konvensional, suhu tinggi biasanya menyebabkan atom logam, seperti tungsten, perlahan bergerak menembus lapisan keramik hingga akhirnya menghubungkan dua elektroda. Proses ini memicu korsleting permanen yang membuat perangkat rusak total.

Namun, graphene mampu menghentikan proses tersebut secara efektif. Interaksinya dengan tungsten di tingkat atom digambarkan seperti minyak dan air yang tidak dapat menyatu. Ketika atom tungsten bergerak menuju lapisan graphene, mereka tidak dapat “menempel” atau membentuk jembatan konduktif. Tanpa titik jangkar ini, korsleting tidak terjadi, sehingga perangkat tetap berfungsi meski berada dalam suhu ekstrem.

Tim peneliti memvalidasi mekanisme ini menggunakan mikroskop elektron canggih serta simulasi komputasi tingkat kuantum. Pendekatan tersebut tidak hanya menjelaskan fenomena yang terjadi, tetapi juga mengubah temuan ini menjadi prinsip yang dapat direplikasi untuk pengembangan teknologi elektronik tahan panas di masa depan.

3. Dari penemuan tak sengaja

Menariknya, terobosan ini justru lahir dari ketidaksengajaan. Tim yang dipimpin oleh Joshua Yang awalnya tengah mengembangkan perangkat lain, sebelum akhirnya menemukan konfigurasi material yang mampu bertahan di suhu ekstrem ini. Dari sebuah “kebetulan” di laboratorium, lahirlah inovasi yang berpotensi menjawab tantangan besar di berbagai sektor teknologi.

Selama ini, lembaga seperti NASA telah lama membutuhkan perangkat elektronik yang mampu beroperasi di atas 500 derajat Celsius, setara dengan suhu permukaan Venus. Kebutuhan serupa juga muncul dalam eksplorasi panas bumi di kedalaman ekstrem, di mana sensor harus bekerja di lingkungan dengan batuan yang nyaris berpijar, serta pada sistem energi nuklir dan fusi yang menghasilkan panas tinggi di sekitar perangkat kontrolnya.

Dengan kemampuan bertahan hingga 700 derajat Celsius, teknologi memristor ini membuka peluang baru untuk menghadirkan elektronik yang benar-benar tahan terhadap kondisi paling keras. Jika dikembangkan lebih lanjut, inovasi ini dapat menjadi fondasi bagi generasi baru perangkat yang mampu bekerja di lingkungan yang sebelumnya dianggap mustahil.

Meski perjalanan dari laboratorium menuju produk komersial yang siap digunakan di berbagai industri masih panjang, untuk pertama kalinya arah tujuannya kini terlihat jelas. Terobosan ini pun menjadi langkah awal menuju era baru perangkat elektronik yang mampu bertahan di kondisi paling ekstrem sekalipun.

Referensi

Jian Zhao et al., “High-temperature Memristors Enabled by Interfacial Engineering,” Science, March 26, 2026, eaeb9934.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi
Follow Us

Related Articles

See More