Meski keberhasilan di Gurun Taklamakan terlihat menjanjikan, para peneliti mengingatkan bahwa kondisi unik wilayah ini tidak mudah direplikasi di tempat lain. Salah satu faktor penting adalah keberadaan pegunungan di sekitarnya yang menyediakan aliran air hujan, membantu pohon-pohon yang ditanam tetap bertahan di lingkungan ekstrem.
Selain itu, kapasitas penyerapan karbonnya saat ini masih tergolong terbatas. Bahkan jika seluruh gurun tersebut berhasil dihijaukan, dampaknya diperkirakan hanya mampu mengimbangi sekitar 60 juta ton karbon dioksida. Ini jumlah yang sangat kecil dibandingkan emisi global tahunan yang mencapai sekitar 40 miliar ton.
Namun demikian, setiap tambahan carbon sink tetap berarti. Di tengah meningkatnya kadar karbon di atmosfer, temuan ini memberikan secercah harapan bahwa upaya berbasis alam, meski kecil, tetap bisa menjadi bagian dari solusi jangka panjang menghadapi krisis iklim.
Meski bukan solusi tunggal, transformasi Gurun Taklamakan menunjukkan bahwa upaya kecil yang konsisten dapat menghasilkan dampak nyata bagi lingkungan. Di tengah tantangan perubahan iklim, pendekatan seperti ini membuka peluang baru untuk memanfaatkan alam sebagai bagian dari solusi global.
Referensi
Noor, Salma, Xun Jiang, Xinyue Wang, Jiani Yang, Sally Newman, King-Fai Li, Liming Li, Le Yu, Xiyu Li, and Yuk L. Yung. “Human-induced Biospheric Carbon Sink: Impact From the Taklamakan Afforestation Project.” Proceedings of the National Academy of Sciences 123, no. 4 (January 20, 2026): e2523388123.