Usai menyelesaikan operasi jantung anak, dr. Alan Goldman dan dr. Martin Elliott duduk di ruang istirahat sembari menyalakan televisi. Tayangan pit stop McLaren selama 7 detik di GP Spanyol 2001 membuat keduanya kagum dengan penggantian ban dan pengisian bahan bakar yang dirasa nyaris identik dengan pemindahan pasien. Ide gila sekaligus brilian itupun membawa mereka untuk belajar langsung kepada tim F1.
Gayung bersambut, Ferrari mengundang tim peneliti GOSH ke Maranello, Italia, untuk menonton latihan pit stop dan berbincang panjang dengan race director. Di sana, para peneliti mengamati bagaimana kru membagi peran dan saling berkomunikasi dengan cepat dan tertib. Pelajaran itu kemudian mereka sesuaikan sendiri dengan kebutuhan serah terima pasien di rumah sakit.
Yang paling menarik perhatian para dokter justru cara kru memikirkan kegagalan. Mereka duduk mengitari meja besar dan bertanya berulang kali, kesalahan apa yang bisa terjadi, apa yang dilakukan kalau itu terjadi, dan seberapa gawat dampaknya? Semua gagasan dinilai sampai mereka meranking risikonya dengan failure mode and effects analysis (FMEA). Tim medis, sebaliknya, cenderung baru mencari jalan keluar setelah masalah muncul.
Para dokter pulang membawa empat pegangan. Rutinitas ditanggapi serius, hasilnya bisa diprediksi, latihan diulang sampai sempurna, dan semua orang tahu tugasnya sementara satu orang selalu memegang kendali. Di lintasan, sosok itu adalah lollipop man yang melambaikan mobil masuk dan memantau seluruh proses. Di GOSH, perannya jatuh kepada dokter anestesi yang memimpin sampai tanggung jawab berpindah ke dokter intensif di ujung serah terima.
Proses serah terima kemudian direkam melalui video dan dianalisis bersama tim F1. Hasilnya menunjukkan alur kerja di rumah sakit jauh lebih panjang daripada pit stop. Penyebabnya, pasien terhubung ke banyak alat yang harus dilepas, disesuaikan sumber dayanya, lalu dipasang kembali di ICU.
Melihat kerumitan itu, seorang konsultan F1 datang langsung ke GOSH untuk meninjau seluruh proses serah terima. Ia menyarankan agar rumah sakit memakai satu perangkat yang sekaligus punya pasokan listrik dan ventilator sendiri, sehingga tak perlu lagi bongkar-pasang peralatan. Sayangnya, gagasan itu kandas karena produsen enggan membuat alat untuk pasar yang terlalu kecil, sementara rumah sakit pun tak sanggup mengganti semua tempat tidurnya sekaligus.
Ferrari tidak menyerahkan resep siap pakai. Merujuk masukan dari dua pelatih pilot, tim GOSH menyusun sendiri protokol menjadi tiga tahap, terdiri dari pemindahan peralatan, penyampaian informasi, lalu pembahasan rencana perawatan, dan di tahap kedua dokter anestesi serta dokter bedah bicara bergiliran tanpa dipotong. Seorang koreografer tari ikut dilibatkan untuk menata posisi berdiri agar tak ada yang saling menghalangi, dan menurut Elliott, serah terima yang dulu riuh berubah menjadi salah satu momen paling hening di rumah sakit.