Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Profil Rafael Camara, Pembalap Baru Haas Pengganti Ocon di Formula 1

5 min read
Profil Rafael Camara, Pembalap Baru Haas Pengganti Ocon di Formula 1
potret mobil Formula 1 Haas (pexels.com/Jonathan Borba)
  • Haas merekrut Rafael Camara untuk Formula 1 musim 2027 dengan kontrak multi-tahun, menggantikan Esteban Ocon dan berduet dengan Oliver Bearman.
  • Pembalap Brasil binaan Ferrari Driver Academy ini menjuarai FRECA 2024 dan F3 2025, serta memimpin klasemen F2 2026 menjelang dua putaran terakhir.
  • Haas menilai Camara menonjol dalam tes Portimao berkat kecepatan dan adaptasinya, sementara performa Ocon kalah konsisten dibanding Bearman sepanjang F1 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Formula 1 pada 2027 akan punya wajah baru di grid. Haas resmi mengumumkan Rafael Camara sebagai pembalap baru mereka menggantikan Esteban Ocon dengan kontrak multi-tahun. Di atas kertas, Camara datang dengan modal kuat sebagai pemuncak klasemen pembalap Formula 2 2026 sekaligus juara bertahan Formula 3.

Keputusan Haas menunjuk seorang rookie untuk menggantikan pembalap berpengalaman seperti Ocon bukan tanpa alasan. Tim prinsipal Ayao Komatsu menyebut penampilan Camara dalam program Testing of Previous Cars di Portimao, Portugal, sebagai faktor penentu. Sosok berkebangsaan Brasil ini siap menapaki babak baru kariernya, berpasangan dengan sesama lulusan Scuderia Ferrari Driver Academy (SFDA), Oliver Bearman

  1. 1. Rafael Camara merupakan pembalap asal Brasil ketiga jebolan Ferrari Driver Academy

    Rafael Chaves Camara lahir pada 5 Mei 2005 di Recife, Brasil, dan seperti kebanyakan pembalap, kariernya dimulai dari lintasan gokart sebelum usianya genap 10 tahun. Namanya dikenal lewat SKUSA Super Master Series sejak 2016, dan pada 2019 ia rutin naik podium di seri itu. Tahun 2021 menjadi fase krusial baginya, ditandai gelar WSK Champions Cup dan WSK Super Master Cup di Adria, Italia, serta kemenangan kelas Champions of the Future di Belgia.

    Rentetan hasil ciamik itu menarik perhatian Escuderia Telmex, pemandu bakat SFDA untuk kawasan Meksiko dan Amerika Latin, yang merekomendasikannya ke SFDA World Finals. Meski pengalamannya di Formula 4 masih terbatas, ia berhasil menunjukkan performa meyakinkan hingga direkrut Ferrari Driver Academy pada 2022. Dilansir laman resmi Ferrari, Camara tercatat sebagai pembalap Brasil ketiga di akademi itu, menyusul jejak Enzo Fittipaldi dan Gianluca Petecof.

    Begitu masuk sistem gemblengan Ferrari, kariernya mulai melesat. Bersama Prema, Camara menjuarai Formula Regional European Championship 2024 dengan 8 kemenangan, sebelum naik kelas ke Formula 3 bersama Trident dan merebut gelar juara 2025 lewat 4 kemenangan feature race serta 5 podium. Pencapaian itu berlanjut di Formula 2 2026 bersama Invicta Racing dengan memimpin klasemen dengan selisih tujuh poin atas Nikola Tsolov menjelang 2 putaran terakhir dan membuka peluang sebagai penyandang gelar juara pertama FRECA, F3, dan F2 secara beruntun, sekaligus menyamai capaian F3-F2 Charles Leclerc, George Russell, dan Oscar Piastri.

  2. 2. Meski punya catatan karier yang apik, Rafael Camara masih kurang tenang menghadapi duel

    "Saya belum pernah bertemu pembalap dengan bakat alami sebesar dia." Begitu kata James Robinson, bos tim Invicta Racing, soal pembalap asuhannya kepada The Race. Robinson bukan sembarang bicara, timnya pernah membesarkan nama seperti Gabriel Bortoleto, dan menurutnya kepekaan Rafael Camara terhadap ban adalah sesuatu yang belum pernah ia temui sebelumnya.

    Catatan lima pole position sebagai pembalap rookie membuatnya sejajar dengan Oscar Piastri, juara F2 2021, meski rata-rata kualifikasi Piastri kala itu tercatat sedikit lebih baik. Fondasi kecepatan serupa sudah terlihat sejak F3 musim 2025, saat Camara meraih pole position di 4 dari 5 feature race awal musim. Konsistensi itu membuat Invicta tetap memprioritaskannya, meski mereka sebelumnya juga membesarkan nama Gabriel Bortoleto.

    Namun, kecepatan saja tak cukup untuk memenangkan kejuaraan, dan itulah yang disadari Camara. Awal musim F2 2026 diwarnai insiden di Montreal, Kanada, ketika ia memaksakan overtake terhadap Dino Beganovic dan berujung spin, serta di Monaco saat ia kehilangan daya cengkeram ban yang membuat kemenangannya di depan mata sirna. Kejadian serupa terulang di Madring dan Baku, masing-masing berbuah penalti 10 detik, kendati ia bangkit lewat kemenangan di Barcelona, Spa-Francorchamps, dan feature race kedua Baku.

    Camara juga dikenal sangat blak-blakan ketika berkomunikasi di radio dengan Race Engineer, Pau Rivera, yang sebelumnya mengantar Bortoleto dan Zhou Guanyu menuju F1. Momen-momen radio keduanya kerap viral di media sosial, terutama usai insiden Montreal dan Monaco yang memperlihatkan nada ketus di antara keduanya. Camara menegaskan gaya komunikasi itu lahir dari keterbukaan profesional, bukan sesuatu yang personal, dan justru menjadi cara mereka saling mendorong performa.

  3. 3. Selain performa buruk Esteban Ocon, Haas mau ulangi kesuksesan rekrut pembalap binaan Ferrari

    Keputusan Haas melepas Esteban Ocon tak lepas dari performanya yang dinilai jauh dari ekspektasi sepanjang 2 musim terakhir. Situasi itu kian mencolok karena rekan setimnya, Oliver Bearman, tampil lebih konsisten dengan catatan 23 poin berbanding 7 poin milik Ocon hingga 18 seri balapan Formula 1 2026. Kondisi tersebut mendorong Ayao Komatsu mengevaluasi ulang susunan pembalapnya untuk 2027.

    Evaluasi itu berlangsung lewat program Testing of Previous Cars di sirkuit Portimao, Portugal, pada Agustus 2026, yang mempertemukan Camara dengan sejumlah kandidat lain seperti Leonardo Fornaroli, Ryo Hirakawa, dan Jack Doohan. Dalam sesi itu, Camara dinilai langsung menonjol, bukan hanya dari sisi kecepatan mentah, melainkan juga kemampuannya beradaptasi dengan mobil baru dalam waktu singkat. Komatsu menyebut Camara mampu menciptakan kondisi terbaik bagi dirinya di atas mobil, sesuatu yang menurutnya jarang ditemui pada pembalap seusianya.

    Status Camara sebagai jebolan Ferrari Driver Academy memperkuat posisinya, mengingat Ferrari merupakan mitra utama pemasok komponen bagi Haas sejak tim itu bergabung ke Formula 1 pada 2016. Keberhasilan Bearman, sesama didikan akademi Ferrari yang tampil impresif sejak debutnya di Haas, memberi keyakinan bagi Komatsu untuk kembali mengambil risiko serupa pada pembalap muda lain. Pola pembinaan serupa disebut Haas ingin diterapkan pada Camara ke depan.

    Di luar faktor performa, nilai komersial turut jadi pertimbangan bagi Haas. Pemilik tim, Gene Haas, menyatakan optimismenya terhadap potensi Camara setelah melihat rekam jejaknya di Formula 3 dan Formula 2, sekaligus mengakui daya tarik pembalap asal Brasil ini bagi sponsor dan mitra komersial dari negaranya. Dengan kedatangannya, Camara menjadi pembalap Brasil kedua di grid F1 setelah Gabriel Bortoleto, melengkapi alasan besar di balik kepercayaan yang diberikan Haas kepadanya.

    Kepastian mendapat kursi Formula 1 musim depan tidak membuat Rafael Camara duduk santai, sebab ia harus membuktikan kualitasnya lewat titel juara Formula 2 2026. Ia hanya bisa benar-benar siap jika terus berada di dalam kokpit mobil dan memaksimalkan segala peluang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More