Pemilik Como 1907 tidak mengejar model kepemilikan banyak klub meskipun mempunyai sumber daya memungkinkan. Mereka memilih multiclub servicing, yaitu menjual kemampuan internal kepada klub lain dengan skema mirip koperasi. Mirwan Suwarso menyebut pihaknya bekerja bersama klub lain, tumbuh bersama, dan melakukan bagi hasil bersama.
Manajemen Como 1907 memperkirakan rekor pendapatan 115 juta dolar atau Rp2,07 triliun pada tahun fiskal 2026. Pendapatan ritel melesat dari 62 ribu dolar atau Rp1,12 miliar pada 5 tahun lalu menjadi 16 juta dolar atau Rp288 miliar pada musim lalu. Sekitar 40 persen dari nilai itu berasal dari penjualan kaus, sementara mayoritasnya datang dari lini gaya hidup milik klub sendiri.
Kontrak 3 tahun dengan Adidas berakhir setelah musim 2026/27. Skemanya adalah Como 1907 membeli produk, memodifikasi, dan menjual produk Adidas lewat kanal ritel sendiri sehingga muncul keinginan menguasai lini kaus secara mandiri. Namun, risiko utama langkah itu adalah persediaan dan hanya Napoli yang berhasil melakukannya.
Pada akhirnya, Como 1907 menargetkan kemandirian finansial dalam beberapa tahun dan mulai menyiapkan penjualan pemain sebagai sumber pendapatan. Belanja besar dalam satu jendela transfer disusun lewat kesepakatan kreatif, pembayaran bertahap, dan klausul pembelian pada masa depan agar arus kas tetap longgar. Pola itu menunjukkan bahwa ambisi mahal bisa dijalankan dengan skema pembayaran yang tidak menekan keuangan klub.