Belajar Mengembangkan Klub dari Como 1907, dari Utang sampai Ritel

- Como 1907 dibeli SENT Entertainment pada 2019 saat di kasta keempat; utang dibereskan dan klub diarahkan menjadi bagian pengalaman wisata Danau Como.
- Renovasi Curva Como dan lapangan Stadion Giuseppe Sinigaglia memenuhi lisensi UEFA, membuka peluang menggelar laga Eropa meski kapasitas internasional menjadi 10.884 penonton.
- Di bawah Cesc Fabregas, Como mencapai Liga Champions lalu membelanjakan 104 juta euro; klub juga mengandalkan ritel dan skema pembayaran bertahap demi kemandirian finansial.
Como 1907 dua kali dinyatakan bangkrut, pertama pada 2004 dan sekali lagi sekitar 1 dekade kemudian. Pada 2019, saat masih bermain di kasta keempat liga sepak bola Italia, klub itu dibeli SENT Entertainment yang langsung membereskan utang dan kewajiban yang menumpuk. Nilainya sedikit di atas 1 juta euro atau Rp20,3 miliar dan mencakup pembelian aset sekaligus pelunasan gaji tertunggak.
Cesc Fabregas, mantan gelandang dengan 104 penampilan di Liga Champions, memimpin Como 1907 dari bangku pelatih. Dirinya menutup karier di Italia dan menapaki jalur kepelatihan dari formasi Primavera sampai formasi senior. Klub itu memberinya waktu 4 bulan di formasi muda sebelum menaikkan posisinya ke staf utama.
1. Membeli aset stres, membersihkan utang, dan menjadikan danau sebagai pusat bisnis
Rencana awal SENT Entertainment adalah memproduksi reality show yang membawa pesepak bola muda Indonesia ke Eropa lewat Como 1907. Rencana itu langsung batal karena klub di bawah Serie A tidak boleh mendaftarkan pemain non-Uni Eropa. Lantas, manajemen itu berbalik arah dan mencari peluang lain di kota yang sudah lama menjadi tujuan wisata kelas atas.
Mirwan Suwarso, Presiden Como 1907, ingin membangun model serupa Disney dengan danau sebagai pusat bisnis. Dalam kerangka itu, klub berperan sebagai hiburan yang menarik kedatangan orang. Bahkan, manajemen klub itu memperlakukan laga sebagai bagian dari pengalaman wisata.
Dalam Soccernomics yang dilansir The Week, terdapat argumen bahwa suatu klub sepak bola terlalu dicintai untuk mati. Dua kebangkrutan Como 1907 tidak mematahkan pola itu. Investasi di klub itu tetap menarik meskipun dengan imbal balik jangka pendek yang kecil, biaya operasional yang tinggi, dan risiko yang besar.
2. Renovasi tribun lama membuka akses ke pertandingan Eropa
Manajemen Como 1907 membongkar total Curva Como, tribun di belakang gawang Stadion Giuseppe Sinigaglia yang menjadi jantung suasana Stadion Giuseppe Sinigaglia selama lebih dari 2 dekade. Manajemen klub itu mengganti struktur bajanya dengan tribun beton khusus sehingga kapasitasnya naik dari 3.960 menjadi 4.255 kursi. Kapasitas seluruh stadion itu untuk laga Serie A bertambah dari 12.064 menjadi 12.379 kursi, sementara area pendukung tim tamu bertumbuh dari 980 menjadi 1.000 kursi.
Pembongkaran Curva Como lahir dari syarat lisensi stadion UEFA yang mewajibkan sedikitnya 8 ribu kursi permanen berbahan beton. Tribun lama tidak memenuhi standar itu sehingga penggantian Curva Como menjadi jalan agar laga Eropa bisa digelar di tepi Danau Como. Untuk laga internasional, kapasitasnya justru turun menjadi 10.884 penonton karena sebagian sektor Distinti, Curva Ospiti, dan Tribuna Est ditutup.
Lebih lanjut, proyek renovasi juga mengganti dan melebarkan seluruh permukaan lapangan Stadion Giuseppe Sinigaglia agar sesuai aturan UEFA. Lantai dasar tribun baru menampung toilet, ruang penyimpanan, gerai makanan dan minuman, toko klub, serta ruang logistik dan acara. Kemudian, kub itu menjual kursi biru bekas tribun lama seharga 25 euro atau sekitar Rp506 ribu per unit sebagai upaya amal.
3. Pelatih naik lewat formasi pesepak bola muda sebelum memegang kursi kepala
Cesc Fabregas masuk ke staf senior Como 1907 sebagai asisten Osian Roberts pada musim promosi 2024. Kendali penuhnya baru datang setelah Serie A tercapai yang langsung dituntaskan dengan finis kesepuluh pada musim pertama. Musim selanjutnya, klub itu finis keempat dan mengamankan tiket Liga Champions.
Cesc Fabregas menyebut masa bersama formasi Primavera sebagai pengalaman yang menyenangkan sekaligus mendidik. Sebagian pemain muda itu belum mempunyai pola pikir yang tepat, datang terlambat, dan belum membentuk tim yang bersatu. Sedikit demi sedikit, dirinya menertibkan mereka lewat disiplin, rasa hormat, dan organisasi permainan.
Cesc Fabregas meramu gagasan dari Arsene Wenger, Pep Guardiola, dan Jose Mourinho untuk membentuk metodologi dan gaya main sendiri. Pertanyaan yang selalu dia ajukan adalah tentang keinginannya untuk kalah, mengingat kekalahan tanpa identitas permainan merupakan hal paling menyakitkan baginya. Di Liga Champions, ia menekankan ketenangan, kekuatan mental, dan keberanian bersaing dengan formasi yang lebih kuat.
4. Belanja 104 juta euro dipecah lewat skema pembayaran bertahap
Como 1907 menginvestasikan lebih dari 100 juta euro pada satu jendela transfer untuk lima pesepak bola penting. Totalnya menyentuh 104 juta euro atau Rp2,11 triliun yang sebanding dengan nilai belanja banyak klub elite Serie A. Manajemen menyebut langkah itu sebagai perencanaan bisnis yang matang karena debut di Liga Champions memaksa mereka meninggalkan kehati-hatian.
Nico Paz menjadi fokus belanja Como 1907 dengan harga 60 juta euro atau Rp1,22 triliun setelah negosiasi panjang dengan Real Madrid soal klausul dan tawaran balasan. Manajemen klub itu mendatangkan Yan Couto dari Borussia Dortmund seharga 20 juta euro atau Rp405 miliar, sementara Kaiki Bruno masuk seharga 12 juta euro atau Rp243 miliar dengan opsi pembelian permanen. Selain itu, klub ini juga membayar klausul pelepasan Luis Milla dan Mattia Liberali.
Manajemen Como 1907 menyebar investasi lewat kesepakatan kreatif, pembayaran bertahap, dan klausul pembelian pada masa depan agar arus kas tidak langsung tertekan. Klub itu mulai masuk aturan financial fair play oleh UEFA sehingga penjualan pemain dan keuntungan modal dari pesepak bola muda adalah sumber pemasukan selanjutnya. Mirwan Suwarso menargetkan kemandirian finansial dalam beberapa tahun, sementara proyeksi belanja bisa mencapai 150 juta euro atau Rp3,04 triliun sampai jendela transfer ditutup.
5. Kaus dan ritel menjelma sebagai mesin uang baru di luar penjualan tiket
Pemilik Como 1907 tidak mengejar model kepemilikan banyak klub meskipun mempunyai sumber daya memungkinkan. Mereka memilih multiclub servicing, yaitu menjual kemampuan internal kepada klub lain dengan skema mirip koperasi. Mirwan Suwarso menyebut pihaknya bekerja bersama klub lain, tumbuh bersama, dan melakukan bagi hasil bersama.
Manajemen Como 1907 memperkirakan rekor pendapatan 115 juta dolar atau Rp2,07 triliun pada tahun fiskal 2026. Pendapatan ritel melesat dari 62 ribu dolar atau Rp1,12 miliar pada 5 tahun lalu menjadi 16 juta dolar atau Rp288 miliar pada musim lalu. Sekitar 40 persen dari nilai itu berasal dari penjualan kaus, sementara mayoritasnya datang dari lini gaya hidup milik klub sendiri.
Kontrak 3 tahun dengan Adidas berakhir setelah musim 2026/27. Skemanya adalah Como 1907 membeli produk, memodifikasi, dan menjual produk Adidas lewat kanal ritel sendiri sehingga muncul keinginan menguasai lini kaus secara mandiri. Namun, risiko utama langkah itu adalah persediaan dan hanya Napoli yang berhasil melakukannya.
Pada akhirnya, Como 1907 menargetkan kemandirian finansial dalam beberapa tahun dan mulai menyiapkan penjualan pemain sebagai sumber pendapatan. Belanja besar dalam satu jendela transfer disusun lewat kesepakatan kreatif, pembayaran bertahap, dan klausul pembelian pada masa depan agar arus kas tetap longgar. Pola itu menunjukkan bahwa ambisi mahal bisa dijalankan dengan skema pembayaran yang tidak menekan keuangan klub.























