Erick Thohir: Olahraga Jadi Branding Nasional Bukan Beban

- Erick Thohir menegaskan pentingnya mengubah paradigma olahraga dari beban biaya menjadi sumber pendapatan dan branding nasional, dengan potensi besar di sektor sport tourism.
- Industri olahraga seperti maraton dan MotoGP terbukti mendorong ekonomi daerah melalui peningkatan okupansi hotel, konsumsi kuliner, hingga investasi infrastruktur wisata.
- Event olahraga internasional dinilai mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara, memperkuat ekosistem pariwisata lokal serta membuka peluang usaha baru di berbagai sektor.
Jakarta, IDN Times - Dunia olahraga Indonesia kini bersiap menghadapi transformasi besar-besaran. Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Erick Thohir, mengatakan pentingnya mengubah cara pandang seluruh pihak terhadap industri olahraga, yang selama ini kerap dianggap sebagai beban finansial.
"Dan memang kadang-kadang kita di olahraga ini senang-senang, sedih. Kenapa? Persepsinya selalu melihat olahraga sebagai cost, beban. Tapi, sebenarnya olahraga hari ini itu adalah sebuah revenue, sebuah pendapatan, sebuah national branding. Jadi, ini paradigma yang kami dari Kemenpora sekarang sedang mencoba menyamakan mindset dengan seluruh pemangku kepentingan, stakeholder," ujar Erick di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Jakarta, Kamis (2/7/2026).
"Contoh saja, kalau kita bicara yang namanya pariwisata, orang kadang-kadang terlupakan salah satu komponen terbesar di pariwisata itu yang namanya sport tourism. Nilainya itu, kurang lebih untuk sport tourism sendiri itu hampir 625 miliar dolar AS atau Rp9.700 sampai Rp9.800 triliun. Lubang, besar itu. growth-nya itu kalau dilihat kurang lebih delapan persen," sambungnya.
1. Sport tourism kerap terlewatkan

Menurut Erick, salah satu sektor potensial yang kerap terlewatkan dari perhatian dari pemangku kebijakan adalah sport tourism. Industri ini mencatatkan perputaran dana yang sangat masif di tingkat global dan memiliki pertumbuhan ekonomi yang sangat signifikan setiap tahunnya.
"Tapi, orang terlupakan ini. Belum lagi industri olahraganya 521 miliar dolar AS atau Rp8.000 triliun. Dan ini akan tumbuh 25 persen sampai 2032. Ini kan hal-hal yang saya rasa terlupakan. Contoh saja, kita bicara secara matematis. Sekarang itu di Indonesia ada 104 event maraton. Total runners itu 10,4 juta. Bayangkan berapa transaksi sepatu larinya. Kalau saya lihat sekarang, beberapa pameran olahraga itu sudah banyak mulai brand lokal," kata dia.
2. Ada industri lain yang terdampak positif

Selain wisata olahraga, nilai dari industri global juga menunjukkan angka yang tidak kalah fantastis. Berbagai kegiatan lari massal seperti maraton yang kini marak diselenggarakan di berbagai kota di Indonesia, dianggap terbukti memberikan dampak instan pada geliat ekonomi daerah, mulai dari peningkatan keterisian hotel hingga pendapatan pelaku kuliner lokal.
"Jadi, kota-kota besar yang merupakan bukan tujuan wisata. Seperti mungkin Jakarta, Medan, kemarin di Malang ada, itu hotelnya penuh. Karena bayangkan kayak di Bandung aja itu total pendaftarnya bisa 15.000 sampai 20.000. Nanti nih mandalika yang disponsori oleh sebuah brand itu bisa 10.000. Kan mesti cari hotel. Dan biasanya habis lari makan-makan. Nah ini perputaran ekonomi yang kadang-kadang kita lupakan," ujar dia.
Dampak dari perhelatan olahraga internasional dapat dilihat dari penyelenggaraan balap motor MotoGP di Mandalika. Gelaran tersebut disebut menghidupkan ekosistem investasi baru, seperti pembangunan vila dan restoran di kawasan pesisir, serta turut mempromosikan destinasi wisata budaya dan religi di sekitarnya.
"Lalu juga event besar seperti MotoGP. Kenapa orang berombak-rombak ngambil F1? Saya dengar Malaysia sudah mengambil lagi MotoGP. Bahkan Singapura pada saat MotoGP, ini tahun kemarin, disamakan sama F1. Arinya, artinya apa? Market kita besar, makanya ditabrak event besar; kita ditabrak sama event besar lain, F1. Itu realita. Singapura? Iya, F1-nya disamakan harinya dengan MotoGP. Padahal impact dari MotoGP itu sekarang sudah Rp4,9 triliun," ujar Erick.
3. Kunjungan wisatawan juga bisa meningkat

Erick melihat peluang besar dari animo pasar domestik terhadap berbagai event olahraga internasional. Potensi kunjungan wisatawan ke daerah-daerah sekitar pusat pelaksanaan kegiatan olahraga dinilai sangat efektif dalam menggerakkan roda ekonomi masyarakat di berbagai lini usaha, termasuk sektor transportasi dan penginapan.
"Kalau kita sekarang ke Mandalika, restoran sudah mulai banyak di pesisir kota Mandalika. Orang yang berinvestasi vila di sana sudah mulai banyak. Artinya apa? Ketika ada yang namanya MotoGP, nanti atraksi wisata lainnya akan terisi. Di Gili Trawangan, ada wisata religi di sana juga banyak cerita-cerita penyebaran Islam. Kalau kita bicara mengenai kerajaan kuno, Lombok itu dulu footprint-nya di bawah kerajaan Karangasem Bali," ujar dia.

















