Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

[WANSUS] Golf, Yips, dan Mimpi Besar Luke Evan Moore

[WANSUS] Golf, Yips, dan Mimpi Besar Luke Evan Moore
Potret pegolf Indonesia, Luke Evan Moore di The Indonesia Pro-Am 2026. (Dok. TIPA).
  • Luke Evan Moore menyukai golf karena kompetisinya menantang pemain untuk terus berkembang dan mengalahkan diri sendiri.
  • Ia sempat frustrasi akibat chipping yips di area green, lalu bangkit dengan motivasi diri dan dukungan rekan-rekannya.
  • Luke dan Parathakorn Suyasri menjuarai kategori Pro-Am di The Indonesia Pro-Am 2026 di Bogor.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Menurutmu, apa yang lebih penting dalam golf?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Golf is life. Bagi Luke Evan Moore, filosofi sederhana itu menggambarkan perjalanan cintanya pada dunia golf sejak kecil. Olahraga ini memikat hatinya lewat tingkat kompetisi yang tinggi, di mana musuh terbesar yang harus ditaklukkan sebenarnya bukan lawan di lapangan, melainkan diri sendiri.

Keteguhan mental itu dibuktikan Luke saat mengayunkan stiknya di The Indonesia Pro-Am 2026. Berpasangan dengan pegolf profesional asal Thailand, Parathakorn Suyasri, mereka sukses menyabet gelar juara kategori Pro-Am di Gunung Geulis Country Club, Bogor, Jumat (21/8/2026).

Namun, jauh sebelum itu, Luke rupanya sempat melewati masa-masa sulit di atas padang golf. Ada aspek krusial yang membuatnya nyaris putus asa. Lantas, bagaimana cara pegolf muda itu untuk melewati situasi tersebut? Simak wawancara khusus IDN Times bersama Luke Evan Moore berikut ini!

  1. 1. Jatuh cinta pada kompetisi melawan diri sendiri

    -
    Potret pegolf Indonesia, Luke Evan Moore di The Indonesia Pro-Am 2026. (Dok. TIPA).

    Tumbuh besar di Pulau Dewata, perkenalan Luke dengan stik golf berawal dari teman-teman sang ayah yang rutin bermain. Berawal dari situ, ia kemudian bergabung dengan akademi di Bali dan hingga akhirnya semakin menikmati permainan golf.

    Bagi Luke, esensi utama dari golf selalu berpusat pada pertanyaan tentang bagaimana seorang pemain bisa terus berkembang dan menjadi versi yang lebih baik setiap harinya. Golf juga dinilai mengajarkan banyak hal tentang kehidupan.

    "Kompetitifnya. Teman-teman saya semuanya jago, jadi saya punya keinginan untuk mengalahkan mereka. Menurut saya, dalam golf, kompetisinya bukan hanya melawan teman-teman, tetapi juga melawan diri sendiri. Jadi, golf selalu tentang bagaimana kita bisa terus berkembang dan menjadi lebih baik," kata Luke tentang bagaimana dia jatuh cinta terhadap golf.

  2. 2. Nyaris putus asa akibat penyakit yips di area green

    -
    Potret pegolf Indonesia, Luke Evan Moore di The Indonesia Pro-Am 2026. (Dok. TIPA).

    Perjalanan karier Luke tidak selalu mulus dan bebas dari rintangan. Ia blak-blakan mengaku sempat mengalami fase frustrasi luar biasa dalam dua hingga tiga tahun terakhir karena menderita "chipping yips" (kejang otot atau hilang kendali secara psikologis) di sekitar area green.

    Pegolf berusia 25 tahun tersebut menjadikan masalah yips ini sebagai sebuah tantangan yang harus ditaklukkan dengan dorongan motivasi dari dalam diri. Berbekal dorongan moral dari rekan-rekannya, permainan Luke perlahan mencapai sentuhan terbaiknya.

    "Golf itu punya banyak tantangan, menurut saya itu bagian dari kesenangannya, sama seperti kehidupan di mana kita harus menemukan cara untuk menyelesaikannya. Dulu saya mengalami chipping yips dan hampir putus asa juga, tapi banyak teman yang selalu mendukung dan menyuruh saya untuk terus maju," ujar Luke.

  3. 3. Mental baja dan disiplin jadi kunci utama

    -
    Potret pegolf Indonesia, Luke Evan Moore di The Indonesia Pro-Am 2026. (Dok. TIPA).

    Berbicara soal teknis, Luke sangat meyakini kalau faktor mental memiliki peran yang jauh lebih besar ketimbang sekadar skill mumpuni. Ia menyebut seseorang bisa saja memiliki kemampuan memukul bola terbaik di dunia, tetapi itu semua akan sia-sia jika tidak ditopang oleh mentalitas yang kuat.

    "Seseorang bisa memiliki kemampuan terbaik di dunia, tetapi kalau mentalitasnya kurang bagus, kemampuan itu bisa sia-sia. Menurut saya, disiplin juga sangat penting. Disiplin yang dipadukan dengan kemampuan akan membawa kita sangat jauh. Saya puas karena sudah bisa melewati masalah di lapangan dengan baik, namun jujur pasti masih bisa lebih baik lagi," ujar Luke.

  4. 4. Pentingnya peran senjata tempur yang presisi

    -
    Potret pegolf Indonesia, Luke Evan Moore di The Indonesia Pro-Am 2026. (Dok. TIPA).

    Selain mental, faktor eksternal seperti kecocokan stik selaku peralatan tempur ternyata menjadi salah satu kunci rahasia kebangkitan performa Luke. Ia menjelaskan, dalam dunia golf, peralatan yang digunakan harus sangat spesifik dan disesuaikan dengan anatomi atau karakter pemakainya.

    "Setiap orang berbeda, ada yang tinggi, pendek, panjang tangan beda, kecepatan ayunan juga beda-beda. Kita harus menentukan seperti apa shaft dan iron-nya, itu sangat penting," ucap Luke.

  5. 5. Jadikan Tiger Woods dan Rory McIlroy sebagai kiblat

    -
    Parathakorn Suyasri (Thailand) dan Luke Evan Moore (Indonesia) sukses menguasai nomor Pro-Am. (Dok. TIPA).

    Setiap atlet pasti memiliki sosok idola yang menginspirasi. Bagi Luke, Tiger Woods dan Rory McIlroy adalah kiblatnya di padang hijau. Ia kerap menghabiskan waktu menonton video permainan mereka yang terlihat begitu luwes dan tanpa beban.

    Kekaguman itulah yang memacu Luke untuk menembus batas maksimal potensinya. Ia memiliki mimpi besar untuk rutin mencicipi kerasnya persaingan di tur-tur profesional besar level Asia dan Eropa. Misi tertingginya tentu saja adalah menembus panggung impian para pegolf sedunia, yakni PGA Tour.

    "Jangan terlalu keras pada diri sendiri. Golf itu menyenangkan, tetapi golf juga sulit. Jadi, jangan membuatnya menjadi lebih sulit dan selalu nikmati permainannya. Golf is life!" pesan Luke buat anak muda yang baru nyebur di golf.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More