Klarifikasi Hendra Basir soal Isu Kekerasan dan Pelecehan yang Viral

- Hendra Basir menegaskan belum pernah dipanggil untuk klarifikasi resmi terkait tuduhan kekerasan dan pelecehan, meski namanya sudah viral dan diberhentikan dari posisi pelatih tim panjat tebing Indonesia.
- Ia mengakui pernah memeluk serta mencium kening atlet sebagai bentuk perhatian, namun siap menerima konsekuensi jika tindakan itu dianggap salah, termasuk soal metode pelatihan keras yang diterapkannya sejak 2012.
- Meski kecewa dengan situasi dan laporan delapan atlet, Hendra memilih tetap tenang tanpa dendam, menegaskan prinsipnya bahwa tugas utama pelatih adalah membentuk atlet berprestasi, bukan mencari popularitas.
Jakarta, IDN Times - Nama Hendra Basir ramai diperbincangkan setelah muncul tuduhan dugaan kekerasan dan pelecehan dalam lingkungan tim panjat tebing Indonesia. Namun, di tengah ramainya pemberitaan, Hendra mengungkap bahwa mantan pelatih kepala timnas panjat tebing Indonesia ini justru belum pernah diminta hadir untuk klarifikasi resmi.
Kondisi ini membuatnya merasa berjalan dalam ketidakpastian. Meski begitu, Hendra memilih tetap tenang dan tidak buru-buru bereaksi.
Hendra mengaku, sampai sekarang ia belum menerima penjelasan apa pun mengenai detail tuduhan tersebut dan merasa hanya bisa menebak-nebak apa yang sebenarnya menjadi inti masalah. Sikapnya tetap sama: mengikuti proses dan siap dengan segala konsekuensinya.
Dalam suasana Ramadan, Hendra mencoba menjalani semuanya dengan lebih lapang dada.
1. Kebingungan yang tidak dijelaskan

Saat dihubungi IDN Times via telepon, Hendra berulang kali menegaskan dia tidak pernah dipanggil untuk dimintai klarifikasi. Bukan sehari, bukan semenit, bahkan belum sedetik pun. Bahkan tidak sampai Surat Keputusan penonaktifannya diterbitkan hingga menjadi viral di media sosial.
“Sampai saat ini saya belum diklarifikasi sedetik pun sama federasi. Saya belum diundang untuk klarifikasi,” kata Hendra kepada IDN Times pada Rabu (25/2/2026) sore WIB.
Di saat namanya telah menjadi headline, Hendra justru masih meraba-raba tuduhan yang diarahkan. Ketidakpastian itu membuatnya seperti berjalan dalam kabut. Hendra tak tahu harus membela bagian mana, harus menjelaskan apa, atau harus memulai dari mana. Hendra hanya tahu satu hal: ia menunggu, meski proses itu terasa sunyi.
“Jadi sampai saat ini saya belum tahu masalah, indikasi kekerasan fisik itu seperti apa, sama indikasi pelecehan seksual itu seperti apa,” kata Hendra.
2. Soal pelukan dan disiplin keras

Isu pelecehan yang diarahkan kepadanya menjadi pusat perhatian. Hendra tidak menampik bahwa dia pernah memeluk dan mencium kening atletnya ketika mereka drop mental. Baginya, itu adalah cara mencairkan ketegangan, memberi kehangatan manusiawi di tengah tekanan kompetisi. Namun Hendra paham bahwa interpretasi publik bisa berbeda.
“Kalau dibilang saya meluk, memang saya peluk. Terus saya cium kening dan ubun-ubun, iya. Tapi ya nggak seperti yang dibayangkan. Itu perhatian saya layaknya gua ke anak gua. Perhatian saya ke kalian atlet, layaknya saya ke anak gua sendiri gitu loh. Itu poinnya di situ tuh. Nah, kalau itu dikategorikan sebagai pelecehan seksual, ya saya terima konsekuensinya gitu kan. Saya siap dengan kepala tegak menerima konsekuensi,” kata Hendra.
“Padahal ya saya juga tidak melecehkan yang seperti pikiran orang gitu kan. Bagian apa, saya juga tahulah area-area ini, privasi-privasi itu kan. Gak boleh lah,” sambung dia.
Hendra pun tak menutup mata bahwa budaya pelatihan keras yang ia terapkan sejak 2012 bisa dianggap bermasalah hari ini. Zaman berubah, standar berubah, perspektif pun berubah. Jika hari ini metode itu dinilai melukai, ia siap menanggung akibatnya.
“Nah, kalau kekerasan, ini yang saya bingung. Karena memang dari 2012 pola pelatihan saya memang keras gitu kan. Dan, kalau memang itu salah satu tindakan kekerasan, ya saya juga terima konsekuensinya. Jadi simpel saja. Saya legowo,” kata Hendra.
Di titik ini, Hendra seperti berdiri di antara dua dunia: Dunia niat baik yang dia yakini, dan dunia interpretasi yang tak dia kuasai. Hendra memilih tidak melawan dengan kemarahan, melainkan dengan kejujuran.
3. Kecewa tapi tak dendam

Di balik ketenangannya, Hendra mengakui bahwa dirinya sangat kecewa dengan situasi yang terjadi. Hendra merasa tuduhan yang viral tanpa penjelasan resmi membuatnya berada dalam posisi yang tidak adil. Meski begitu, Hendra tegas bahwa perasaan itu tidak berubah menjadi kebencian.
“Kalau kecewa, gua jelas kecewa. Tapi, saya bukan orang yang pendendam,” kata Hendra.
Hendra menyebut bahwa situasi seperti ini bukan pertama kalinya ia alami, baik di level daerah maupun nasional. Menurutnya, menjadi pelatih yang keras dan tidak selalu disukai adalah risiko profesi. Hendra memilih tetap fokus pada prinsipnya: membentuk atlet agar berprestasi, bukan mencari disukai.
“Memang itu risiko sebagai pelatih yang tidak disukai. Kalau prinsip saya, Anda boleh enggak suka sama saya, tapi Anda harus juara,” kata Hendra.
4. Cerita soal delapan atlet yang melaporkan

Hendra tidak menampik bahwa isu ini bermula dari laporan delapan atlet yang masuk ke federasi. Namun menurutnya, ada kesalahpahaman yang berkembang di publik. Seolah seluruh laporan itu berkaitan dengan pelecehan seksual.
“Iya, lima putra dan tiga putri. Kan awalnya delapan itu kan terkesan putri semua tuh. Nah, sementara indikasi pelecehan seksual itu kan kepada satu (atlet) putri,” kata Hendra.
Hendra juga menyebut bahwa atlet yang bersangkutan sebenarnya sempat meminta maaf lebih dulu sebelum Hendra pulang dan memutuskan menyudahi perannya sebagai pelatih Timnas.
Di tengah tuduhan yang tersebar, ada satu keputusan yang sempat muncul dalam dirinya: mundur dari tim nasional. Keputusan spontan, namun datang dari tempat yang sangat emosional. Pada malam tanggal 17 Januari 2026 lalu. Hendra mengaku sudah menyampaikannya secara lisan.
“Saya kayaknya cukup di Tim Nasional sekarang ini. Tapi saya lihat dulu situasinya apakah batin saya siap atau malah tidak. Karena menjadi pelatih itu kan soal batin juga,” kata Hendra.
















