Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kompleksitas Homologasi Bahan Bakar Berkelanjutan di F1 2026

George Russell saat menjalani pekan balap GP Jepang 2025
George Russell saat menjalani pekan balap GP Jepang 2025. (commons.wikimedia.org/Liauzh)
Intinya sih...
  • Penggunaan bahan bakar berkelanjutan menjadi salah satu bagian dari perubahan regulasi di Formula 1 2026
  • Proses homologasi bahan bakar berkelanjutan lebih kompleks ketimbang bahan bakar fosil
  • Semua tim Formula 1 bisa ikut balapan meski ada yang belum mengantongi sertifikasi bahan bakar
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Seri perdana Formula 1 2026 akan dihelat di Sirkuit Albert Park, Australia, pada 6--8 Maret 2026. Persiapan telah dilakukan menyongsong musim baru, termasuk homologasi bahan bakar. Homologasi dilakukan agar sesuai dengan aturan kejuaraan. Apalagi, Formula 1 mewajibkan pemakaian bahan bakar berkelanjutan yang tidak berasal dari fosil mulai 2026.

Namun, proses homologasi bahan bakar musim ini berlangsung kompleks. Hal itu berdampak kepada sejumlah produsen yang hingga kini belum mendapat sertifikasi bahan bakar. Setidaknya ada dua pabrikan yang dikabarkan telah mengantongi persetujuan pemakaian bahan bakar baru, yaitu Shell dan BP. Sementara itu, terdapat tiga produsen bahan bakar yang kini berkejaran dengan waktu untuk memperoleh homologasi, yaitu Petronas, ExxonMobil, dan Aramco.

1. Penggunaan bahan bakar berkelanjutan menjadi salah satu bagian dari perubahan regulasi di Formula 1 2026

Perubahan regulasi di Formula 1 2026 menyentuh sejumlah aspek, salah satunya bahan bakar. Ini merupakan ambisi Formula 1 untuk mencapai Net Zero pada 2030. Ajang balap jet darat itu berupaya mengurangi emisi karbon yang dihasilkan selama penyelenggaraan pekan balap.

Pada 2024, Formula 1 menghasilkan jejak karbon sebesar 168.720 tCO2e. Jumlah tersebut turun sebesar 26 persen dibandingkan pada 2018. Adapun target Formula 1 adalah pengurangan emisi sebesar 50 persen sesuai komitmen Net Zero 2030.

Salah satu langkah mengurasi emisi karbon adalah pemakaian bahan bakar berkelanjutan. Produsen harus memastikan bahan bakar buatan mereka berasal dari sumber nonfosil. Sumber-sumber tersebut, antara lain, penangkapan karbon langsung dari udara atau emisi industri, limbah perkotaan, dan biomassa nonpangan. Produsen bisa memilih molekul untuk campuran bahan bakar mereka asalkan tak ada kandungan minyak bumi mentah.

2. Proses homologasi bahan bakar berkelanjutan lebih kompleks ketimbang bahan bakar fosil

Proses homologasi bahan bakar berkelanjutan di Formula 1 memiliki perbedaan dibandingkan dengan bahan bakar fosil. Pada tahun lalu, Produsen cukup mengirimkan sampel bahan bakar fosil mereka kepada laboratorium di Inggris yang berafiliasi dengan FIA. Mereka akan mendapatkan konfirmasi homologasi jika memenuhi persyaratan regulasi teknis. Alur prosedur semacam ini hanya memakan waktu 2 hingga 3 minggu.

Namun, penerapan bahan bakar berkelanjutan membuat alur homologasi menjadi lebih kompleks. FIA telah mendelegasikan proses sertifikasi kepada pihak eksternal, yaitu Zemo. Perusahaan asal Inggris ini bertanggung jawab menganalisis hasil akhir produksi serta melakukan verifikasi keseluruhan rantai produksi. Staf badan sertifikasi langsung datang ke pabrik guna memastikan tahapan produksi memenuhi kriteria yang ditetapkan FIA. Sertifikasi tiap molekul serta mitra yang terlibat dalam proses produksi juga masuk daftar pemeriksaan.

Alur pemeriksaan semacam itu jelas membutuhkan waktu lama. Tidak mengherankan apabila sejumlah produsen mengalami keterlambatan dalam mendapatkan homologasi bahan bakar mereka. GPBlog melansir, ada dua produsen bahan bakar yang dikabarkan telah mengantongi sertifikasi, yaitu Shell dan BP. Shell merupakan pemasok bahan bakar untuk Ferrari, Haas, dan Cadillac. Sementara itu, BP memasok bahan bakar untuk Audi.

Di sisi lain, sebanyak tujuh tim masih harus menunggu hasil homologasi bahan bakar dari pemasok mereka masing-masing. Mercedes, McLaren, Williams, dan Alpine menggunakan bahan bakar dari Petronas. Red Bull dan Racing Bulls mendapat pasokan dari ExxonMobil. Aston Martin menjalin kemitraan pasokan bahan bakar dengan Aramco.

3. Semua tim Formula 1 bisa ikut balapan meski ada yang belum mengantongi sertifikasi bahan bakar

Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi dari pihak terkait dalam proses homologasi bahan bakar. Walau begitu, Petronas, ExxonMobil, dan Aramco kini tengah berupaya mendapatkan sertifikasi tersebut. Mereka hanya punya waktu kurang dari 2 minggu sebelum pekan balap GP Australia 2026.

Di sisi lain, tidak akan ada tim yang absen pada balapan di Sirkuit Albert Park jika belum memiliki bahan bakar berhomologasi. Motorsport melansir, tim tetap mendapat izin ikut balapan jika belum memperoleh sertifikasi untuk komponen tertentu. Itu dengan catatan tim menggunakan bahan bakar dengan campuran yang sesuai dengan aturan. Semua tim juga dipastikan dapat ambil bagian pada tes pramusim kedua di Bahrain pada 18--20 Maret 2026. Sebab, penggunaan bahan bakar berkelanjutan tidak bersifat wajib saat tes.

Belum ada pernyataan resmi dari Petronas, ExxonMobil, dan Aramco mengenai langkah yang akan mereka ambil jika persetujuan bahan bakar tidak turun tepat waktu. Mereka masih bisa menggunakan bahan bakar sintetis meski belum 100 persen sempurna. Ini tentu bukan kondisi ideal. Namun, tim setidaknya mendapat jaminan untuk turun balapan sambil menunggu rampungnya proses homologasi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Gagah N. Putra
EditorGagah N. Putra
Follow Us

Latest in Sport

See More

Presiden FIFA Hadir di KTT BoP, Sempat Kenakan Topi AS

19 Feb 2026, 23:07 WIBSport