Keluhan formal tentang isu kepemilikan ganda terus datang dari para tim pesaing Red Bull. Mengingat, Zak Brown bahkan mendesak FIA secara terbuka untuk meninjau kembali keuntungan finansial dan teknis dari struktur kepemilikan itu. Tekanan politik yang terus meningkat itu memaksa Red Bull segera mempertimbangkan langkah strategis guna menjaga reputasi.
Presiden FIA, Mohammed Ben Sulayem, mengonfirmasi bahwa otoritas balap sedang mempelajari regulasi terbaru untuk membatasi praktik kepemilikan ganda. Federasi itu kemungkinan besar akan mewajibkan setiap perusahaan induk mengoperasikan satu tim saja. Oleh karena itu, kebijakan radikal ini berpotensi mengubah peta kekuatan Formula 1.
Red Bull menghadapi ancaman penjualan paksa Racing Bulls jika FIA memutuskan melarang kepemilikan lebih dari satu tim. Tim itu mesti segera menemukan pembeli potensial atau merancang solusi korporasi inovatif guna memenuhi tuntutan regulasi. Ketidakpastian tentang status kepemilikan itu adalah tantangan besar untuk stabilitas operasional Racing Bulls dalam jangka pendek.
Pada akhirnya, skenario kepemilikan Racing Bulls oleh Max Verstappen mungkin sulit terwujud karena Red Bull masih memiliki banyak opsi realistis. Selain itu, loyalitas Verstappen di Red Bull juga sangat kuat dan dijamin manajernya. Bagaimana pun, keputusan akhir Max Verstappen sebelum jeda musim panas Formula 1 2026 akan menjawab teka-teki besar tentang masa depan Red Bull.