Menilik Kegagalan Mesin Renault di Formula 1 Era Turbo Hybrid

- Mesin Renault sukses sebelum era turbo hybrid, dengan 12 gelar juara dunia konstruktor dan beberapa kemenangan bersama tim lain.
- Era turbo hybrid membuat dominasi mesin Renault berakhir karena gagal beradaptasi dengan perubahan regulasi.
- Keputusan manajemen yang buruk membuat Renault semakin terpuruk, sehingga mereka memutuskan menggunakan mesin Mercedes mulai 2026.
Renault tak akan menggunakan mesin buatan sendiri mulai Formula 1 2026. Team Enstone, julukan tim milik Renault di Formula 1, akan menggunakan mesin Mercedes mulai 2026. Keputusan itu tak lepas dari buruknya performa mesin Renault pada era turbo hybrid.
Renault tak bisa bersaing dengan mesin-mesain dari pabrikan lain, seperti Ferrari, Honda, hingga Mercedes. Pahadal, mesin Renault sebelumnya dikenal sebagai salah satu yang terbaik dalam sejarah Formula 1 dengan koleksi 12 gelar juara dunia konstruktor. Lantas, mengapa mesin Renault begitu buruk pada era turbo hybrid? Simak ulasannya di bawah ini!
1. Mesin Renault begitu sukses sebelum memasuki era turbo hybrid
Renault pertama kali masuk ke Formula 1 pada 1977. Mereka merupakan salah satu pencetus mesin turbo di Formula 1. Terbukti, mesin turbo menjadi mesin paling dominan saat itu sebelum akhirnya dilarang oleh FIA pada akhir 1980-an.
Renault tak hanya membuat mesin untuk timnya sendiri, mereka juga menjadi pemasok mesin bagi tim lain. Pada 1983, Lotus menjadi tim pertama yang menggunakan mesin turbo Renault. Ligier dan Tyrell kemudian menyusul pada 1984 dan 1985.
Kesuksesan mesin Renault terjadi ketika bekerja sama dengan Williams pada 1989--1997. Kombinasi keduanya mengantar Williams merebut lima gelar juara dunia konstruktor. Selain bersama Williams, mesin Renault juga mengatar Benetton dan Michael Schumacher mengawinkan gelar juara dunia pembalap dan konstruktor pada 1995.
Memasuki abad 21, performa mesin Renault semakin bagus. Renault menjadi juara dunia bersama Fernando Alonso pada 2005 dan 2006. Setelah itu, mesin Renault membawa Red Bull meraih empat gelar juara dunia konstruktor beruntun pada 2010--2013. Namun, itu menjadi akhir dominasi mereka di Formula 1.
2. Era turbo hybrid membuat dominasi mesin Renault berakhir
Pada 2014, Formula 1 memperkenalkan mesin V6 turbo hybrid. Mesin baru tersebut terbilang cukup rumit karena memadukan antara pembakaran mesin dengan sistem motor listrik. Renault gagal beradaptasi dengan perubahan regulasi mesin tersebut.
Renault seakan meremehkan perubahan regulasi tersebut karena sebelumnya tampil dominan. Mesin mereka terlihat tak bertenaga serta memiliki masalah reliabilitas. Buruknya mesin Renault membuat tak ada tim lain yang menggunakan mesin tersebut sejak 2021.
Perkembangan mesin Renault tak signifikan dari musim ke musim. Sebagai perbandingan, Honda berhasil membawa Red Bull dan Max Verstappen menjadi juara dunia Formula 1 2021. Padahal, mereka sempat gagal pada era awal turbo hybrid.
Mesin Renault hanya membukukan empat kemenangan selama era turbo hybrid. Tiga di antaranya diraih Daniel Ricciardo bersama Red Bull pada 2014. Satu kemenangan lain disumbang Esteban Ocon bersama Alpine pada 2021.
Kondisi Renault semakin sulit karena regulasi pembekuan mesin pada 2022. Kondisi itu membuat performa Renault semakin memburuk. Alpine bahkan menjadi juru kunci di klasemen konstruktor 2025.
3. Keputusan manajemen yang buruk membuat Renault semakin terpuruk
Pada 2016, Renault memutuskan kembali ke Formula 1 sebagai konstruktor. Mereka memiliki rencana untuk meraih gelar juara dalam 5 musim. Namun, rencana tersebut tak berjalan sesuai dengan apa yang diperkirakan.
Pada 2016, Renault tampil buruk dengan hanya menempati urutan kesembilan klasemen konstruktor. Pada 2017 dan 2018, performa Renault membaik dengan finis di urutan keenam dan keempat. Mereka kemudian masing-masing finis kelima pada 2019 dan 2020. Hasil itu jelas jauh dari tujuan utama Renault yang ingin kembali mendominasi Formula 1.
Salah satu alasan kegagalan rencana tersebut adalah tim tak berdiri secara independen. Pengaruh para eksekutif Renault Group dianggap terlalu besar. Mereka tak belajar dari kegagalan Toyota karena masalah serupa.
Masalah kian pelik setelah tim berganti nama menjadi Alpine. Perubahan nama tersebut dianggap hanya sebagai alat marketing dan tak lagi fokus pada hasil balap. Terbukti, Alpine menjadi salah satu tim terburuk di Formula 1.
4. Renault menggunakan mesin Mercedes mulai 2026
Renault mengumumkan penghentian produksi mesin Formula 1 pada 2024. Musim 2025 menjadi kali terakhir mesin Renault berlaga di Formula 1. Luca De Meo selaku CEO Renault Group mengambil keputusan tersebut karena mesin Renault sudah tak bisa diharapkan untuk meraih kemenangan.
Alpine akan menggunakan mesin Mercedes mulai 2026. Kerja sama dengan pabrikan asal Jerman tersebut akan berlangsung hingga 2030. Mercedes dianggap sebagai tim yang paling kompeten dalam pengembangan mesin regulasi baru. Berkaca pada dominasi mereka pada era turbo hybrid.
5. Renault tak hanya sekali mundur sebagai pemasok mesin di Formula 1
Keputusan Renault untuk berhenti sebagai pemasok mesin di Formula 1 bukanlah kali pertama terjadi. Mereka pernah meninggalkan Formula 1 pada akhir 1986 karena tak lagi kompetitif. Renault kemudian kembali pada 1989 dan meraih kesusksesan bersama Williams dan Benetton pada 1990-an.
Renault kembali mundur dari Formula 1 pada akhir 1997. Mesin Renault kemudian dimodifikasi menjadi Mechachrome, Playlife, hingga Supertec oleh para tim konsumen. Seperti halnya yang terjadi pada Red Bull dengan Red Bull Power Train setelah ditinggal Honda pada akhir 2021. Renault baru kembali ke Formula 1 setelah mengakuisisi Benetton pada 2001.
Renault memiliki sejarah panjang sebagai pemasok mesin di Formula 1. Namun, kegagalan pada era turbo hybrid menjadi alasan Renault mengakhiri produksi mesin Formula 1. Jika menilik sejarah, kemungkinan Renault untuk kembali menjadi pemasok mesin pada masa depan tak tertutup.















