Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Polytron Indonesia Open 2026: Gairah, Teknologi, dan Prestasi Bertaut

Polytron Indonesia Open 2026: Gairah, Teknologi, dan Prestasi Bertaut
Konferensi pers Indonesia Open 2026 (IDN Times/Margith Damanik)
Intinya Sih
  • Polytron Indonesia Open 2026 menampilkan semangat gotong royong seluruh ekosistem bulu tangkis, dari PBSI, sponsor, atlet, hingga masyarakat yang menikmati ajang ini sebagai pesta olahraga rakyat.
  • Sentuhan digital seperti LED interaktif, emoji cam, dan maskot garuda membuat atmosfer Istora makin hidup serta mendapat pujian dari BWF atas inovasi teknologi penyelenggaraan turnamen.
  • Dua wakil Indonesia berhasil tembus final meski belum juara, menandai adanya regenerasi pemain muda dan peningkatan prestasi yang disambut antusias oleh para penggemar di seluruh negeri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Bulu tangkis adalah olahraga rakya, menyatukan semua dalam sebuah ekosistem yang sinergis dan penuh gairah. Hal itulah yang tercermin di Polytron Indonesia Open 2026.

Dalam sesi jumpa pers sebelum ajang ini dihelat, 1 Juni 2026, Ketua Umum PBSI, Fadil Imran, menyatakan Indonesia Open 2026 adalah panggung bersama bagi seluruh ekosistem bulu tangkis Indonesia.

Tidak cuma itu, Fadil juga mengklaim Indonesia Open 2026 adalah ejawantah dari semangat gotong royong. Semua ikut terlibat dalam menyukseskan acara, dengan porsinya masing-masing.

"Indonesia Open dibangun oleh semangat gotong royong. Sponsor menghadirkan penyelenggaraan kelas dunia, PBSI menjaga arah pembinaan dan tata kelola, atlet mendapatkan panggung terbaik, dan masyarakat mendapatkan pengalaman terbaik," ujar Fadil.

Apa yang diharapkan Fadil tak jadi pepesan kosong. Di Polytron Indonesia Open 2026, ekosistem itu terbentuk, mengembalikan bulu tangkis pada muruahnya sebagai olahraga rakyat, berkelindan dengan teknologi dan prestasi.

Fans kembali menikmati bulu tangkis sebagai momen olahraga dan rekreasi

Suasana tribune Istora Senayan di hari pertama Indonesia Open 2026, Selasa (2/6/2026).
Suasana tribune Istora Senayan di hari pertama Indonesia Open 2026, Selasa (2/6/2026). (IDN Times/Aditya Mustaqim)

Selama Polytron Indonesia Open 2026 digelar, masyarakat Indonesia disuguhi oleh ekosistem teratur. Atmosfer Istora tentu masih terasa, tetapi dibalut dengan suguhan yang menarik.

Booth-booth makanan di area Istora hadir untuk memanjakan lidah para pecinta bulu tangkis, dengan harga yang terjangkau. Anak-anak juga bisa bermain, melibatkan Pokemon dan ragam aktivitas bulu tangkis yang sederhana.

Kedekatan fans dengan idolanya juga terasa intim dalam Polytron Indonesia Open 2026. Jarak antara fans dan atlet, dalam jalur sang atlet menuju tempat wawancara media, jauh lebih dekat. Ditambah, selalu ada acara meet and greet dengan para atlet dan legenda bulu tangkis Indonesia di beberapa area, salah satunya adalah booth Djarum Foundation.

Semua aktivitas itu bisa dilakukan secara gratis. Jika ingin masuk area luar Istora, fans tak perlu tiket masuk. Tiket hanya berlaku jika fans ingin masuk ke area dalam Istora, tempat berlangsungnya pertandingan.

Suguhan ini bak pesta bulu tangkis yang kerap kita lihat di acara 17 Agustus, dengan balutan yang lebih modern. Masyarakat tak cuma menonton laga yang menghibur, tetapi juga bisa melakukan rekreasi.

"Indonesia Open tahun ini bukan sekadar pertandingan bulu tangkis kelas dunia, tetapi juga sebuah pengalaman hiburan olahraga yang lebih dekat dengan masyarakat," ujar Ketua Panitia Pelaksana Indonesia Open 2026, Achmad Budiharto.

Sentuhan digital yang menambah seru laga

Sabar/Reza tampil di Indonesia Open 2026.
Sabar/Reza tampil di Indonesia Open 2026. (IDN Times/Sandy Firdaus)

Perkara Istora yang jadi salah satu arena dengan atmosfer kuat adalah rahasia umum. Tunggal putra Taiwan, Chou Tien Chen, senang main di sini, sampai-sampai kerap beratraksi pra dan pasca bertanding. Begitu juga tunggal Hong Kong, Angus Ng Ka Long, yang merasakan dukungan total fans saat main di Istora.

"Atmosfer di sini (Istora) selalu luar biasa. Dengan fans yang sangat bergairah, mereka selalu mendukung semua pemain, tak cuma pemain dari Indonesia saja, tetapi dari negara lain," ujar Angus kepada awak media.

Polytron, selaku sponsor utama turnamen ini, meningkatkan level atmosfer tersebut dengan teknologinya. Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang digital, mereka memaksimalkan sumber dayanya di ajang ini.

Setiap challenge terjadi, kerap ada maskot Garuda berkepala shuttlecock yang muncul di LED e-board arena, menghadirkan ekspresi tegang sembari menanti keputusan umpire (wasit). Maskot itu sukses menularkan rasa tegang itu ke fans.

Ditambah, aroma digital itu terasa manakala ada aktivitas emoji cam, dansa, dan doppelganger yang dihadirkan di layar-layar di Istora. Fans berinteraksi lewat sorot kamera, dan wajah terpampang di layar besar.

"Kami menghadirkan sentuhan teknologi baik di dalam maupun di luar lapangan agar penonton mendapatkan pengalaman yang lebih interaktif dan berkesan," ujar Budiharto.

Khusus penggunaan LED di arena, hal itu juga menuai pujian dari Direktur Event BWF, Selvaam Supramaniam. Menurutnya, penggunaan teknologi ini bisa jadi acuan bagi BWF untuk ajang-ajang ke depan.

"Selamat untuk panitia penyelenggara, PBSI, atas kesuksesan Polytron Indonesia Open 2026. Ini lebih dari ekspektasi kami. Salah satunya adalah penggunaan LED dan kreativitas di baliknya yang sangat bagus. BWF belajar banyak dari uji coba yang dilakukan di sini," ujar Supramaniam.

Adanya peningkatan prestasi, terasanya nafas regenerasi

Raymond Indra/Nikolaus Joaquin di 16 Besar Indonesia Open 2026, Kamis (04/07/2026).
Raymond Indra/Nikolaus Joaquin di 16 Besar Indonesia Open 2026, Kamis (04/07/2026). (IDN Times/Aditya Mustaqim

Di Indonesia Open 2026, memang tak ada wakil tuan rumah yang keluar sebagai juara. Bintang seperti An Se Young, Goh Sze Fei/Nur Izzuddin, Yuki Fukushima/Mayu Matsumoto, hingga Mathias Christiansen/Alexandra Boje, keluar sebagai juara.

Namun, yang patut jadi sorotan adalah meningkatnya jumlah wakil Indonesia di final. Ada dua wakil tuan rumah yang tembus final, yakni dari sektor tunggal putra dan ganda putra.

Jonatan Christie masuk final, meski akhirnya harus kalah dari Victor Lai. Raymond Indra/Nikolaus Joaquin juga menembus partai puncak, walau akhirnya harus tumbang di tangan Goh/Izzuddin.

Sebelumnya, sejak terakhir Marcus Gideon/Kevin Sanjaya menjadi juara Indonesia Open 2021, tak pernah ada dua atau lebih wakil Indonesia di final Indonesia Open 2026. Keberhasilan ini, terutama bagi Raymond/Joaquin, menunjukkan ada napas regenerasi yang sedang diembuskan.

"Dari sisi umur, mereka masih cukup muda dan sudah pernah merasakan juara. Itu modal baik. Tapi tantangan berikutnya adalah bagaimana mengelola ekspektasi dan mentalitas untuk terus tampil konsisten. Itu yang lebih sulit," ujar Kevin.

Nada positif yang semoga berulang tahun depan

Raymond Indra/Nikolaus Joaquin di 16 Besar Indonesia Open 2026, Kamis (04/07/2026).
Raymond Indra/Nikolaus Joaquin di 16 Besar Indonesia Open 2026, Kamis (04/07/2026). (IDN Times/Aditya Mustaqim

Seiring dengan gairah, teknologi, inovasi, dan prestasi yang bertaut di Polytron Indonesia Open 2026, nada positif bermunculan dari para pecinta bulu tangkis. Salah satunya dari Nuri, yang senang dengan adanya dua wakil Indonesia di final.

"Penyelenggaraan tahun ini benar-benar luar biasa, ya. Penonton sangat terlihat antusias dan saya dengar sampai dapat apresiasi dari seluruh dunia. Ada dua wakil Indonesia di final, senang sekali rasanya, sekarang kami kembali punya sobat weekend lagi," ujar Nuri.

Sementara, fans lain bernama Eed yang datang dari Palembang, senang dengan ragam aktivitas di Polytron Indonesia Open 2026. Salah satunya, area interaksi dengan fans yang jauh lebih dekat.

"Kalau sekarang, kami bisa melihat atlet secara langsung, bukan cuma di lapangan. Kalau tidak kebagian tiket, banyak sekali outdoor activity yang bisa kami nikmati di Istora," ujar Eed.

Meet and Greet bersama para legenda bulutangkis Indonesia menjadi daya tarik bagi Eed. Penggemar Hariyanto Arbi dan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir ini sangat antusias bisa menyapa langsung sang idola.

"Mau datang lagi, sangat mau datang banget kalau suasananya seperti di Polytron Indonesia Open 2026," kata Eed saat ditanya apakah dia mau kembali datang atau tidak tahun depan.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Satria Permana
EditorSatria Permana

Related Articles

See More