Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
3 Kontroversi VAR yang Bikin Mesir Meradang saat Kalah dari Argentina
Para pemain Mesir merayakan gol Mohamed Salah ke gawang Selandia Baru (Getty Images via AFP / Fran Santiago)

  • Gol Mostafa Zico dianulir setelah VAR menilai ada pelanggaran Marwan Attia terhadap Lisandro Martinez dalam fase serangan yang sama, membuat Mesir kehilangan gol penyeimbang.
  • Mesir gagal mendapat penalti saat Hamdy Fathy ditarik jersey oleh Alexis Mac Allister, karena VAR menilai kontak terlalu singkat dan tidak memengaruhi peluang menguasai bola.
  • Klaim penalti Mohamed Salah juga ditolak setelah VAR menyimpulkan kontak dengan Julian Alvarez hanyalah benturan biasa tanpa unsur pelanggaran yang cukup jelas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kontroversi menghiasi kemenangan Argentina atas Mesir dengan skor 3-2 dalam babak 16 besar Piala Dunia 2026. Sepanjang duel yang digelar di Atlanta Stadium, Selasa (7/7/2026), tercatat ada dua keputusan yang membuat Mesir meradang.

Gol Mostafa Zico yang dicetak di menit 62, dianulir oleh wasit Francois Letexier setelah meninjau tayangan ulang lewat video assistant referee (VAR). Kemudian, Mesir gak dapat penalti sebelum Argentina mencetak gol kemenangan di akhir babak kedua, meski Hamdy Fathy hingga Mohamed Salah jatuh. Lantas, benarkah keputusan tersebut?

1. Kenapa gol kedua Zico dianulir?

Mesir harus menahan kekecewaan untuk pertama kalinya di menit 62, setelah gol Zico dianulir karena adanya indikasi pelanggaran terlebih dulu. Letexier melihat ada pelanggaran yang dilakukan oleh Marwan Attia terhadap Lisandro Martinez 17 menit sebelum gol terjadi.

Padahal, saat itu para pemain Mesir sudah meluapkan emosinya, berselebrasi dengan eksplosif menyambut gol Zico. Dilansir BBC Sport, keputusan dianulirnya gol Zico dianggap berkaitan dengan fase permainan yang diawali dari jatuhnya Martinez. Hal itu, dianggap wasit Letexier dan VAR berada dalam satu rangkaian serangan balik, sehingga harus dianulir.

2. Mesir gagal dapat peluang penalti

Kontroversi berikutnya muncul menjelang akhir pertandingan ketika Fathy terjatuh di kotak penalti setelah terlihat mendapat tarikan jersey dari Alexis Mac Allister. Para pemain Mesir langsung meminta hadiah penalti. Namun, wasit memilih membiarkan permainan berlanjut.

Ini menjadi momentum krusial. Jika VAR memutuskan terjadi pelanggaran, maka gol Argentina berpotensi dianulir dan Mesir berpotensi memperlebar jarak.

Namun, setelah dilakukan pemeriksaan, VAR menyatakan kontak tersebut tidak memenuhi ambang batas pelanggaran. Tarikan jersey dinilai sangat singkat, tidak berkelanjutan, dan tak memberikan dampak signifikan terhadap peluang Fathy untuk menguasai bola.

3. Klaim penalti Mohamed Salah juga dipatahkan

Penyerang Mesir bernomor punggung 10, Mohamed Salah, mengontrol bola selama pertandingan sepak bola babak 32 besar Piala Dunia 2026 antara Australia dan Mesir di Stadion Dallas di Arlington pada 4 Juli 2026. (AFP/Paul Ellis)

Beberapa saat kemudian, Mohamed Salah juga mengajukan protes setelah terjatuh di dalam kotak penalti usai berduel dengan Julian Alvarez. Meski terlihat terjadi kontak antara kedua pemain, wasit kembali tidak menunjuk titik putih dan VAR memilih mendukung keputusan tersebut.

Hasil pemeriksaan menunjukkan kontak yang terjadi lebih merupakan benturan kaki dengan kaki akibat pergerakan kedua pemain. Bukan pelanggaran yang dilakukan oleh Alvarez. 

Hasil VAR malah menunjukkan Salah  dinilai berusaha mencari penalti sehingga tidak ada tindakan bertahan yang cukup jelas untuk dianggap sebagai pelanggaran.

Ini sempat menjadi bahan perdebatan. Melansir ESPN, perbedaannya terletak pada jenis kontak yang terjadi, karena insiden Attia melibatkan tarikan jersey dan injakan kaki yang berdampak langsung terhadap jalannya serangan, sedangkan dua klaim penalti Mesir dinilai tidak memenuhi kriteria intervensi VAR.

Curated For You

Editorial Team

Related Article