3 Turnamen FIFA yang Bisa Terganggu Usai Boikot UEFA, AFC, dan CONCACAF

- AFC, CONCACAF, dan UEFA mengkritik kepemimpinan Gianni Infantino serta pengelolaan FIFA melalui surat terbuka.
- Tiga konfederasi menyoroti integritas organisasi dan cara FIFA mengambil keputusan, termasuk inisiasi penjualan saham Piala Dunia.
- Ketegangan ini berpotensi mengganggu tiga turnamen FIFA kelompok umur pada 2026 di Polandia, Maroko, dan Qatar.
Jakarta, IDN Times - Posisi FIFA saat ini makin terjepit setelah AFC, CONCACAF, dan UEFA kompak merilis surat terbuka dan melayangkan mosi tak percaya terhadap kepemimpinan Presiden Gianni Infantino. Bahkan, AFC, CONCACAF, dan UEFA, secara tegas menyatakan bisa saja melakukan boikot atas turnamen-turnamen yang diselenggarakan FIFA jika Infantino tak kunjung mundur.
Tentunya, aksi ini bisa memberikan guncangan terhadap kestabilan organisasi FIFA. Sebab, ditinjau dari komposisi, tiga konfederasi tersebut jika digabungkan sudah mencakup 67 persen dari keanggotaan FIFA. Total, ada 143 anggota yang berada di bawah naungan FIFA dari ketiga konfederasi tersebut, dengan proporsi 55 dari UEFA, 47 AFC, dan 41 CONCACAF.
Dengan kondisi ini, bukan gak mungkin eksistensi turnamen FIFA dalam waktu dekat bisa terganggu karena adanya gerakan boikot. Terlebih dalam dua bulan ke depan, FIFA sudah menyiapkan sejumlah agenda untuk bisa diselenggarakan dan melibatkan negara-negara dari ketiga konfederasi tersebut. Apa saja?
1. Piala Dunia Wanita U-20 FIFA 2026 jadi ujian pertama

ilustrasi Piala Dunia (unsplash.com/myprofittutor) ESPN menuliskan turnamen pertama yang menjadi ujian dari ketegangan di tubuh FIFA adalah Piala Dunia Wanita U-20 FIFA 2026. Ajang ini diagendakan berlangsung di Polandia pada 5-27 September 2026 mendatang.
Ini menjadi turnamen FIFA terdekat setelah mencuatnya polemik antara FIFA dengan AFC, CONCACAF, dan UEFA. Dengan diikuti oleh 24 negara dari enam konfederasi, sebanyak setengah dari slot yang disediakan dialokasikan untuk AFC, CONCACAF, dan UEFA.
Ada enam slot yang diberikan kepada UEFA, termasuk tuan rumah Polandia. Sementara, AFC dan CONCACAF masing-masing dapat empat. Artinya, ada 14 negara yang bisa saja ditarik oleh masing-masing konfederasi dari turnamen. Dengan begitu, bisa tersisa 10 tim saja dalam turnamen.
Meski belum ada keputusan resmi mengenai penarikan peserta dari turnamen tersebut, tetap saja ancaman boikot dinilai dapat menjadi tekanan besar bagi FIFA apabila konflik internal tidak segera diselesaikan.
2. Piala Dunia Wanita U-17 FIFA 2026

ilustrasi Piala Dunia (unsplash.com/Fauzan Saari) Setelah turnamen U-20 selesai, FIFA dijadwalkan menggelar Piala Dunia Wanita U-17 di Maroko pada 17 Oktober hingga 8 November 2026. Kompetisi ini juga melibatkan enam konfederasi dengan total 24 peserta yang memperebutkan gelar juara dunia kelompok umur.
Distribusi slot menunjukkan besarnya pengaruh UEFA, AFC, dan CONCACAF. UEFA memperoleh lima tiket, AFC empat tiket, dan CONCACAF empat tiket. Sementara itu CAF mendapat slot lima tiket termasuk untuk tuan rumah, CONMEBOL mendapatkan empat tiket, serta OFC mendapatkan dua tiket.
Jika digabungkan, AFC, CONCACAF, dan UEFA, menguasai lebih dari separuh peserta turnamen, sehingga setiap dinamika hubungan dengan FIFA berpotensi menjadi perhatian menjelang penyelenggaraan kompetisi.
3. Piala Dunia U-17 FIFA 2026

ilustrasi Piala Dunia (unsplash.com/Fauzan Saari) Turnamen lain yang turut menjadi sorotan adalah Piala Dunia U-17 yang diagendakan berlangsung di Qatar pada 19 November hingga 13 Desember 2026 mendatang. Kompetisi ini menggunakan format baru dengan 48 peserta. Besarnya jumlah peserta membuat peran AFC, CONCACAF, dan UEFA semakin signifikan.
UEFA, AFC, dan CONCACAF secara kolektif menyumbang 28 negara peserta dalam putaran final. Bahkan undian grup untuk edisi 2026 telah selesai dilakukan dengan negara-negara dari ketiga konfederasi tersebar di seluruh grup.


















