6 Rekan Setim yang Saling Berhadapan di Final Turnamen Internasional

Piala Afrika memunculkan juara baru saat Senegal mampu menekuk tujuh kali juara, Mesir, di partai puncak. Dengan hasil ini, membuat The Lions of Teranga membayar kegagalan mereka pada partai final edisi sebelumnya. Kala itu mereka harus mengakui keunggulan Aljazair.
Satu hal yang menarik dari partai final tersebut adalah pertemuan dua bintang liverpool, Sadio Mane dan Mohamed Salah. Maka tak heran, banyak yang begitu menantikan duel keduanya. Selain Salah dan Mane, berikut rekan satu tim yang juga saling berhadapan di final turnamen internasional.
1. Mason Mount dan Jorginho (Piala Eropa 2020)

Mason Mount dan Jorginho harus saling beradu skill ketika Inggris berjumpa Italia di final Piala Eropa 2020. Kedua pemain Chelsea tersebut juga dipercaya pelatih mereka masing-masing untuk tampil sejak menit pertama.
Kedudukan sama kuat hingga 120 menit jalannya pertandingan membuat laga harus ditentukan lewat babak adu penalti. Meskipun Jorginho gagal mengeksekusi bola dengan baik. Namun, penampilan gemilang Gianluigi Donnarumma sukses membawa Italia mengangkat trofi Piala Eropa kedua mereka.
2. Angel Di Maria dan Neymar (Copa America 2021)

Neymar harus bertemu rekan setimnya di Paris Saint-Germain, Angel Di Maria, pada partai puncak Copa America 2021. Selecao tentu saja sangat diuntungkan mengingat mereka tampil di kandang sendiri.
Di sisi lain, Argentina mengincar gelar perdana mereka usai menunggu selama hampir 30 tahun. Tim Tango sukses mencuri keunggulan di babak pertama lewat sontekan manis Angel Di Maria.
Brasil yang dimotori Neymar pun tak mau kalah dengan terus mencecar pertahanan Argentina. Namun, hingga peluit berakhir tak ada tambahan gol, sehingga Argentina sukses menjadi juara Copa America.
3. Raphael Varane dan Luka Modric (Piala Dunia 2018)

Kroasia sukses mengejutkan dunia ketika mereka mampu menembus partai final Piala Dunia 2018. Kala itu memang mereka mengandalkan nama-nama tenar, macam Mario Mandzukic, Ivan Rakitic, dan juga Luka Modric.
Di sisi lain Prancis memang begitu diunggulkan karena membawa skuad yang sangat mewah. Sebut saja Kylian Mbappe, Antoine Griezmann, Paul Pogba, hingga Raphael Varane menjadi andalan mereka di tiap lini.
Pada akhirnya, Varane sukses mengangkat trofi Piala Dunia usai Prancis menekuk Kroasia dengan skor 4-2. Namun, penampilan gemilang Modric membuatnya dianugerahi pemain terbaik turnamen dan bahkan meraih Ballon d'Or di tahun yang sama.
4. Cesc Fabregas dan Robin van Persie (Piala Dunia 2010)

Cesc Fabregas dan Robin van Persie jelas menjadi andalan Arsene Wenger usai era The Invincible. Fabregas sukses memainkan perannya sebagai pengatur serangan di lini tengah, sedangkan van Persie menjadi predator tajam di depan gawang lawan.
Keduanya pun dipertemukan kembali di final Piala Dunia 2010 tetapi kali ini sebagai lawan. Fabregas yang memperkuat Spanyol pada akhirnya menjadi pemenang dengan mengalahkan Belanda yang mengandalkan Robin van Persie.
5. Gianluigi Buffon dan David Trezeguet (Piala Dunia 2006)

Final Piala Dunia 2006 tentu tak akan pernah dilupakan oleh David Trezeguet. Kegagalannya mencetak gol ke gawang rekan setimnya di Juventus, Gianluigi Buffon, pada babak adu penalti membuat Prancis gagal mengangkat trofi Piala Dunia.
Di sisi lain, Buffon kala itu tampil brilian menjaga gawang Italia, termasuk penyelamatan krusial ketika menepis tandukan Zinedine Zidane. Bahkan, jika Buffon tak setia bersama Juventus di Serie B, bisa saja ia meraih Ballon d'Or di musim tersebut.
6. Mohamed Salah dan Sadio Mane (Piala Afrika 2021)

Liverpool harus rela kehilangan Mohamed Salah dan Sadio Mane dalam beberapa pertandingan, karena keduanya mampu membawa negaranya masing-masing ke partai puncak Piala Eropa. Duel keduanya pun begitu dinantikan para pecinta sepak bola dunia.
Senegal mengincar gelar perdana mereka, sementara Mesir ingin menggenggam trofi kedelapan. Pertandingan pun berjalan alot dan harus ditentukan lewat babak adu penalti. Meskipun ini ketiga kalinya Mesir melewati babak tos-tosan, justru Senegal yang akhirnya meraih juara.
Sadio Mane menjadi penentu kemenangan The Lions of Teranga usai menjebol gawang Abou Gabal. Hal itu membuat Senegal membayar kegagalan mereka di final pada edisi sebelumnya. Saat itu mereka harus mengakui keunggulan Aljazair lewat skor tipis 0-1.
Meskipun di klub mereka merupakan rekan setim, tetapi pada akhirnya mereka harus saling berhadapan ketika membela negaranya masing-masing. Tentunya ada yang tersenyum bahagia di akhir, tetapi di sisi lain ada yang tertunduk lesu ketika meninggalkan lapangan.



















