Bos Aprilia Puji Mentalitas Marco Bezzecchi, Modal Juara MotoGP 2026?

- Marco Bezzecchi tampil dominan di MotoGP 2026 dengan tiga kemenangan beruntun, membuat CEO Aprilia Racing, Massimo Rivola, terkesan pada konsistensi dan mentalitas juara sang pembalap.
- Meskipun sempat melakukan blunder dan mengalami kerusakan sayap motor di COTA, Bezzecchi tetap mampu beradaptasi cepat dan finis sebagai pemenang, menunjukkan ketangguhan luar biasa di lintasan.
- Aprilia memanfaatkan jeda sebulan sebelum seri Spanyol untuk fokus meningkatkan aerodinamika motor RS-GP agar tetap kompetitif dalam perebutan gelar musim ini.
Jakarta, IDN Times - Start pembalap Aprilia Racing, Marco Bezzecchi, di MotoGP 2026 begitu sempurna. Rider Aprilia Racing itu tak terbendung, dengan selalu menjadi yang tercepat dalam tiga balapan utama, yakni seri Thailand, Brasil, dan Amerika Serikat (AS).
CEO Aprilia Racing, Massimo Rivola, terkesan dengan performa Bezzecchi. Pembalap Italia itu memang belum sempurna di atas lintasan, tetapi konsistensi yang ditunjukkan menjadi pertanda baik dalam perebutan gelar musim ini.
1. Rivola sorot blunder Bezzecchi
Bezzecchi saat ini memimpin klasemen dengan torehan 81 poin. Sebenarnya, dia bisa mendapat 24 poin tambahan lewat sprint race MotoGP AS, pada akhir Maret 2026 lalu, namun justru melakukan blunder.
Bezzecchi juga berkesempatan untuk menyapu bersih poin di MotoGP Thailand jika tidak melakukan blunder. Tetapi, Rivola menyanjung mentalitas Bezzecchi yang selalu menebus dosa balapan sprint di balapan utama.
"Saya harus mengatakan, ketika dia membuat kesalahan pada Sabtu, reaksinya seperti seorang juara keesokan harinya. Itu pertanda yang bagus," kata Rivola, dikutip dari Crash.
2. Sayap patah bukan halangan mendominasi
Rivola dibuat kagum saat Bezzecchi naik podium pertama di Circuit of the Americas (COTA). Mengingat, motor RS-GP miliknya sempat mengalami kerusakan pada sayap belakang akibat senggolan dengan Pedro Acosta sejak putaran pertama balapan.
Rivola menjelaskan hilangnya komponen aerodinamika seharusnya membuat motor menjadi lebih ringan, kurang stabil, dan sulit dikendalikan saat pengereman keras. Tetapi, Bezzecchi tetap mampu menjadi yang tercepat.
"Dia melakukan pekerjaan yang luar biasa dalam beradaptasi, sangat bagus. Jadi, jika ada yang berpikir aerodinamika tidak penting, biarkan saja mereka berpikir begitu," ujar Rivola.
3. Jeda sebulan, Aprilia bakal lakukan apa?
Kini, para pembalap memiliki waktu jeda sekitar sebulan imbas penundaan MotoGP Qatar, sebelum kembali mengaspal di seri Spanyol, pada 26 April 2026 mendatang. Aprilia merasa perlu bekerja keras untuk meningkatkan aerodinamika dan menjaga fokus.
"Biasanya jeda panjang lebih membantu mereka yang mengejar dibandingkan dengan yang memimpin. Kami tiba di tes Sepang dengan sangat mepet. Kami ingin mendorong pengembangan aerodinamika akhir hingga hari terakhir," kata Rivola.



















