Analisis Kolaborasi Barca, Spotify dan Olivia Rodrigo

Selaku salah satu sponsor utama FC Barcelona, Spotify kembali bikin gebrakan dengan menggandeng musisi muda, Olivia Rodrigo. Ini inovasi yang sebenarnya gak benar-benar baru. Barca dan Spotify sudah pernah bikin kolaborasi dengan beberapa musisi lain, seperti Travis Scott, Ed Sheeran, Coldplay, KAROL G, The Rolling Stones, Drake, dan ROSALIA.
Olivia Rodrigo bisa dibilang penerus atau musisi kesekian yang direkrut dalam tradisi tahunan ini. Lalu, mengapa kali ini bisa jadi spesial? Apa strategi yang bisa kita baca dari kolaborasi ini?
1. Sebuah upaya menggaet gen Z
Beberapa pengamat menyoroti fakta bahwa gen Z adalah generasi yang paling minim minat terhadap olahraga, termasuk sepak bola. Ini dilihat dari afiliasi mereka terhadap klub yang bisa dibilang kurang bila dibanding generasi-generasi sebelumnya. Namun, menurut laporan IMG yang melakukan riset sepanjang musim 2021/2022, sebenarnya minat terhadap sepak bola di kalangan gen Z tak serendah yang diklaim orang. Tujuh puluh persen lebih gen Z menyatakan mereka nonton di pertandingan sepak bola langsung di stadion setidaknya sekali dalam sepekan. Ini lebih tinggi dari milenial dan gen X, masih menurut IMG.
Lantas, apa yang berubah? Dalam laporan itu, IMG sih menyebut kalau gen Z punya cara berbeda untuk menikmati pertandingan olahraga yang membuat mereka terlihat tak seberapa tertarik. Yakni, retensi nonton pertandingan selama 90 menit yang cukup rendah. Mereka lebih memilih mengikuti turnamen atau pertandingan lewat cuplikan di media sosial, ketimbang nonton siaran langsungnya. Mereka juga tertarik kepada hal-hal di luar teknis pertandingan, seperti meme, fesyen, bahkan politik di baliknya.
Jordan Wise dari Gameplayer juga membahas tendensi tersebut lewat esai berjudul ‘The Culture Wars in Football: Why Gen Z Fans Are Forcing Clubs to Rethink Everything’. Ia berargumen kalau gen Z tak lagi peduli soal sejarah dan performa klub sepak bola layaknya generasi terdahulu. Klub olahraga kerap dapat penggemar baru dari kalangan gen Z lewat afiliasi musisi atau selebriti. Tak pelak, Spotify dan Barca melihat ini sebagai momen kolaborasi yang sempurna. Barca butuh menggaet fans baru dari kalangan gen Z dan Spotify butuh eksposur untuk mempertahankan dan menambah jumlah pelanggan layanan mereka.
2. Penjualan merchandise Olivia Rodrigo bisa jadi kunci
Masih menyambung artikelnya Jordan Wise, gak heran kalau Olivia Rodrigo dipilih jadi kolaborator baru dalam tradisi tahunan itu. Bersamaan dengan pengumuman kolaborasi, FC Barcelona dan Spotify merilis beberapa pernak-pernik edisi khusus Olivia Rodrigo dalam jumlah terbatas. Ini bukan ide sembarangan, lho. Penjualan pernak-pernik alias perintilan yang mungkin dulu tak dianggap penting beberapa tahun belakangan meningkat. Menurut WTO, peningkatannya sudah terbaca sejak kuartal tiga 2025.
Salah satu penyumbangnya mungkin gen Z yang punya pola konsumsi unik. Menurut laporan Shots dan McKinsey, gen Z mengasosiasikan konsumsi dengan ekspresi diri. Mereka tak segan membeli produk dari jenama yang mewakili nilai yang mereka anut. Satu lagi, mereka juga punya ketertarikan khusus terhadap produk-produk fisik, setidaknya menurut liputan CNBC pada Maret 2026. Tak pelak, ini yang mungkin mendasari makin banyaknya toko produk fisik di pusat perbelanjaan dan marketplace. Hobi luring dan koleksi barang analog pun sedang gencar dibicarakan di media sosial. Gen Z adalah pelaku utamanya.
3. Masa depan industri olahraga bakal makin cair
Dari sini kita sudah bisa melihat sebuah pola dalam industri olahraga. Dahulu, fokus kita terkonsentrasi pada pertandingan dan atlet, tetapi kini gen Z memaksa industri untuk melihat bisnis dengan cara pandang yang lebih luas dan cair. Ada fesyen, kultur meme dan narasi unik yang bisa dikembangkan. Tak lupa nilai-nilai politik dan sosial yang bisa memengaruhi keputusan gen Z untuk berinteraksi dengan klub.
Ke depannya, mungkin tak hanya musisi yang bakal dilibatkan, tetapi bisa meluas ke pemengaruh alias internet personality. Suka tak suka, mereka memegang peranan penting dalam memengaruhi pola konsumsi anak muda saat ini. Termasuk gen Z yang dalam beberapa tahun ke depan bakal mendominasi populasi usia produktif alias target konsumen utama.
Pertanyaannya, perlukah klub-klub sepak bola mengadaptasi kampanye serupa? Akankah klub yang menolak untuk beradaptasi tenggelam ditelan zaman seiring fans mereka yang juga menua? Ini bisa jadi bahasan menarik yang baru bisa terjawab beberapa tahun atau bahkan beberapa dekade ke depan.


















