Jakarta, IDN Times - Oleh banyak orang, sepak bola sering dianggap sebagai permainan insting. Namun bagi Ayyoub Bouaddi, permainan ini lebih mirip persamaan yang bisa dibaca dan dipecahkan.
Di tengah derasnya generasi wonderkid yang datang silih berganti, gelandang muda Timnas Maroko itu muncul dengan sesuatu yang berbeda: ketenangan yang tidak wajar, dan cara berpikir yang terasa lebih tua dari usianya.
Di Piala Dunia 2026, saat Maroko menahan imbang Brasil 1-1, sorotan memang jatuh pada hasil. Tetapi yang menarik perhatian dunia justru satu nama, remaja 18 tahun yang mengatur ritme permainan seolah ia sudah bermain di level ini selama bertahun-tahun.
Di lapangan itu, di antara nama-nama besar seperti Vinicius Junior, Lucas Paqueta, hingga Casemiro, Bouaddi tidak tampak terseret atmosfer. Mahasiswa jurusan matematika itu justru menjadi pusat kecil dari keteraturan.
Bouaddi mampu mengendalikan ritme permainan dengan ketenangan yang membuat banyak orang lupa, ia bahkan belum cukup umur untuk mengemudi di negara Eropa.
Legenda Inggris Alan Shearer menyebut penampilannya tidak lazim untuk pemain seusianya. Ia dianggap punnya gabungan kecerdasan taktis, ketenangan, dan efisiensi yang muncul sekaligus.
“[Ayyoub] Bouaddi di lini tengah Maroko jadi salah satu yang terbaik di lapangan. Itu soal caranya bermain efisien dalam menguasai bola, mencoba mengatur tempo di tengah permainan,” kata Shearer, dikutip BBC Sport.
Malam itu bukan sekadar hasil besar bagi Maroko. Itu adalah malam ketika dunia mulai menyadari bahwa ada pemain yang tidak sekadar bermain sepak bola, tetapi membaca permainan seperti sesuatu yang bisa dihitung.
Dan bagi mereka yang mengenalnya sejak kecil, tidak ada yang benar-benar mengejutkan.
