Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bagaimana jika Dulu Messi Lebih Pilih Spanyol, Bukan Argentina?
Penyerang Argentina bernomor punggung 10, Lionel Messi, merayakan kemenangannya setelah memenangkan pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 antara Inggris dan Argentina di Stadion Atlanta, Atlanta, pada 16 Juli 2026. (AFP/Odd Andersen)
  • Messi hampir membela Spanyol karena sejak remaja tinggal di Barcelona dan sempat ditawari Federasi Sepak Bola Spanyol, namun Argentina bergerak cepat mengamankan statusnya lewat laga tim junior.
  • Andai Messi bergabung dengan generasi emas Spanyol 2008–2012, dominasi La Roja bisa lebih panjang berkat chemistry-nya dengan pemain Barcelona dan pemahaman mendalam terhadap gaya tiki-taka.
  • Tanpa Messi, Argentina tetap kuat lewat deretan penyerang top, tapi mungkin kesulitan meraih trofi besar secepat ini; keputusan Messi memilih Argentina akhirnya membentuk kisah ikonik sepak bola dunia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Final Piala Dunia 2026 siap mempertemukan dua kekuatan besar sepak bola dunia, yaitu Argentina dan Spanyol. Namun, di balik duel bergengsi tersebut tersimpan satu fantasi besar yang masih terus memancing rasa penasaran para penggemar sepak bola. Bagaimana jika Lionel Messi memilih untuk membela Timnas Spanyol, bukan Argentina?

Pertanyaan itu tentu bukan sekadar imajinasi belaka. Faktanya, Messi memang pernah sedekat itu untuk mengenakan seragam La Furia Roja. Bahkan, menurut sejumlah tokoh sepak bola Argentina, Federasi Sepak Bola Spanyol sempat berupaya keras membujuk sang wonderkid agar menjadi bagian dari generasi emas Spanyol yang sempat begitu mendominasi sepak bola dunia.

1. Messi benar-benar pernah hampir membela Spanyol

Lionel Messi pindah dari Rosario ke Barcelona pada usia 13 tahun setelah akademi La Masia bersedia menanggung biaya terapi hormon pertumbuhannya. Seiring berjalannya waktu, ia tumbuh menjadi salah satu talenta terbaik akademi Barcelona dan menghabiskan masa remajanya di Spanyol. Karena tinggal cukup lama di Negeri Matador, Messi berhak memperoleh kewarganegaraan Spanyol. Ia akhirnya resmi menjadi warga negara ganda pada September 2005, sebuah langkah yang juga memudahkan Barcelona memenuhi regulasi kuota pemain non-Uni Eropa di kompetisi LaLiga.

Namun, jauh sebelum paspor Spanyol itu terbit, Federasi Sepak Bola Spanyol sebenarnya sudah bermanuver melakukan pendekatan. Mantan pelatih Argentina, José Pékerman, bahkan mengungkapkan kepada Diario Olé pada 2019 bahwa dokumen agar Messi membela Spanyol di Piala Dunia U-20 sempat dipersiapkan. Pékerman menyadari ancaman tersebut sehingga Argentina bergerak cepat. Ia meminta Messi tampil dalam laga persahabatan tim nasional junior sekaligus menandatangani lembar pertandingan agar status internasionalnya segera tercatat di FIFA. Langkah itu praktis menutup peluang Spanyol merekrutnya.

Cerita lain juga datang dari Omar Souto, mantan pejabat Federasi Sepak Bola Argentina (AFA). Dalam wawancaranya bersama TyC Sports, Souto mengisahkan bagaimana AFA sampai harus melacak keluarga Messi melalui neneknya di Rosario demi memastikan sang pemain tidak direbut Spanyol. Menurut ESPN, pelatih tim muda Spanyol saat itu, Ginés Meléndez, begitu berambisi membujuk Messi hingga sempat bercanda bahwa ia ingin "menculiknya". Di saat yang sama, Barcelona juga dihuni banyak calon pemain generasi emas Spanyol seperti Cesc Fàbregas dan Gerard Piqué yang sudah lebih dahulu memperkuat tim nasional kelompok umur.

2. Generasi emas Spanyol bisa saja menjadi lebih mustahil dikalahkan

Bayangkan jika Messi menerima tawaran tersebut. Saat Spanyol memasuki periode keemasannya medio 2008 hingga 2012, mereka sudah memiliki Xavi Hernández, Andrés Iniesta, David Villa, Sergio Busquets, Xabi Alonso, Carles Puyol, Gerard Piqué, Iker Casillas, hingga Cesc Fàbregas. Tim ini memenangi Euro 2008, Piala Dunia 2010, dan Euro 2012 secara beruntun.

Kini, bayangkan jika Lionel Messi menjadi bagian dari susunan pemain tersebut. Messi sudah mengenal filosofi permainan tiki-taka sejak usia belasan tahun di Barcelona. Ia juga telah bermain bersama sebagian besar pemain inti Spanyol setiap pekan di level klub. Adaptasi hampir tidak akan menjadi masalah karena chemistry mereka sudah terbentuk jauh sebelum membela tim nasional.

Bukan tidak mungkin dominasi Spanyol menjadi jauh lebih panjang. Gelar-gelar yang sudah diraih mungkin bertambah, sementara era kejayaan negara-negara lain bisa saja tertunda. Bahkan, perjalanan karier Messi di level internasional juga berpotensi sangat berbeda karena ia mungkin sudah mengoleksi lebih banyak trofi sejak usia muda. Dalam skenario seperti itu, bukan tidak mungkin pula Messi telah memilih pensiun dari tim nasional lebih awal. Jika ia sudah meraih hampir semua gelar internasional bersama Spanyol sejak dekade 2010-an, motivasi untuk terus bermain hingga usia 39 tahun mungkin tidak akan sebesar yang kini ia lakoni bersama Argentina.

3. Argentina mungkin tetap kuat, tetapi ceritanya berbeda

Di sisi lain, absennya Messi bukan berarti Argentina otomatis menjadi tim biasa. Selama era Messi, Argentina tetap konsisten melahirkan penyerang kelas dunia. Mulai dari Hernan Crespo, Javier Saviola, Carlos Tévez, Sergio Agüero, Gonzalo Higuaín, Ángel Di María, hingga generasi baru seperti Julián Álvarez dan Lautaro Martínez menjadi bukti bahwa lini depan La Albiceleste tidak pernah kekurangan kualitas.

Argentina juga kemungkinan masih mampu bersaing di level tertinggi dunia lewat stok penyerang tersebut. Mereka tetap berpeluang mencapai babak akhir Copa América maupun Piala Dunia berkat tradisi pembinaan pemain yang kuat. Namun yang mungkin berubah adalah efektivitas mereka dalam mengubah peluang menjadi trofi.

Messi bukan hanya pencetak gol, tetapi juga kreator permainan, pengatur tempo, sekaligus sosok pembeda dalam pertandingan besar. Kontribusinya sangat terasa saat membawa Argentina menjuarai Copa América 2021, Finalissima 2022, Piala Dunia 2022, hingga kembali menembus final Piala Dunia 2026. Tanpa Messi, perjalanan Argentina menuju gelar-gelar tersebut kemungkinan akan jauh lebih berat. Mereka mungkin tetap menjadi salah satu kekuatan utama sepak bola dunia, tetapi belum tentu mampu mengakhiri puasa trofi selama puluhan tahun pada waktu yang sama.

4. Messi memilih hatinya bukan jalan termudah

Menariknya, kesempatan membela Spanyol sebenarnya tidak pernah benar-benar menggoda Messi. Dalam wawancara bersama Pasión por el Fútbol pada 2018, Messi mengaku pernah diberi tahu bahwa jika memilih Spanyol, ia mungkin sudah lebih cepat menjadi juara dunia. Bagi dirinya, gelar bersama Argentina memiliki makna yang tidak bisa dibandingkan dengan apa pun.

Pernyataan serupa kembali ia tegaskan dalam podcast Miro de Atrás pada 2026. Messi mengakui peluang membela Spanyol memang nyata, tetapi keinginannya sejak kecil tidak pernah berubah, yaitu mengenakan seragam Timnas Argentina. Keputusan itulah yang akhirnya membentuk salah satu kisah paling ikonis dalam sejarah sepak bola. Dari seorang bocah Rosario yang sempat hampir direbut Spanyol, Messi justru menjadi simbol kebangkitan Argentina yang kini kembali memimpin La Albiceleste menghadapi negara yang dahulu nyaris menjadi rumah keduanya di final Piala Dunia 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article