Spanyol Gak Bakal Jaga Ketat Messi di Final Piala Dunia 2026, Trauma!

- Luis de la Fuente menegaskan Spanyol tidak akan memberi penjagaan ketat pada Lionel Messi di final Piala Dunia 2026 meski mengakui sang kapten Argentina sebagai ancaman utama.
- Pengalaman pahit De la Fuente saat timnya dikalahkan Messi muda pada 2004 membuatnya enggan menerapkan strategi man-marking yang justru bisa berbalik merugikan tim.
- Spanyol memilih bermain kolektif setelah melihat bagaimana fokus berlebihan Inggris pada Messi di semifinal justru membuka ruang bagi pemain Argentina lain mencetak gol penentu.
Jakarta, IDN Times - Kapten Argentina, Lionel Messi, merupakan ancaman terbesar bagi Spanyol di final Piala Dunia 2026, pada Senin dini hari WIB (20/7/2026). Meski begitu, La Furia Roja rupanya tidak akan memberikan penjagaan ekstrem di laga nanti.
Keputusan tersebut diungkap langsung oleh pelatih Spanyol, Luis de la Fuente. Dia mengaku memiliki alasan tersendiri enggan memberikan perlakuan khusus kepada pemilik delapan Ballon d'Or itu, salah satunya karena trauma masa lalu.
1. Pernah coba kawal Messi, justru dibikin menderita
Usut punya usut, De la Fuente ternyata memiliki pengalaman pahit saat bersua Messi remaja pada 2004 lalu. Kala itu, De la Fuente menukangi tim junior Sevilla yang bersua Barcelona di Copa del Rey U-19. De la Fuente sudah mendengar tentang bakat langka yang dimiliki La Masia tersebut. Ia pun memutuskan untuk mengutus satu pemain untuk mengawalnya secara khusus. Rencananya sempat berhasil, namun, tetap berujung pada petaka.
"Saya akan menceritakan sesuatu yang lucu tentang Messi. Sebelumnya kami banyak mendengar tentang seorang anak bernama Messi. Karena itu, kami menugaskan satu pemain untuk mengawalnya secara khusus. Sampai menit ke-70 skor masih 0-0. Namun, ketika pemain yang mengawalnya mendapat kartu kuning, saya menariknya keluar. Dalam 15 menit berikutnya, Messi mencetak empat gol," kenang De la Fuente dikutip The Guardian.
2. Tidak boleh hanya fokus ke Messi
De la Fuente tak mau pengalaman pahit itu terulang. Spanyol enggan menggunakan strategi man-marking terhadap Messi. Mereka harus bermain kolektif sambil mengawasi semua pemain Argentina dengan tingkat kewaspadaan yang setara.
"Apakah itu berarti kami akan mengawalnya secara khusus? Tidak. Apakah kami akan memberikan perhatian ekstra kepadanya? Ya. Namun, sama seperti mereka juga harus memberi perhatian kepada para pemain kami," ucap De la Fuente.
3. Inggris jadi korban magis Messi
Momen ketika Argentina melakukan comeback sensasional atas Inggris di semifinal bisa menjadi pelajaran bagi Spanyol. Messi berhasil memberikan dua assist, meski sempat dibuat frustrasi. Messi mencatatkan dua assist dalam waktu singkat untuk gol Enzo Fernandez (85') dan Lautaro Martinez (90+2'). Kedua gol itu lahir dengan pola yang serupa, ketika fokus para pemain Inggris tersedot untuk mengantisipasi pergerakan Messi, sehingga membuka ruang bagi rekan-rekannya.






















