4 Cerita Unik Timnas Italia di Piala Dunia 1938, Ada Celana Melorot

- Brasil terlalu percaya diri jelang semifinal Piala Dunia 1938, bahkan sudah memesan tiket pesawat ke Paris sebelum melawan Italia, yang memicu semangat juang tim Gli Azzurri.
- Pelatih Brasil mencadangkan Leonidas da Silva, top skorer turnamen, sehingga lini depan tumpul dan Italia unggul lewat strategi disiplin khas Vittorio Pozzo.
- Giuseppe Meazza sukses mencetak gol penalti meski celananya melorot di tengah laga, membawa Italia menang 2-1 atas Brasil dan akhirnya menjuarai Piala Dunia 1938.
Bagi penggemar sepak bola Italia, Giuseppe Meazza mungkin familier. Apalagi, namanya diabadikan sebagai nama stadion di Milan, Italia, sekaligus markas dua klub raksasa, AC Milan dan Inter Milan. Di balik statusnya sebagai legenda, ada satu cerita unik yang belum banyak diketahui orang. Momen itu terjadi pada semifinal Piala Dunia 1938.
Saat itu, Italia berhadapan dengan wakil Amerika Selatan, Brasil. Pertemuan keduanya menjadi ajang adu taktik dan persaingan meraih satu tiket ke babak puncak. Tidak heran ia dibumbui beragam drama, dari persoalan tiket pesawat hingga insiden celana melorot Giuseppe Meazza.
1. Dibumbui keangkuhan Brasil menjelang bertemu Italia pada semifinal
Menjelang semifinal, tensi memanas. Brasil saat itu sangat percaya diri. Mereka yakin bakal melaju ke final di Paris, Prancis. Saking yakinnya, mereka memesan seluruh kursi pesawat rute Marseille–Paris sebelum melawan Italia.
Rasa jemawa ini muncul lantaran Brasil melibas dua tim Eropa. Polandia dan Cekoslowakia dibekuk masing-masing pada babak 16 besar dan perempat final. Sebagai catatan, saat itu Piala Dunia 1938 memakai sistem gugur alih-alih penyisihan grup.
Presiden Federasi Sepak Bola Italia, Giorgio Vaccaro, sempat mengutus pelatih Italia, Vittorio Pozzo, untuk melobi Brasil. Pozzo meminta agar mereka bersedia memberi tiket pesawat jika ternyata kalah pada semifinal. Namun, jawaban Brasil di luar dugaan. "Maaf, kami yang akan pergi ke Paris. Semuanya sudah diputuskan," ujar Carlos Volante, penerjemah Brasil saat itu, seperti dilansir situs resmi FIFA.
Negosiasi berakhir buntu, Pozzo pun pulang dengan tangan hampa. Namun, ia membawa "oleh-oleh" berupa bara yang digunakan untuk membakar semangat para pemainnya. Ia menegaskan kepada anak asuhnya kalau Brasil sudah meremehkan Italia. Giuseppe Meazza, yang saat itu berada di dalam tim, ikut naik pitam.
2. Keputusan mencadangkan striker lincah, Leonidas, menjadi bumerang untuk Brasil
Persoalan Brasil tidak berhenti di urusan tiket. Pelatih mereka, Adhemar Pimenta, membuat keputusan berisiko dengan mencadangkan striker maut mereka, Leonidas da Silva. Padahal, Leonidas adalah top scorer turnamen dengan koleksi 7 gol dari 2 pertandingan.
Alasan sebenarnya tidak diketahui dengan pasti. Beberapa menduga ini karena Brasil terlalu percaya diri. Beberapa mengira ini terjadi karena Leonidas kelelahan setelah melawan Cekoslowakia. Pertandingan digelar sebanyak dua kali karena berakhir imbang pada pertemuan pertama.
Semifinal Italia melawan Brasil sendiri berlangsung di Stade Velodrome, Marseille, Prancis, pada 16 Juni 1938. Tanpa Leonidas, lini depan Brasil tampil tumpul. Sofascore News dalam ulasannya baru-baru ini bahkan menyebutnya sebagai blunder taktik yang fatal.
Sementara itu, Italia tampil sangat disiplin. Vittorio Pozzo menerapkan strategi yang menjadi cikal bakal Catenaccio, cara bermain dengan bertahan dengan rapat, lalu menghajar lewat serangan balik cepat. Tidak ada gol yang tercipta pada babak pertama, tetapi tensi pertandingan meningkat selepas turun minum. Gli Azzuri bahkan unggul lebih dulu pada menit 51 melalui gol Gino Colaussi.
3. Insiden celana melorot Giuseppe Meazza terjadi saat hendak mengeksekusi penalti
Italia mendapatkan hadiah penalti setelah striker mereka, Silvio Piola, dilanggar bek Brasil, Domingos da Guia. Giuseppe Meazza, kapten tim sekaligus gelandang serang andalan, maju sebagai eksekutor. Saat ia bersiap mengambil ancang-ancang di depan 33 ribu penonton, sebuah insiden terjadi. Karet celananya mendadak putus.
Pada salah satu momen paling krusial dalam kariernya, pemain Inter Milan itu pun harus berpikir keras antara fokus menendang bola dan menjaga harga diri agar celananya tidak melorot. Meazza ragu sesaat, tetapi otaknya bekerja cepat. Seperti dilansir situs resmi UEFA, tanpa membuang waktu, ia berlari ke arah bola. Tangan kirinya terulur untuk mendukung ancang-ancang, sementara tangan kanan memegang pinggiran celananya agar tidak terjatuh. Dengan posisi tidak biasa itu, Meazza mampu menendang dengan sempurna dan menyarangkan bola ke gawang Brasil yang dikawal Walter de Souza pada menit ke-60. Italia menang 2-1.
"Bagiku, laga melawan Brasil adalah yang termudah di seluruh Piala Dunia," kenang Giuseppe Meazza dalam sebuah wawancara tentang pertandingan itu, seperti dikutip situs resmi FIFA.
4. Italia melaju ke final dan mengalahkan Hungaria di sana
Beberapa laporan menyebut, rekan setim Giuseppe Meazza sempat melihat celananya melorot hingga mengekspos bagian privat saat mengeksekusi penalti. Sebagian menduga, ini adalah pelampiasan rasa kesal Meazza atas Brasil yang memandang sebelah mata. Namun, yang pasti, gol tersebut membuat peluang Brasil menipis.
Tim Samba memperkecil ketinggalan lewat gol Romeu dari sepak pojok pada menit ke-87. Hanya saja, gol sensasional tersebut tidak berarti apa-apa. Skor 2-1 untuk kemenangan Italia tidak berubah hingga peluit tanda berakhirnya pertandingan ditiup wasit, Georges Capdeville.
Berkat kemenangan itu, Italia berangkat ke Paris untuk tampil pada final Piala Dunia 1938. Anak asuh Vitorio Pozzo naik kereta api karena tiket pesawatnya sudah di tangan Brasil. Di partai puncak, Italia lalu menggilas Hungaria dengan skor 4-2. Mereka menegaskan diri sebagai juara dunia untuk dua kali beruntun.
Berkat gelar juara Italia di Piala Dunia tersebut, kepopuleran Giuseppe Meazza ikut meroket. Di Milan, ia disambut 20 ribu orang begitu tiba di stasiun kereta. Insiden celana melorotnya menjadi candaan, bahkan masuk lagu Italia pada dekade 1930-an. Sejak itu, Meazza bukan lagi pemain sepak bola, melainkan superstar olahraga Negeri Piza.
















