6 Fakta Lolosnya Irak ke Piala Dunia 2026, Ulangi Sejarah Emas

- Irak memastikan tiket ke Piala Dunia 2026 setelah menumbangkan Bolivia 2-1 di final play-off antarkonfederasi, mengakhiri penantian 40 tahun sejak terakhir tampil pada edisi 1986.
- Perjalanan panjang selama 28 bulan dengan 21 laga kompetitif menjadi kunci kekuatan tim yang kini diperkuat pemain dari klub-klub Eropa dan Asia di bawah arahan pelatih Graham Arnold.
- Lolosnya Irak bukan hanya prestasi olahraga, tapi juga simbol kebangkitan citra negara yang ingin menunjukkan sisi positifnya kepada dunia melalui sepak bola dan meningkatnya sektor pariwisata.
Timnas Irak mengakhiri penantian panjang untuk kembali ke panggung Piala Dunia. Kepastian ini didapat setelah tim berjuluk Singa Mesopotamia tersebut menumbangkan Bolivia dengan skor 2-1 dalam final play-off antarkonfederasi di Estadio BBVA, Monterrey, Meksiko, Rabu (1/4/2026). Kemenangan tersebut disambut dengan sukacita oleh para suporter Irak yang menonton langsung di stadion atau di layar kaca.
Kemenangan penting atas perwakilan Amerika Selatan berarti banyak untuk Irak. Mereka kini tak cuma bertaji dalam ajang regional atau Piala Asia, tapi juga berkesempatan unjuk gigi di panggung yang lebih besar. Seperti apa sepak terjang mereka? Berikut ini fakta di balik lolosnya Irak ke Piala Dunia 2026.
1. Kulminasi dari perjalanan selama 28 bulan sejak 2023
Tiket Piala Dunia 2026 ini diraih setelah Irak melewati salah satu rute kualifikasi terlama dalam sejarah mereka, yakni memakan waktu hingga 28 bulan. Sejak November 2023, Irak telah melakoni 21 pertandingan kompetitif melawan berbagai negara, mulai dari Indonesia hingga raksasa Asia seperti Korea Selatan. Empat babak dilalui pada putaran kedua, putaran ketiga, putaran keempat, serta play-off antarkonfederasi sebagai tahap pemungkas.
Gelandang, Merchas Doski, menyebut, pengalaman menjalani 20 laga bertekanan tinggi jadi modal utama membungkam Bolivia. "Kami sudah melewati banyak hal dan itu pasti membuat kami lebih kuat. Kami tahu bagaimana menangani situasi tekanan tinggi karena kami sudah sering berada di posisi ini sebelumnya," ujarnya seperti dilansir situs resmi FIFA.
2. Irak terakhir kali lolos Piala Dunia pada 1986 yang berlangsung di Meksiko
Irak terakhir kali tampil di Piala Dunia Meksiko 1986 atau 40 tahun silam. Saat itu, legenda seperti Ahmed Radhi dan Hussein Saeed menjadi andalan utama. Tim yang diasuh kepala pelatih asal Brasil, Evaristo de Macedo, tersebut tergabung di Grup B bersama Belgia, Meksiko, dan Paraguay.
Irak harus puas finis sebagai juru kunci fase grup karena tidak mendapat satu pun poin. Namun, mereka tampil cukup baik untuk ukuran tim debutan alias tidak menjadi lumbung gol. Irak kalah 0-1 dari Paraguay di partai pembuka, takluk dengan skor tipis 1-2 atas Belgia, dan lagi-lagi kena bekuk 0-1 dari Meksiko pada laga terakhir.
3. Memiliki skuad dengan pemain yang tersebar di Eropa dan Asia
Berdasarkan pengumuman di akun X mereka, Timnas Irak saat ini dihuni para pemain yang tersebar di Asia dan Eropa. Merchas Doski (Viktoria Plzen), Hussein Ali (Pogon Szczecin), dan Amir Al-Ammari (Cracovia) merumput di Benua Biru. Youssef Amyn (AEK Larnaca), Zidane Iqbal (FC Utrecht), Marko Farji (Venezia), hingga Ali Al-Hamadi (Luton Town) juga begitu.
Sejumlah penggawa merantau di Asia, mulai dari Rebin Sulaka (Port FC), Frans Putros (Persib Bandung), hingga Zaid Tahseen (Pakhtakor Tashkent). Ibrahim Bayesh (Al Dhafra), Ali Jasim (Al Najma), serta Mohanad Ali (Dibba FC) juga bermain di Benua Kuning. Mereka bahu-membahu bersama sejumlah pemain di Liga Irak macam Fahad Talib, Manaf Younis, Hassan Abdulkareem, serta Aymen Hussein dan Ali Youssif.
4. Tuah dari pelatih gaek bernama Graham Arnold
Pelatih gaek, Graham Arnold, menjadi salah satu aktor utama di balik lolosnya Irak. Ia ditunjuk sebagai pengganti Jesus Casas pada Mei 2026 atau di tengah putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia. Mereka lolos dari lubang jarum sebanyak tiga kali, termasuk play-off antarkonfederasi, lantaran selalu lolos ke putaran selanjutnya berkat status peringkat 2 atau 3 terbaik.
Juru taktik berusia 62 tahun tersebut tampaknya selalu sukses membawa tuah jika menukangi tim nasional. Ada sejumlah prestasi yang diraihnya ketika bertugas di Australia pada 2006–2007 dan 2018–2024. Ia membawa timnya lolos ke perempat final Piala Asia 2007, perempat final Piala Asia 2019, serta babak 16 besar Piala Dunia 2022.
Kini, Arnold membawa tuah tersebut ke Irak, tim kawasan Timur Tengah pertama dalam kariernya sebagai pelatih. Ia tak menyembunyikan kebahagiaan atas capaian tersebut. "Aku katakan kepada mereka (para pemain) bahwa aku sangat senang karena kami telah berhasil membahagiakan 46 juta orang, terutama karena apa yang sedang terjadi di Timur Tengah saat ini. Aku merasa sangat bahagia untuk mereka," tuturnya seperti dilansir The National.
5. Lolos ke Piala Dunia menjadi cara tim mengubah citra Irak
Bagi Irak, lolos ke Piala Dunia bukan hanya prestasi olahraga, melainkan juga soal harga diri bangsa. Sebagian pemain menyebut, selama ini media kerap keliru menggambarkan citra Irak dari segi keamanan. Padahal, dilansir Tehran Times, tercatat ada 892.000 wisatawan asing datang ke Irak sepanjang 2024. Industri pariwisata mendatangkan keuntungan mencapai 5,7 miliar dolar AS (setara 99 triliun rupiah), tertinggi ketujuh dari negara-negara Arab lainnya, dan naik 25 persen dari tahun sebelumnya.
"Aku rasa media telah menciptakan gambaran yang keliru tentang Irak karena ini adalah negara yang indah dan sedang bangkit kembali. Semakin banyak orang mulai mengunjungi negara ini. Dan ketika Anda berkunjung, Anda dapat melihat betapa ramah dan murah hatinya rakyat Irak," ungkap Merchas Doski seperti dilansir situs resmi FIFA beberapa hari jelang laga lawan Bolivia.
6. Dilema Marko Farji yang lahir dan besar di Norwegia, calon lawan Irak di fase grup
Hasil undian putaran final menempatkan Irak di Grup I bersama Norwegia, Prancis dan Senegal. Norwegia jadi lawan di laga pembuka yang dijadwalkan 16 Juni 2026 mendatang. Pertandingan ini akan terasa sangat personal bagi pemain sayap, Marko Farji. Ia lahir dan besar di Norwegia, tepatnya di Grimstad, tapi memilih membela negeri asal orangtuanya.
Pemain klub Venezia tersebut memang lahir dan besar di Norwegia, tapi Irak tetaplah tanah airnya. "Aku adalah bagian dari kedua negara, tapi aku tidak bisa mendeskripsikan perasaanku saat ini. Pertama, aku sangat bahagia, kami belum pernah lolos lagi dalam 40 tahun, waktu yang sangat lama. Dan juga, bisa bermain melawan Norwegia di pertandingan pembuka Piala Dunia benar-benar sebuah mimpi," ungkap pemain 22 tahun tersebut seperti dilansir situs resmi FIFA.
Seperti apa sepak terjang Irak di Piala Dunia 2026 mendatang? Penampilan wakil Asia ini patut ditunggu!

















