Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
6 Fakta Yatagarasu, Burung Mitologi yang Jadi Logo Timnas Jepang
jersey Timnas Jepang
  • Yatagarasu adalah gagak mitologi Jepang berkaki tiga, penghuni matahari dan pelayan dewi Amaterasu; tiga kakinya dikaitkan dengan langit, bumi, serta manusia.
  • Dalam legenda, Amaterasu mengutus Yatagarasu untuk membimbing Kaisar Jimmu yang tersesat hingga mencapai Yamato, wilayah yang kini dikenal sebagai Prefektur Nara.
  • Yatagarasu menjadi elemen utama lambang JFA, mencengkeram bola merah simbol matahari; sosoknya juga terus hadir dalam olahraga dan budaya populer Jepang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sepak bola Jepang tidak hanya dikenal karena prestasinya di lapangan, tetapi juga identitasnya yang sarat makna. Salah satu bagian paling menarik perhatian adalah logo Timnas Jepang yang menampilkan seekor gagak berkaki tiga, sosok yang sudah lama menjadi simbol khas sepak bola Negeri Sakura.

Di balik logo tersebut, ternyata tersimpan kisah yang jauh lebih dalam daripada sekadar lambang. Burung bernama Yatagarasu ini berasal dari mitologi Jepang dan memiliki filosofi yang masih dihormati hingga sekarang. Seperti apa sebenarnya makna di balik sosok gagak berkaki tiga tersebut?

1. Yatagarasu adalah sosok burung mitologi dari Jepang

Bermula dari karya tulis rakyat Jepang pada zaman kuno, Yatagarasu adalah makhluk penghuni matahari berkaki tiga. Ia adalah makhluk suci yang juga melayani Dewi Amaterasu. Sebelumnya, Yatagarasu digambarkan hanya memiliki dua kaki. Lalu, pada 930-an M, mitos China tentang gagak berkaki tiga digabungkan dengan Yatagarasu. Mulai saat itulah sang gagak tersebut identik dengan tiga kakinya. Tiga kaki Yatagarasu juga memiliki arti langit, bumi, dan umat manusia.

2. Dipercaya membimbing Kaisar Jimmu

Kaisar Jimmu merupakan kaisar pertama Jepang yang memimpin migrasi ke arah timur bersama saudara-saudaranya untuk mencari tanah yang lebih baik. Dalam perjalanannya, ia mengalami berbagai kesulitan, termasuk gugurnya sang kakak, Itsuse, saat bertempur di Naniwa (kini Osaka). Setelah menyadari bahwa pasukannya kalah karena bertempur seolah-olah melawan matahari, Kaisar Jimmu mengubah arah serangan dari barat, tetapi tersesat hingga akhirnya Dewi Amaterasu mengutus Yatagarasu untuk membimbing perjalanannya. Berkat petunjuk Yatagarasu, Kaisar Jimmu berhasil mencapai Yamato, yang kini dikenal sebagai Prefektur Nara, dan kemudian mendirikan negara Jepang.

3. Tiga kaki Yatagarasu memiliki makna filosofis

Tahukah kamu bahwa masing-masing dari tiga kaki Yatagarasu memiliki beberapa versi maknanya tersendiri? Kaki pertama merepresentasikan bumi, lalu yang kedua surga, dan yang ketiga merepresentasikan umat manusia. Ada juga versi yang menyebutkan bahwa tiga kaki tersebut melambangkan tiga kebajikan dewa, yaitu keberanian, kebajikan, dan kebijaksanaan. Versi lain menyebut tiga kaki tersebut melambangkan tiga klan berpengaruh dari wilayah Kumano, yaitu Ui, Suzuki, dan Enomoto.

4. Yatagarasu menjadi lambang resmi Japan Football Association

Logo Tim Nasional Jepang saat ini resmi digunakan sejak 2017 sebagai bagian dari rebranding Japan Football Association(JFA). Ia menampilkan Yatagarasu, burung gagak berkaki tiga dalam mitologi Jepang yang melambangkan matahari, sedang mencengkeram bola merah sebagai representasi matahari pada bendera Jepang. Sebelumnya, JFA menggunakan beberapa desain lambang yang berbeda, mulai dari emblem berbentuk perisai pada 1996 hingga desain pada 1988 dan 1991 yang tetap mempertahankan sosok Yatagarasu sebagai elemen utamanya, meski dengan bentuk dan tipografi yang berbeda. Bahkan, sebelum 1988, Timnas Jepang masih menggunakan bendera nasional yang diberi garis tepi merah serta tulisan "JFA" sebagai logo pada seragam mereka.

5. Bola merah pada logo JFA ternyata memiliki arti khusus

Sama seperti bendera Jepang, arti bola merah adalah simbol Negeri Matahari Terbit. Bola merah yang dicengkeram Yatagarasu menjadi simbol umum bahwa bola adalah matahari. Jepang sendiri disebut sebagai Negeri Matahari Terbit karena berada di timur sudut pandang China dan matahari tampak terbit dari arah timur.

6. Yatagarasu juga populer dalam budaya modern Jepang

Yatagarasu muncul di beberapa anime, manga, dan game. Contohnya, di anime sepak bola populer, Blue Lock. Yatagarasu di sana diceritakan membimbing karakter bernama Ego saat bermain sepak bola dalam beberapa saat. Ketika dibimbing Yatagarasu, kemampuan Ego memasuki kondisi lebih dari sekadar flow. Ia juga sangat relevan hingga saat ini karena melambangkan petunjuk, kebijaksanaan, persatuan, dan semangat pantang menyerah, sehingga masih digunakan sebagai simbol dalam budaya, olahraga, serta berbagai karya populer Jepang. Yatagarasu berkontribusi terhadap popularitas budaya Jepang karena menjadi simbol ikonis yang terus diperkenalkan kepada dunia melalui mitologi, olahraga, anime, manga, video game, dan berbagai karya budaya populer.

Di balik sosok gagak berkaki tiga yang menghiasi logo Timnas Jepang, ternyata tersimpan sejarah, mitologi, dan filosofi yang sudah diwariskan selama ratusan tahun. Tidak heran Yatagarasu masih terus dihormati dan dijadikan simbol penting. Ia bukan hanya dianggap sebagai pembawa petunjuk, melainkan juga melambangkan persatuan, keberanian, serta semangat untuk terus melangkah ke arah yang benar.

Menariknya, popularitas Yatagarasu tidak berhenti dalam cerita-cerita kuno. Hingga sekarang, sosoknya masih sering muncul dalam anime, manga, video game, bahkan menjadi bagian dari identitas sepak bola Jepang yang dikenal di seluruh dunia. Jadi, tiap kali melihat logo Timnas Jepang, kamu kini tahu bahwa gagak berkaki tiga itu adalah simbol yang menyimpan kisah dan makna yang begitu dalam.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article