Kalcer Gomi Hiroi, Spirit Fans Jepang Menjaga Kebersihan Stadion

- Suporter Jepang di Piala Dunia 2026 menarik perhatian dunia dengan aksi gomi hiroi, memunguti sampah di Stadion Monterrey setelah kemenangan 4-0 atas Tunisia sebagai wujud tanggung jawab sosial.
- Kebiasaan gomi hiroi berakar dari pendidikan sejak dini di Jepang yang menanamkan nilai kebersihan, tanggung jawab, dan filosofi hidup untuk tidak meninggalkan jejak atau merepotkan orang lain.
- Aksi bersih-bersih stadion oleh suporter Jepang menginspirasi pendukung negara lain meski menuai perdebatan domestik soal kesetaraan gender, tetap menjadi simbol kesadaran kolektif menjaga ruang publik.
Setelah peluit panjang dibunyikan, sebagian besar penonton biasanya bergegas meninggalkan stadion sambil membawa euforia kemenangan atau kekecewaan akibat kekalahan. Tidak jarang, kursi-kursi tribun yang ditinggalkan dipenuhi gelas minuman, bungkus makanan, dan berbagai jenis sampah yang menunggu dibersihkan oleh petugas. Pemandangan seperti itu begitu lazim ditemukan di berbagai belahan dunia hingga sering dianggap sebagai hal yang wajar. Padahal, kualitas ruang publik tidak hanya ditentukan oleh fasilitas yang tersedia, tetapi juga oleh perilaku orang-orang yang menggunakannya.
Di tengah kebiasaan tersebut, suporter Jepang kembali menghadirkan cerita yang berbeda. Seusai mendukung tim nasional mereka di Piala Dunia 2026, para pendukung Samurai Biru memilih bertahan sejenak di tribun untuk memunguti sampah di sekitar tempat duduk mereka. Tindakan tersebut memang sederhana, tetapi berhasil menarik perhatian dunia. Aksi tersebut mencerminkan nilai budaya dan rasa tanggung jawab terhadap ruang bersama yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Jepang.
1. Kemenangan Jepang dan aksi bersih-bersih di Stadion Monterrey
Jepang berhasil melibas Tunisia dengan skor telak 4-0 pada Minggu, 21 Juni 2026 di Stadion Monterrey, Meksiko. Pertandingan tersebut juga memiliki makna khusus karena menjadi laga ke-1.000 dalam sejarah Piala Dunia. Namun, perhatian publik tidak hanya tertuju pada kemenangan Samurai Biru di lapangan. Setelah pertandingan berakhir, para pendukung Jepang memilih tetap berada di tribun untuk memunguti sampah yang berserakan di sekitar tempat duduk mereka.
Kebiasaan tersebut dikenal dengan sebutan gomi hiroi. Istilah ini secara harfiah berarti memungut sampah. Bagi masyarakat Jepang, tindakan itu mencerminkan tanggung jawab terhadap ruang bersama yang digunakan secara kolektif. Mengutip CNA, salah satu suporter mengatakan bahwa dirinya merasa senang dapat membawa tradisi tersebut ke pertandingan Piala Dunia pertamanya. Sebagai tamu di Meksiko, menurutnya membersihkan stadion merupakan bentuk apresiasi atas keramahan yang diterimanya selama berada di negara tersebut.
2. Kebiasaan gomi hiroi yang tertanam sejak usia dini
Banyak suporter Jepang menegaskan bahwa kebiasaan membersihkan area publik bukanlah sesuatu yang luar biasa bagi mereka. Membereskan area yang digunakan telah menjadi bagian alami dari kehidupannya sehari-hari. Setiap orang memiliki tanggung jawab untuk memastikan tempat yang digunakan tetap bersih dan nyaman bagi orang berikutnya. Karena itu, membersihkan tribun stadion setelah pertandingan dianggap sebagai tindakan yang wajar.
Kebiasaan tersebut tidak muncul secara tiba-tiba. Di Jepang, anak-anak sejak usia sekolah telah diajarkan untuk membersihkan ruang kelas, lorong sekolah, hingga lingkungan sekitar mereka. Aktivitas itu menjadi bagian dari proses pendidikan yang bertujuan menanamkan rasa tanggung jawab dan kepedulian terhadap lingkungan. Melalui pembiasaan yang dilakukan secara konsisten, nilai-nilai tersebut kemudian terbawa hingga mereka dewasa dan diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk saat menghadiri pertandingan olahraga.
3. Filosofi di balik budaya membersihkan stadion
Akar budaya gomi hiroi tidak hanya berkaitan dengan kebersihan, tetapi juga filosofi hidup yang berkembang dalam masyarakat Jepang. Salah satu pepatah yang sering dikaitkan dengan kebiasaan tersebut adalah tatsu tori ato wo nigosazu yang berarti burung yang pergi tidak meninggalkan jejak. Makna yang terkandung di dalamnya adalah mengembalikan suatu tempat dalam kondisi yang sama atau bahkan lebih baik daripada saat pertama kali digunakan. Filosofi ini mengajarkan bahwa seseorang tidak seharusnya meninggalkan masalah atau ketidaknyamanan bagi orang lain.
Selain itu, budaya Jepang juga mengenal konsep Meiwaku o kakenai yō ni, yaitu prinsip untuk tidak merepotkan atau membebani orang lain. Nilai tersebut mendorong masyarakat Jepang untuk mempertimbangkan dampak dari tindakan mereka terhadap lingkungan sekitar. Mengutip ESPN, Profesor Sosiologi Universitas Osaka Jepang, Scott North, menjelaskan bahwa kebiasaan membersihkan stadion merupakan perpanjangan dari perilaku yang diajarkan di sekolah sejak masa kanak-kanak. Pengulangan yang terus-menerus membuat perilaku tersebut berubah menjadi kebiasaan yang melekat pada sebagian besar masyarakat Jepang.
4. Reputasi suporter Jepang di panggung dunia
Aksi membersihkan stadion oleh suporter Jepang bukanlah fenomena baru dalam ajang internasional. Kebiasaan tersebut telah menjadi sorotan sejak Jepang tampil untuk pertama kalinya di Piala Dunia 1998 di Prancis. Sejak saat itu, para pendukung Samurai Blue berulang kali terlihat membersihkan tribun setelah pertandingan, baik dalam ajang Piala Dunia maupun Olimpiade. Pada Piala Dunia 2022 di Qatar, suporter Jepang kembali mendapat pujian setelah membersihkan area tribun usai kemenangan mengejutkan 2-1 atas Jerman.
Bahkan, sejumlah pendukung Jepang juga terlihat memunguti sampah pada pertandingan pembuka antara Qatar dan Ekuador meskipun tim mereka tidak sedang bermain. Bagi banyak warga Jepang, tindakan itu bukan upaya mencari perhatian, melainkan bagian dari kebiasaan sehari-hari. Hal ini dilakukan sebagai bentuk akal sehat atau common sense yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jepang. Reputasi tersebut membuat aksi bersih-bersih stadion kini identik dengan suporter Jepang di berbagai ajang olahraga internasional.
5. Budaya yang menginspirasi suporter negara lain
Kebiasaan suporter Jepang membersihkan stadion tidak hanya mendapat apresiasi dari penyelenggara penonton internasional, tetapi juga mulai memengaruhi perilaku pendukung dari negara lain. Berbagai video di media sosial memperlihatkan suporter dari sejumlah negara ikut memunguti sampah di tribun setelah pertandingan berakhir. Banyak warganet mengaitkan tren tersebut dengan contoh yang selama ini ditunjukkan oleh para pendukung Samurai Biru dalam berbagai ajang olahraga internasional. Aksi yang awalnya dianggap unik kini mulai dipandang sebagai praktik yang patut ditiru oleh komunitas suporter di berbagai negara.
Dampak terbesar dari budaya gomi hiroi bukan hanya menciptakan stadion yang bersih, melainkan munculnya kesadaran bahwa setiap penonton memiliki tanggung jawab terhadap ruang publik yang digunakan bersama. Karena itu, aksi yang dilakukan suporter Jepang sering dipandang sebagai bentuk edukasi sosial yang terjadi secara tidak langsung. Nilai-nilai tersebut kemudian menyebar dan menjadi inspirasi bagi komunitas suporter di berbagai belahan dunia.
6. Perdebatan di Jepang soal pembagian pekerjaan rumah tangga
Meski sering mendapat pujian dari masyarakat internasional, aksi membersihkan stadion oleh suporter Jepang ternyata juga memunculkan perdebatan di dalam negeri. Sejumlah pengguna media sosial mempertanyakan apakah citra positif tersebut selalu sejalan dengan praktik keseharian masyarakat Jepang, terutama dalam hal pembagian pekerjaan rumah tangga. Mengutip BBC, sebuah unggahan yang viral di platform X bahkan memperlihatkan kontras antara seorang pria yang memunguti sampah di stadion dan sosok yang bersantai di rumah sementara pekerjaan domestik dikerjakan oleh istrinya. Kritik tersebut kemudian memicu diskusi yang lebih luas mengenai kesetaraan peran laki-laki dan perempuan dalam keluarga.
Data OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) tahun 2020 menunjukkan bahwa perempuan Jepang menghabiskan rata-rata 224 menit per hari untuk pekerjaan tidak berbayar, seperti pekerjaan rumah tangga, pengasuhan anak, dan perawatan anggota keluarga. Sementara itu, laki-laki hanya menghabiskan sekitar 41 menit per hati untuk aktivitas serupa. Kesenjangan sebesar 5,5 kali tersebut menjadi yang terbesar di antara negara-negara maju yang dibandingkan OECD. Temuan Statistics Bureau of Japan melalui Survey on Time Use and Leisure Activities tahun 2021 juga menunjukkan bahwa dalam rumah tangga dengan dua pencari nafkah dan anak berusia di bawah enam tahun, istri menghabiskan rata-rata 7 jam 28 menit per hari untuk pekerjaan domestik, sedangkan suami hanya 1 jam 54 menit.
7. Pelajaran yang dapat diambil Indonesia dari spirit Gomi Hiroi
Meski demikian, kritik tersebut tidak menghapus nilai positif dari budaya menjaga kebersihan ruang publik. Bagi mereka, kebiasaan membersihkan stadion tetap merupakan contoh tanggung jawab sosial yang patut diapresiasi. Bahkan, aksi suporter Jepang disebut telah menginspirasi pendukung dari negara lain untuk melakukan hal serupa setelah pertandingan. Artinya perdebatan mengenai pembagian pekerjaan domestik dan budaya kebersihan publik dipandang sebagai dua isu berbeda yang dapat dibahas secara terpisah.
Budaya gomi hiroi menunjukkan bahwa menjaga kebersihan ruang publik tidak selalu memerlukan aturan yang ketat atau pengawasan yang berlebihan. Kesadaran individu untuk bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitar dapat memberikan dampak yang jauh lebih besar. Tindakan tersebut juga membuktikan bahwa semangat mendukung tim tidak harus berhenti pada sorak-sorai di tribun. Menghormati fasilitas umum dan kenyamanan orang lain juga merupakan bagian dari sportivitas.
Indonesia sebenarnya memiliki nilai gotong royong dan kepedulian sosial yang tidak kalah kuat. Namun, tantangan dalam menjaga kebersihan fasilitas publik masih kerap ditemukan di berbagai tempat, termasuk stadion olahraga, taman kota, terminal, dan kawasan wisata. Karena itu, semangat gomi hiroi layak dijadikan inspirasi, bukan untuk ditiru secara mentah, melainkan untuk menumbuhkan kesadaran bahwa kebersihan adalah tanggung jawab bersama. Jika setiap orang mulai membiasakan diri membersihkan area yang digunakan sebelum beranjak ke tempat lain maka lingkungan publik yang lebih nyaman, tertib, dan berkelanjutan bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan.

















