Igor Thiago, Mesin Gol Baru Brentford dan Asa Menuju Piala Dunia 2026

- Igor Thiago pulih dari cedera dan mencetak 14 gol di Premier League musim ini, membuktikan kualitasnya sebagai penyerang konsisten Brentford.
- Skema taktik Brentford mendukung Thiago dalam memaksimalkan potensinya sebagai target man modern dengan tinggi badan 191 cm.
- Performa impresif Igor Thiago membuka peluangnya membela Brasil di Piala Dunia 2026, meskipun persaingan di lini depan Timnas Brasil cukup padat.
Igor Thiago menjadi salah satu nama yang tengah bersinar di English Premier League (EPL) 2025/2026. Puncaknya terjadi pada pekan ke-20 saat ia sukses mencetak hattrick ke gawang Everton hingga mengantarkan Brentford memenangi laga dengan skor 4-2. Torehan tersebut menegaskan posisi Thiago sebagai penyerang paling konsisten The Bees sekaligus salah satu top skor sementara liga musim ini.
Performa tersebut terasa kontras jika dibandingkan dengan musim debutnya di Inggris yang nyaris tak meninggalkan jejak. Cedera meniskus dan infeksi lutut membuat Thiago hanya mencatatkan menit bermain terbatas tanpa satu pun gol pada 2024/2025. Kini, pada musim penuh pertamanya, striker berusia 24 tahun itu tidak hanya pulih secara fisik, tetapi juga menjelma sebagai penentu hasil laga bagi Brentford.
1. Sempet terhalang cedera, Igor Thiago menjawab kepercayaan Brentford dengan performa apik
Igor Thiago memulai 2025/2026 dengan status yang ambigu. Brentford merekrutnya seharga sekitar 30 juta pound sterling (Rp681,1 miliar) sebagai suksesor Ivan Toney, tetapi musim pertamanya di London Barat habis tersita oleh cedera. Dengan rekam jejak tersebut, musim ini menjadi titik pembuktian apakah Thiago sekadar proyek jangka panjang atau benar-benar solusi instan di lini depan.
Jawaban atas keraguan tersebut terlihat jelas melalui data. Menurut laman Premier League, hingga memasuki pekan ke-20, Thiago telah mencetak 14 gol di Premier League, hanya kalah dari Erling Haaland, dan mencatatkan rasio 1 gol setiap sekitar 120 menit. Catatan expected goals (xG) Thiago berada di kisaran 5,66 pada fase awal musim ketika ia sudah mengoleksi 8 gol, yang menunjukkan kemampuan overperforming berbasis kualitas penyelesaian, bukan sekadar volume peluang.
Peran Thiago sebagai penentu hasil juga tampak dari konteks gol-golnya. Ia bukanlah tipe pemain yang dominan dalam fase build-up, tetapi tetap mampu mengubah jalannya pertandingan melalui momen-momen krusial. Dua golnya ke gawang Newcastle United pada pekan ke-11, penalti penentu melawan Burnley pada pekan ke-13, hingga hattrick di Goodison Park menunjukkan kontribusinya sering hadir pada saat Brentford paling membutuhkannya.
Keunggulan lain Thiago terletak pada variasi cara mencetak gol. Ia produktif dari titik penalti, efektif dalam situasi open play, dan berbahaya lewat duel udara. Data menunjukkan tingkat konversi peluang tercipta mencapai lebih dari 60 persen, angka yang menempatkannya di jajaran penyerang paling klinis di liga. Kemampuan ini menandakan kelengkapan profil sebagai nomor sembilan murni.
Secara historis, Thiago juga mendekati rekor gol pemain Brasil dalam 1 musim Premier League. Dengan 14 gol dan musim yang masih panjang, ia hanya membutuhkan beberapa gol tambahan untuk melampaui catatan yang sebelumnya dicapai Roberto Firmino, Gabriel Martinelli, dan Matheus Cunha. Fakta ini memperjelas, performanya bukan sekadar lonjakan performa, melainkan hasil konsistensi dan kualitas finishing di level kompetisi tertinggi.
2. Selain kualitas individu, skema taktik Brentford turut mengoptimalkan potensi Igor Thiago
Lonjakan performa Igor Thiago tak bisa dilepaskan dari konteks taktik Brentford di bawah Pelatih Keith Andrews. Pelatih anyar ini melanjutkan fondasi pragmatis era Thomas Frank dengan penekanan pada efisiensi, transisi cepat, dan eksploitasi situasi bola mati. Dalam kerangka tersebut, Thiago menemukan ekosistem yang ideal untuk memaksimalkan atributnya.
Sebagai target man modern, Thiago tidak hanya berdiri menunggu suplai bola. Ia aktif melakukan pressing dari lini depan, menjadi pemantul bola dalam situasi direct play, serta membuka ruang bagi gelandang dan sayap untuk masuk ke kotak penalti. Dengan tinggi badan 191 sentimeter yang berpadu dengan mobilitas yang memadai, hal ini memungkinkannya untuk beradaptasi dengan intensitas Premier League.
Brentford juga memaksimalkan kekuatan Thiago dalam duel udara dan bola panjang. Rata-rata lebih dari tiga duel udara yang dimenangkannya per 90 menit menempatkan Thiago di antara striker paling dominan secara fisik di liga. Situasi set-piece, yang sejak lama menjadi identitas Brentford, kembali menjadi sumber gol berkat kemampuan heading dan positioning Thiago.
Perbandingan dengan Ivan Toney menjadi relevan dalam konteks ini. Thiago bukan replika Toney dalam hal playmaking atau kontribusi umpan, tetapi ia merepresentasikan evolusi peran number 9 Brentford. Jika Toney unggul sebagai penghubung permainan, Thiago menawarkan efisiensi penyelesaian dan ancaman konstan di kotak penalti, terutama dalam fase transisi.
Kepergian Bryan Mbeumo dan Yoane Wissa pada musim panas 2025 makin memperjelas peran penting Thiago. Dengan hilangnya dua sumber gol utama tersebut, struktur serangan Brentford berputar lebih jelas di sekeliling sang striker. Hasilnya terlihat nyata dengan lebih dari 40 persen gol liga Brentford musim ini melibatkan kontribusi langsung Thiago, baik sebagai pencetak maupun pemantul serangan.
3. Performa gemilang Igor Thiago membuka peluangnya membela Brasil di Piala Dunia 2026
Performa impresif di level klub secara alami membuka peluang Igor Thiago membela Timnas Brasil di Piala Dunia 2026. Peta persaingan di lini depan Selecao terbilang padat, dengan nama-nama seperti Richarlison, Matheus Cunha, Joao Pedro, Rodrygo, Rodrygo Goes, hingga Vinicius Junior bersaing untuk tempat utama. Mayoritas dari mereka menawarkan fleksibilitas posisi dan pengalaman internasional.
Namun, justru di tengah kelimpahan winger dan penyerang hibrida tersebut, profil Thiago menjadi menarik. Ia merupakan nomor sembilan klasik yang berorientasi di kotak penalti, tipe striker yang relatif langka dalam sepak bola Brasil modern. Keberadaannya menawarkan dimensi berbeda dibandingkan penyerang sayap yang kerap dipaksa bermain serbaguna.
Faktor yang menguntungkan Thiago adalah produktivitasnya di Premier League, liga yang secara konsisten menjadi barometer tertinggi bagi penyerang. Dengan usianya yang kini menginjak 24 tahun, ia juga berada pada fase paling ideal dalam perkembangan kariernya. Selain itu, momentum menuju Piala Dunia 2026 membuat setiap penampilan konsisten semakin bernilai di mata Carlo Ancelott
Di sisi lain, hambatan tetap ada. Thiago belum pernah mencatatkan caps senior untuk Brasil dan sempat menunda kesempatan di level U-23 demi menjaga opsi internasionalnya. Ancelotti dikenal menyukai pemain dengan fleksibilitas posisi dan pemahaman taktik tinggi, yang berarti Thiago harus terus membuktikan kontribusinya di luar sekadar mencetak gol.
Dengan kondisi tersebut, peluang Thiago menuju Piala Dunia 2026 bersifat realistis tetapi tidak instan. Ia belum tentu menjadi pilihan utama, tetapi performanya yang stabil berpotensi membuatnya terlalu sulit untuk diabaikan. Jika ia mampu mempertahankan performa dan tidak dibekap cedera, nama Igor Thiago layak masuk dalam diskusi serius Selecao.
Igor Thiago telah menempuh perjalanan panjang dari musim debut yang nyaris terlupakan hingga menjadi mesin gol Brentford. Jika konsistensi ini terjaga, musim 2025/2026 bukan hanya akan menjadi titik puncak karier klubnya, melainkan juga gerbang menuju mimpi terbesar bersama Timnas Brasil di Piala Dunia 2026.


















