Jalan Berliku Pemain Keturunan Imigran untuk Membela Timnas Swiss

- Gelombang migrasi dari Balkan dan Afrika membentuk generasi Secondos; 17 dari 26 pemain Timnas Swiss merupakan keturunan imigran yang lahir atau tumbuh besar di negara tersebut.
- Klub amatir dan program lapangan gratis dari Asosiasi Sepak Bola Swiss membantu anak imigran berintegrasi melalui pertemanan, bahasa, pemahaman budaya, serta pengembangan bakat sepak bola.
- Meski naturalisasi tetap rumit, pemain keturunan imigran mengangkat prestasi Swiss: tiga kali beruntun ke 16 besar Piala Dunia serta perempat final Euro 2020 dan 2024.
Isu migrasi di Eropa kerap memicu pro dan kontra, seperti gelombang kedatangan puluhan ribu migran di Ceuta, Spanyol, baru-baru ini. Namun, para pendatang di beberapa negara justru memberi kontribusi positif bagi sepak bola. Hasil amilasi ini memberi dampak di sejumlah tim nasional negara Eropa, termasuk Swiss. Sebanyak 17 dari 26 pemainnya, seperti Granit Xhaka, Manuel Akanji, hingga Breel Embolo, adalah keturunan imigran Balkan dan Afrika yang datang ke Negeri Alpen pada era 1990-an. Meski ada peran asosiasi, langkah para anak imigran ini untuk membela Swiss berliku.
1. Dipicu gelombang eksodus akibat krisis politik dan ekonomi yang melanda beberapa negara Afrika serta Balkan
Dilansir BBC, banyak pabrik dan usaha di Swiss aktif merekrut pekerja dari wilayah Yugoslavia era 1970-an dan 1980-an. Jumlahnya kemudian meningkat ketika krisis politik dan perang saudara pecah di wilayah Balkan. Pada saat yang sama, krisis ekonomi parah turut melanda sejumlah negara Afrika. Ratusan ribu orang memilih hengkang dari tanah kelahiran dengan tujuan mencari kehidupan yang lebih baik.
Swiss menjadi salah satu negara Eropa paling terbuka dalam menerima pengungsi politik dan imigran hingga sekarang. Dalam data sensus terbaru, sebanyak 41 persen dari penduduk Swiss saat ini memiliki latar belakang imigran. Anak-anak dari generasi pertama pengungsi yang dikenal sebagai Secondos inilah yang lahir atau tumbuh besar di Swiss dan menjadi tulang punggung tim nasional.
2. Sepak bola berperan penting dalam proses integrasi para imigran ke masyarakat Swiss
Sepak bola memiliki peran penting dalam integrasi para imigran di Swiss. Dilansir SwissInfo, studi dari Universitas Bern mengungkapkan bahwa klub sepak bola amatir di tingkat akar rumput memegang peranan krusial dalam mempercepat proses pembauran. Di lapangan hijau, para pencari suaka dan imigran dapat dengan mudah membangun jaringan pertemanan, mengasah kemampuan bahasa, hingga memahami norma budaya Swiss. Cara ini disebut jauh lebih efektif daripada program formal milik pemerintah.
Asosiasi Sepak Bola Swiss (SFV/ASF) juga sejak awal sadar bahwa olahraga adalah alat integrasi terbaik untuk anak-anak imigran. SFV bekerja sama dengan pemerintah lokal untuk membangun lapangan sepak bola gratis di wilayah pinggiran kota yang menjadi basis mayoritas imigran. Program ini memberikan ruang bagi anak-anak mereka untuk menyalurkan bakat secara positif sembari membaur dengan masyarakat lokal.
3. Kendati demikian, isu imigran masih memicu berbagai reaksi politik terutama dari kubu sayap kanan
Kendati demikian, isu imigran di Swiss masih menghadapi sulitnya regulasi. Dilansir Migration Policy Centre, berbeda dengan kebanyakan negara Barat yang menganut asas tempat kelahiran (jus soli), lahir di wilayah Swiss tidak otomatis membuat seorang anak imigran langsung mendapat paspor Swiss. Ujiannya yakni proses naturalisasi yang panjang, birokrasi rumit, serta ketatnya syarat asimilasi budaya. Ini membuat banyak Secondos harus melewati jalan berliku demi diakui secara hukum sebagai warga negara Swiss sepenuhnya.
Lebih jauh, reaksi kelompok sayap kanan atas isu tersebut muncul pada 2014. Saat itu, partai SVP mengadakan referendum untuk membatasi kuota imigran yang masuk ke Swiss. Hal tersebut sempat memicu ketegangan sosial. Namun, pada 2017, warga Swiss melalui referendum nasional menyetujui aturan baru yang mempermudah proses pembuatan paspor khusus bagi generasi ketiga atau cucu dari generasi pertama imigran.
4. Para pemain keturunan imigran ini sukses mendongkrak prestasi Timnas Swiss di Piala Dunia
Secondos terbukti mendongkrak kelas Timnas Swiss dari tim kacangan menjadi kekuatan yang disegani. Mereka menembus babak 16 besar di tiga edisi Piala Dunia terakhir pada 2014, 2018, dan 2022. Di Piala Eropa, Swiss bisa melaju hingga perempat final pada 2020 dan 2024. Kombinasi fisik Afrika dan teknik olah bola Balkan memberikan variasi taktik dan mentalitas baru.
Meski tumbuh besar dengan budaya negeri asal orangtua, para pemain keturunan imigran ini tetap menjunjung tinggi bendera Swiss. "Aku mewakili Swiss dan ingin menunjukkan bahwa siapa pun yang masuk ke tim harus memberikan segalanya," kata Gokhan Inler, mantan pemain Timnas Swiss (2006–2015) saat diwawancarai The Guardian. Inler adalah diaspora Turki di Swiss, kelompok yang jumlahnya mencapai 74 ribu orang menurut data sensus 2023.
Saat ini, Timnas Swiss dilatih Murat Yakin yang seorang Secondos berdarah Turki. Dengan para pemain milik sejumlah yang merumput di liga-liga top Eropa, mereka mulai mampu berbicara banyak di kejuaraan internasional. Timnas Swiss juga menunjukkan bahwa skuad multirasial adalah sumber kekuatan.


















