Jan Jongbloed, Kiper Nyentrik Belanda di Piala Dunia 1974

- Jan Jongbloed, lahir di Amsterdam tahun 1940, awalnya hanya bermain di klub kecil sambil mengelola toko tembakau sebelum akhirnya dipanggil ke Timnas Belanda untuk Piala Dunia 1974.
- Rinus Michels memilih Jongbloed karena gaya mainnya cocok dengan taktik totaalvoetbal; ia dikenal berani keluar dari gawang dan sempat mengira pemanggilan timnas sebagai lelucon.
- Dikenal nyentrik tanpa sarung tangan dan memakai nomor delapan, Jongbloed membawa Belanda ke final Piala Dunia 1974 dan 1978 sebelum wafat pada Agustus 2023 di usia 82 tahun.
Sepak bola modern sangat memuja sosok sweeper-keeper. Mereka adalah tipe penjaga gawang yang tidak hanya diam di dalam kotak penalti, tetapi juga merangsek maju untuk memotong serangan balik. Jauh sebelum era Manuel Neuer atau Alisson Becker, dunia telah mengenal sosok Jan Jongbloed sebagai pionirnya.
Ia bukan kiper terbaik pada eranya jika penilaian yang digunakan adalah refleks cekatan seperti Lev Yashin. Namun, di bawah asuhan Rinus Michels pada Piala Dunia 1974, Jongbloed adalah kepingan penting dalam taktik totaalvoetbal Timnas Belanda. Sifat nyentrik membuatnya menjadi salah satu anomali dalam sejarah Piala Dunia.
1. Pemilik toko tembakau yang kebetulan berkarier sebagai kiper di klub-klub kecil Belanda
Lahir di Amsterdam pada 1940, Jan Jongbloed bukan kiper yang berkarier di klub besar seperti Ajax Amsterdam atau PSV Eindhoven. Mayoritas kariernya dihabiskan bersama klub-klub kecil seperti DWS Amsterdam (1952-1972), FC Amsterdam (1972-1977), dan Roda JC Kerkrade (1977-1981). Ia memutuskan gantung sepatu setelah membela Go Ahead Eagles pada 1982 hingga 1986.
Bagi Jongbloed, sepak bola adalah hobi akhir pekan yang dibayar. Ketika sedang tidak bermain, ia menjadi pengelola sebuah toko tembakau bersama istrinya. Namun, takdir berkata lain menjelang Piala Dunia 1974. Kiper utama Belanda saat itu, Jan van Beveren, dicoret karena berselisih dengan sang kapten tim, Johan Cruyff. Praktis, Jongbloed terpaksa meninggalkan tradisi memancing selama musim panas untuk tampil di ajang bergengsi.
2. Sempat mengira pemanggilannya ke Timnas Belanda untuk Piala Dunia 1974 sebagai prank
Pelatih Belanda saat itu, Rinus Michels, sadar totaalvoetbal harus menerapkan garis pertahanan yang tinggi, mendekati garis tengah lapangan. Risikonya, ada ruang kosong amat luas di belakang bek. Michels tidak butuh kiper konvensional, tetapi seorang pemain belakang tambahan yang berani keluar dari sarangnya. Jan Jongbloed adalah jawabannya.
Dilansir Il Nostro Calcio, Jongbloed mendapat panggilan Timnas Belanda pada usia 33 tahun pada Mei 1974. Ini sempat dikiranya sebagai prank dari seorang teman, sebab ia sudah bertahun-tahun tidak berseragam oranye. Debut internasional Jongbloed terjadi pada 26 September 1962, saat Belanda kalah 1-4 dari Denmark, dan itu pun hanya bermain selama 4 menit sebagai pemain pengganti. Ia tidak pernah lagi membela Belanda selama 11 tahun 117 hari. Namun, pengalaman minim tak membuat Michels ragu, sebab Jongbloed bisa mengontrol bola dengan kakinya. Ini lantaran sang kiper memulai karier sebagai pemain sayap.
3. Langsung menyita perhatian publik karena permainannya yang tidak biasa di Piala Dunia 1974
Nyentriknya Jan Jongbloed langsung menyita perhatian dunia pada Piala Dunia 1974. Saat para kiper identik dengan nomor punggung 1, Jongbloed justru mengenakan jersey 8. Padahal itu nomor yang lazim dipakai seorang gelandang jangkar. Ini terjadi sebab KNVB membagi nomor punggung secara alfabetis berdasarkan nama belakang pemain.
Tak sampai di situ, Jongbloed sangat jarang menggunakan sarung tangan. Jika sedang tidak hujan atau dingin, ia memilih bermain dengan tangan telanjang karena merasa insting dan cengkeraman jarinya jauh lebih kuat. Dilansir NL Times, Jongbloed adalah seorang kiper yang rajin bergerak, bahkan menjadi bek tambahan ketika meninggalkan kotak penalti. Ia turut andil mengantar Belanda ke final 1974, tetapi akhirnya kalah 1-2 dari Jerman Barat.
4. Menjadi bagian penting dari sukses Belanda sebagai runner-up Piala Dunia 1974 dan 1978
Meski sempat diragukan publik, Jan Jongbloed membungkam kritik dengan performa cemerlang. Belanda bahkan mencatatkan rekor fantastis, hanya mengalami 3 kekalahan saat Jongbloed mengawal gawang mereka di 23 pertandingan (1974–1978). Catatan tersebut jadi bukti solidnya totaalvoetbal bersama Jongbloed sebagai kiper.
Dilansir RSSSF.org, Jan Jongbloed mengakhiri karier internasionalnya setelah Piala Dunia 1978 Argentina. Ia menjadi bagian dari generasi emas yang membawa Belanda melaju ke final Piala Dunia dua kali berturut-turut pada 1974 dan 1978, meski sama-sama finis sebagai runner-up. Jongbloed mengembuskan napas terakhir pada Agustus 2023 dalam usia 82 tahun setelah menderita sakit yang cukup lama.
Sebagai sweeper-keeper pertama, gaya bermain Jan Jongbloed yang aktif memotong bola di luar kotak penalti dan membangun serangan diakui mengubah taktik sepak bola selamanya. Tanpa visi radikal Rinus Michels, kita mungkin tidak akan pernah menyaksikan kiper yang piawai memainkan bola dengan kaki. Dengan kata lain, tanpa Jongbloed, mungkin tak ada Manuel Neuer, Ederson Moraes, hingga Alisson Becker.


















