Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Jersey Hitam Italia dan Pesan Ancaman Jelang Final 1938

Jersey Hitam Italia dan Pesan Ancaman Jelang Final 1938
ilustrasi pertandingan sepak bola (unsplash.com/Samuel Arkwright)
Intinya Sih
  • Piala Dunia 1938 digelar di tengah bayang-bayang rezim fasis Eropa, ketika Mussolini dan Hitler menggunakan olahraga sebagai alat propaganda kekuasaan dan simbol superioritas negara.
  • Italia bermain di bawah tekanan politik besar, mengenakan jersey hitam simbol fasisme atas perintah Mussolini, serta menghadapi ejekan publik Prancis sepanjang turnamen hingga mencapai final.
  • Menjelang final melawan Hungaria, muncul kabar telegram berisi pesan ancaman dari Mussolini yang menambah tekanan mental pemain Italia, meski kemudian dibantah sebagai sekadar slogan penyemangat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Sepak bola dan politik sering kali bersinggungan dalam sejarah. Salah satu cerita paling dramatis sekaligus mencekam terjadi pada Piala Dunia 1938 di Prancis. Di balik keberhasilan Tim Nasional Italia mempertahankan gelar juara dunia, ada bayang-bayang teror psikologis yang dikirim langsung oleh sang diktator fasis, Benito Mussolini.

Jelang laga final melawan Hungaria, sebuah pesan singkat mendarat di ruang ganti Gli Azzurri. Pesan yang konon dikirim via telegram oleh Mussolini itu kabarnya berisi tiga kata yang mengerikan: "Vincere o morire!" yang berarti 'Menang atau mati!'. Sebuah instruksi yang mengubah lapangan hijau menjadi medan hidup dan mati untuk para penggawa Italia.

1. Rezim fasis masih membayangi sejumlah penyelenggaraan kejuaraan olahraga tingkat dunia

Piala Dunia 1938 digelar saat Eropa berada di ambang Perang Dunia II. Dilansir Literary Hub, kurang dari 3 bulan sebelum ajang tersebut dimulai, Jerman pimpinan Adolf Hitler menganeksasi Austria. Sementara itu, Perdana Menteri Italia, Benito Mussolini, pada akhir Maret 1938 diberi kekuasaan atas militer yang setara dengan sang kepala negara Italia saat itu, Raja Victor Emmanuel III.

Bagi rezim fasis, olahraga (khususnya sepak bola) bukan sekadar hiburan masyarakat. Hal tersebut bisa menjadi alat propaganda untuk menunjukkan superioritas negara dan kekuatan rezim kepada dunia. Hal tersebut sudah ditunjukkan pada Piala Dunia 1934, saat Italia menjadi tuan rumah. Sementara itu, Nazi Jerman juga sudah melakukan hal serupa ketika menyelenggarakan Olimpiade 1936 di Berlin.

2. Sebagai juara bertahan, Italia mendapat tekanan politik luar biasa dari para penonton

Dipimpin oleh pelatih jenius, Vittorio Pozzo, Italia sebenarnya tim yang tangguh. Berstatus sebagai juara Piala Dunia 1934, Gli Azzuri tengah menikmati status sebagai penguasa sepak bola dunia. Mereka baru saja meraih medali emas cabang olahraga sepak bola Olimpiade 1936, meski aturan mengharuskan seluruh tim peserta memakai pemain amatir. Para pemain bintang seperti Guiseppe Meazza, Giovanni Ferrari, Gino Colaussi, serta Silvio Piola bisa kembali diturunkan untuk Piala Dunia 1938 yang kembali memakai format langsung knock-out.

Namun, Italia dipaksa bermain di bawah tekanan politik luar biasa. Sepanjang turnamen di Prancis, mereka kerap dicemooh oleh penonton lokal yang memusuhi fasisme. Di babak 16 besar, mereka berhasil menekuk Norwegia dengan skor 2-1 lewat perpanjangan waktu. Dilansir Sky Sports, puncak laga perempat final melawan tuan rumah Prancis. Italia sengaja turun mengenakan jersey alternatif berwarna hitam pekat yang menjadi warna simbol milisi fasis sebab diperintahkan oleh Mussolini. Mereka bahkan melakukan hormat fasis sebelum laga dimulai. Laga tersebut mereka menangi dengan skor 3-1.

3. Para pemain Gli Azzuri disebut menerima telegram berisi pesan ancaman dari sang diktator

Setelah menjinakkan Brasil dengan skor 2-1 di semifinal (yang diwarnai insiden karet celana Meazza yang putus), Italia menantang raksasa Eropa Timur, Hungaria. Partai final berlangsung di Stade Olympique de Colombes, Paris, pada 19 Juni 1938. Di momen krusial inilah sebuah telegram rahasia dari Il Duce, julukan Mussolini, konon tiba di tangan Vittorio Pozzo untuk dibacakan kepada seluruh pemain.

Menurut kabar burung, telegram tersebut singkat saja dan hanya berisi 2 kata: "Vincere o morire!" Seketika suasana hotel pemain menjadi tegang. Di bawah kekuasaan diktator tangan besi, ancaman tersebut tidak bisa dianggap sebagai sekadar kiasan atau motivasi penyemangat biasa. Para pemain sadar betul, kegagalan membawa pulang trofi Jules Rimet bisa berdampak fatal bagi keselamatan karier, kebebasan, bahkan nyawa mereka saat kembali ke tanah air.

4. Beruntung, Hungaria berhasil ditaklukkan dengan skor telak 4-2 di laga final

Isu tekanan mental yang ekstrem justru direspons dengan performa dingin dan mematikan di atas lapangan. Italia tampil kesetanan sejak menit awal. Dimotori oleh ketajaman Gino Colaussi dan Silvio Piola yang masing-masing mencetak dua gol, Italia menghancurkan Hungaria dengan skor telak 4-2.

Ada cerita satir yang menjadi legenda setelah pertandingan berakhir. Kiper Hungaria saat itu, Antal Szabo, mendengar rumor tentang pesan telegram Mussolini untuk pemain Italia. Alih-alih meratapi kekalahannya, Szabo justru berseloroh kepada media dengan kalimat yang terkenal. "Saya mungkin kebobolan 4 gol hari ini, tetapi setidaknya saya telah menyelamatkan nyawa 11 pria," ujarnya seperti dilansir ESPN.

5. Rumor telegram Mussolini kemudian dibantah oleh pemain Italia di final 1938, Pietro Rava

Hingga puluhan tahun setelah peristiwa itu berlalu, kebenaran mengenai makna harfiah telegram Mussolini masih menjadi perdebatan hangat di kalangan sejarawan. Beberapa menilai bahwa kalimat "vincere o morire" sebenarnya adalah slogan umum rezim fasis Italia saat itu. Slogan tersebut sering digunakan sebagai jargon penyemangat militer maupun olahraga, mirip dengan frasa "lakukan yang terbaik atau mati berjuang."

Pietro Rava, bek kiri sekaligus salah satu pemain terakhir dari skuad Italia 1938 yang wafat pada 2006, sempat membantah bahwa mereka diancam akan dibunuh. Dilansir The Guardian saat diwawancarai 2001, telegram yang mereka terima hanya pesan penyemangat biasa yang sewajarnya dikirim oleh pemimpin negara. Namun, entah itu sebuah ancaman nyata atau sekadar distorsi sejarah, mitos telegram ini telanjur abadi sebagai simbol betapa mengerikannya tekanan yang dihadapi para pesepak bola di era tirani.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Kidung Swara Mardika
EditorKidung Swara Mardika

Related Articles

See More