Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kasus ASIOP dan Alberto, Bukti Ucapan Legenda Timnas Indonesia Benar

Kasus ASIOP dan Alberto, Bukti Ucapan Legenda Timnas Indonesia Benar
ilustrasi pesepak bola melepaskan tembakan dengan kaki kiri (unsplash.com/ActonCrawford)
Intinya Sih
  • Rochy Putiray menyoroti lemahnya mental dan disiplin pemain muda lokal, terlihat dari seringnya mereka dipulangkan saat pemusatan latihan Timnas dibanding pemain naturalisasi.
  • Insiden tendangan kungfu Fadly Alberto dan kontroversi turnamen usia muda di ASIOP memperkuat pernyataan Rochy tentang kurangnya karakter serta profesionalisme di kalangan pemain muda.
  • Rochy menegaskan pentingnya membangun mental, attitude, dan karakter sejak dini agar mimpi besar seperti tampil di Piala Dunia bisa tercapai melalui kerja keras dan konsistensi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Dalam acara diskusi PSSI Pers beberapa waktu lalu, legenda Timnas Indonesia Rochy Putiray menyinggung satu hal fundamental soal pemain muda. Dia menyebut masalah mental.

"(Dalam TC Timnas) hampir tiap minggu tidak ada semua pemaiun naturalisasi dipulangkan. Cuma pemain lokal yang dipulangkan karena disiplin. Dari situ saya lihat bahwa mental, karakter, attitude, dan disiplin belum siap untuk menuju pentas lebih besar," ujar Rochy.

Tak butuh waktu lama, ucapan Rochy terbukti. Tidak hanya lewat satu insiden, tetapi dua insiden sekaligus.

1. Diawali tendangan kungfu Fadly Alberto

-
Pemain Dewa United U-20 (kiri) Rakha Nur Cholis dan pemain Bhayangkara U-20 (kanan) Fadly Alberto. (IDN Times/Tino).

Dalam laga Elite Pro Academy (EPA) U-20 beberapa waktu lalu kala Bhayangkara FC jumpa Dewa United, Fadly Alberto melepaskan tendangan kungfu yang bikin heboh. Pemain Dewa United jadi sasaran tendangannya.

Belakangan, jalan damai ditempuh kedua tim. Dewa United tak jadi melaporkan ini ke pihak berwenang. Alberto juga sudah mengungkapkan penyesalannya dalam unggahan di media sosial.

Namun, insiden ini jadi bukti dari benarnya ucapan Rochy soal mental pemain muda yang masih kurang. Apalagi, Alberto berstatus pemain Timnas Indonesia U-17, yang harusnya lebih matang dari segi emosi.

2. Dilanjutkan insiden turnamen usia muda di Sentul

Andre Rosiade Cup jilid 3 tuntas terlaksana di ASIOP Training Ground
Andre Rosiade Cup jilid 3 tuntas terlaksana di ASIOP Training Ground. (Dok. Istimewa)

Baru saja Alberto berdamai, kasus yang melibatkan pemain muda hadir lagi. Kali ini datang dari turnamen usia muda di Sentul, tepatnya di ASIOP Training Ground, dalam ajang Shonan Bellmare Cup 2026.

Turnamen yang menjanjikan tiket emas ke Jepang ini awalnya diwarnai antusiasme. Namun, belakangan suara sumbang bermunculan lantaran tidak adanya transparansi dalam berbagai hal.

Pertama adalah soal undian grup, yang disebut-sebut sudah didesain buat menguntungkan pihak tertentu. Kemudian, ada unggahan viral di media sosial, memperlihatkan kekecewaan sebuah tim usai kalah dari ASIOP.

Dalam unggahan itu, tampak ada orang tua menenangkan anaknya yang merasa dicurangi sepanjang laga saat lawan ASIOP. Sontak, hal ini membuat turnamen usia muda tersebut dikritik banyak pihak.

"Jika sistemnya tidak transparan, yang menjadi korban adalah mental anak-anak," tulis salah satu ungkapan keberatan di media sosial.

3. Tentang karakter yang harus dibangun sejak dini

WhatsApp Image 2025-06-28 at 12.01.53.jpeg
Andre Rosiade Cup resmi dibuka di ASIOP Training Ground. (IDN Times/Sandy Firdaus)

Rochy menilai, sah-sah saja bagi Timnas Indonesia bermimpi main di Piala Dunia. Namun, untuk menuju ke sana, jalan-jalan kecil harus ditempuh, termasuk membenahi mental, attitude, dan karakter.

"Artinya, mimpi boleh tinggi, tetapi kehidupan sehari-hari dan usaha kita yang menentukan. Mimpi itu harus dibarengi kerja keras dan keseharian yang makin mendekatkan kita dengan mimpi itu," kata Rochy.

Dalam konteks pemain muda, hadirnya para pemain naturalisasi di Timnas Indonesia adalah angin segar. Jay Idzes, Calvin Verdonk, hingga Kevin Diks bisa jadi contoh mengenai apa itu profesionalisme.

"Kehadiran pemain naturalisasi harus menjadi contoh bagi pemain lokal. Apa yang kurang, apa yang harus diperbaiki, itu yang harus dipelajari. Sampai saat ini, saya melihat pemain lokal yang benar-benar konsisten masih sedikit," kata legenda Timnas Indonesia itu.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ilyas Listianto Mujib
EditorIlyas Listianto Mujib
Follow Us

Related Articles

See More