Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Manchester United Kesulitan Kembali ke Papan Atas?

5 min read
Kenapa Manchester United Kesulitan Kembali ke Papan Atas?
Old Trafford, markas Manchester United (unsplash.com/Colin + Meg)
  • Manchester United berada di peringkat ke-12 EPL 2026/2027 hingga pekan kelima, melanjutkan periode sulit sejak kepergian Sir Alex Ferguson pada 2013.
  • Pergantian manajer berulang memicu perubahan taktik, filosofi, dan kebutuhan pemain, sehingga sejumlah proyek skuad tidak berlanjut sesuai rencana.
  • Belanja pemain belum menciptakan keseimbangan tiap lini, terutama bek kiri, sementara performa tim masih inkonsisten dari musim ke musim.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Awal 2026/2027 menjadi periode sulit Manchester United. Memasuki pekan kelima English Premier League (EPL), klub yang dikenal dengan julukan Red Devils tersebut masih tertahan di peringkat ke-12 klasemen, hanya unggul dari Tottenham Hotspur yang menempati posisi ke-20 sebagai sesama anggota Big Six. Situasi ini bukanlah pertama kalinya dialami Manchester United dalam beberapa musim terakhir. Lantas, apa yang membuat Red Devils masih kesulitan untuk bangkit seperti pada masa kejayaannya era 1990-an hingga awal 2000-an?

  1. 1. Pergantian manajer membuat Manchester United harus terus menyesuaikan taktik dan komposisi pemain

    Kepergian Sir Alex Ferguson pada 2013 setelah menakhodai Manchester United selama 26 tahun memang telah meninggalkan lubang besar. Sejak saat itu, klub yang pernah diperkuat oleh pemain legenda macam David Beckham dan Ryan Giggs ini sudah beberapa kali melakukan pergantian manajer, dimulai dari David Moyes yang didatangkan dari Everton pada musim 2013/2014. Estafet kepelatihan pun terus berpindah ke berbagai nama hingga akhirnya berada di tangan Michael Carrick pada 2026/2027 yang sebelumnya pernah menjadi manajer interim setelah Ole Gunnar Solskjaer hengkang dari Old Trafford pada 2021 tanpa mempersembahkan trofi.

    Kedatangan manajer baru tidak hanya mengubah sosok yang berdiri di pinggir lapangan, melainkan juga membawa perubahan pada filosofi permainan, pendekatan taktik, serta kebutuhan skuad yang berbeda dari manajer-manajer sebelumnya. Tidak jarang Manchester United harus mendatangkan pemain baru untuk menyesuaikan komposisi tim dengan rancangan proyek yang dibawa masing-masing manajer. Sayangnya, banyak proyek tersebut berjalan tidak sesuai harapan dan akhirnya terbengkalai ketika terjadi pergantian manajer.

    Meski demikian, bukan berarti semua manajer gagal memberikan prestasi setelah era Ferguson. Salah satunya yang kerap dianggap berhasil ialah Jose Mourinho, manajer asal Portugal yang tiba di Old Trafford pada 2016 dan sukses mempersembahkan trofi Liga Europa dan Piala Liga Inggris pada 2016/2017. Diberhentikan dari kursi kepelatihan pada pertengahan musim 2018/2019, Red Devils seolah-olah masih mencari jati diri setelah kepergian manajer legendaris asal Skotlandia yang pernah membawa Manchester United meraih treble pada 1998/1999.

  2. 2. Manchester United belum sepenuhnya mempunyai skuad yang seimbang di setiap lini

    Manchester United sebetulnya sudah melakukan belanja pemain yang cukup banyak sepanjang bursa transfer musim panas 2026. Bahkan, berdasarkan data Transfermarkt, Red Devils menjadi klub dengan jumlah pemain terbanyak kedua di EPL 2026/2027. Namun, jumlah tersebut ternyata tidak diimbangi dengan kedalaman yang merata di setiap lini.

    Menurut data Transfermarkt yang dirangkum oleh Sky Sports, lini depan Manchester United mempunyai nilai pasar (transfer value) yang ditaksir mencapai 370,65 juta pound sterling atau sekitar Rp8,8 triliun dengan kurs Rp23.740 per pound sterling. Lini tengahnya yang baru saja kedatangan Carlos Baleba, Andrey Santos, dan Youri Tielemans memiliki nilai pasar sekitar 198,85 juta pound sterling atau Rp4,7 triliun. Sementara itu, lini belakang Red Devils justru memiliki nilai pasar yang sedikit lebih rendah, yaitu 194,13 juta pound sterling atau sekitar Rp4,6 triliun.

    Ketidakseimbangan skuad tersebut paling jelas terlihat di sektor bek kiri yang turut mendapat sorotan dari sejumlah legenda dan analis. Posisi tersebut sebetulnya sempat menjadi perhatian Manchester United, tetapi mereka sama sekali tidak melakukan pergerakan untuk mendatangkan bek kiri baru meskipun Lewis Hall dari Newcastle United dan Antonee Robinson dari Fulham sempat dilaporkan oleh Sky Sports sebagai opsi. Alhasil, Luke Shaw tetap dipercaya mengisi posisi bek kiri kendati sepanjang kariernya sering mengalami masalah cedera.

  3. 3. Manchester United acapkali kesulitan mempertahankan konsistensi permainan dari musim ke musim

    Selama beberapa musim terakhir, Manchester United kerap mengalami performa yang tidak konsisten. Pada 2023/2024, Red Devils yang saat itu berada di bawah asuhan Erik ten Hag hanya mampu finis di posisi ke-8 klasemen EPL, di bawah Newcastle United dan di atas West Ham United. Meski berhasil mengamankan Piala FA setelah menundukkan Manchester City, performa Manchester United yang jauh dari kata stabil dan meyakinkan tetap menjadi catatan tersendiri.

    Situasi berubah menjadi semakin sulit bagi Ten Hag ketika Red Devils mengawali musim 2024/2025 dengan performa yang naik turun. Alhasil, dirinya pun dipecat pada Oktober 2024 dan digantikan oleh Ruud van Nistelrooy sebagai manajer interim sebelum mendatangkan Ruben Amorim sebagai manajer tetap pada November 2024. Sosok yang telah mempersembahkan dua trofi Primeira Liga untuk Sporting CP ini hanya mampu membawa Red Devils mengakhiri musim 2024/2025 di posisi ke-15 klasemen EPL, posisi terburuk yang pernah mereka tempati sejak 1973/1974.

    Manchester United sebenarnya sempat menemukan secercah harapan ketika Michael Carrick kembali ke Old Trafford pada musim 2025/2026. Manajer berpaspor Inggris yang pernah menakhodai Middlesbrough tersebut sukses memimpin Red Devils finis di posisi ke-3 klasemen EPL sekaligus mengamankan tiket ke Liga Champions 2026/2027. Sempat digadang-gadang sebagai sosok yang memimpin kebangkitan klub, Carrick justru dihadapkan pada penampilan Manchester United yang angin-anginan setelah hanya menempati peringkat ke-12 klasemen EPL 2026/2027 hingga pekan kelima.

    Pihak manajemen Manchester United masih memiliki PR besar untuk membawa klub kembali bersinar di papan atas seperti pada era Sir Alex Ferguson. Membangun kembali Red Devils yang telah mengoleksi 20 gelar Liga Inggris dan 3 trofi Liga Champions tentu bukanlah perkara mudah. Pergantian manajer yang sering diiringi dengan perubahan filosofi permainan, ketidakseimbangan skuad, serta penampilan tim yang inkonsisten menjadi persoalan yang mesti mereka perbaiki dalam waktu panjang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More