Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Piala Dunia Ada Perebutan Peringkat Ketiga?
ilustrasi stadion sepak bola (unsplash.com/Bruce Barrow)
  • FIFA tetap mengadakan laga perebutan peringkat ketiga untuk menentukan posisi akhir resmi turnamen dan melengkapi klasemen Piala Dunia secara jelas.
  • Pertandingan ini memberi penghargaan bagi tim semifinalis agar bisa menutup turnamen dengan prestasi, sekaligus kesempatan tampil bagi pemain yang jarang bermain.
  • Laga tersebut masih bernilai ekonomi dan hiburan tinggi serta menjadi tradisi panjang Piala Dunia yang terus dipertahankan meski format kompetisi berubah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Piala Dunia 2026 telah memasuki semifinal setelah rangkaian pertandingan fase gugur yang berlangsung sengit. Empat tim terbaik selangkah lagi menuju final, sementara dua tim yang kalah pada semifinal tidak langsung mengakhiri turnamen. FIFA menjadwalkan satu pertandingan tambahan untuk menentukan peringkat ketiga sebelum laga final digelar.

Bagi sebagian penggemar, laga perebutan peringkat ketiga dianggap kurang bergengsi karena trofi sudah tidak bisa diraih. Namun, pertandingan tersebut tetap dipertahankan hingga sekarang. Ada sejumlah alasan kenapa FIFA masih menganggap laga ini penting.

1. Menentukan posisi akhir turnamen

Dalam aturan FIFA, tiap edisi Piala Dunia harus ada tim yang menempati peringkat ketiga. Karena dua tim yang kalah pada semifinal belum pernah saling bertemu. Diperlukan satu pertandingan tambahan agar klasemen akhir turnamen terlihat jelas. Hasil pertandingan ini menjadi catatan resmi FIFA. Tim pemenang berhak menyandang status peringkat ketiga, sedangkan tim yang kalah mengakhiri turnamen di posisi keempat.

2. Memberikan penghargaan bagi tim yang tampil impresif

Mencapai semifinal Piala Dunia merupakan prestasi yang sangat sulit. Perebutan peringkat ketiga memberi kesempatan kepada salah satu tim untuk tetap pulang membawa pencapaian yang lebih baik setelah gagal mencapai final. Bagi tim yang belum pernah menjadi juara dunia, menempati posisi ketiga menjadi salah satu prestasi terbesar dalam sejarah sepak bola. Contohnya Kroasia yang meraih peringkat ketiga di Piala Dunia 1998 dan kembali mengulanginya pada 2022.

3. Menjadi penutup yang layak bagi para pemain

Tidak semua pemain mendapat kesempatan tampil pada semifinal atau final Piala Dunia. Laga perebutan peringkat ketiga bisa dimanfaatkan pelatih untuk memberi kesempatan kepada pemain yang minim menit bermain sepanjang turnamen. Bagi sebagian pesepak bola senior, pertandingan tersebut dapat menjadi penampilan terakhir mereka di Piala Dunia. Momen seperti ini kerap memiliki nilai emosional yang tinggi bagi pemain maupun pendukungnya.

4. Tetap memiliki nilai ekonomi dan hiburan

Walau tidak sebesar final, pertandingan perebutan peringkat ketiga tetap menarik perhatian jutaan penonton di seluruh dunia. FIFA masih memperoleh pemasukan dari hak siar, sponsor, penjualan tiket, hingga aktivitas komersial yang berkaitan dengan pertandingan tersebut. Di Piala Dunia 2026, laga perebutan tempat ketiga dijadwalkan berlangsung di Miami sehari sebelum partai final. Pertandingan itu menjadi laga ke-103 dari total 104 laga pada edisi yang diikuti 48 negara.

5. Menjadi bagian dari tradisi Piala Dunia

Pertandingan perebutan peringkat ketiga telah menjadi bagian dari tradisi Piala Dunia selama puluhan tahun. FIFA mempertahankannya meski format turnamen berubah, termasuk ketika jumlah peserta meningkat dari 32 menjadi 48 tim pada 2026.  FIFA masih menganggap penentuan posisi ketiga memiliki arti bagi sejarah kompetisi. Hingga saat ini, belum ada rencana resmi untuk menghapus pertandingan tersebut dari format Piala Dunia.

Meski sering disebut sebagai final hiburan, perebutan peringkat ketiga tetap menghadirkan pertandingan yang kompetitif dan menghasilkan catatan resmi dalam sejarah Piala Dunia. Sebagai info tambahan, perebutan peringkat ketiga tidak ada di turnamen besar lain seperti Euro. Selain itu, AFC juga menghapus laga tersebut di Piala Asia sejak 2019 seiring penambahan peserta menjadi 24 tim.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article