Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Membedah Penyebab Inggris Era 2000-an Selalu Gagal di Piala Dunia

Membedah Penyebab Inggris Era 2000-an Selalu Gagal di Piala Dunia
ilustrasi sebuah pertandingan sepak bola (unsplash.com/Samuel Regan-Asante)
Intinya Sih
  • Kutukan adu penalti dan tekanan mental membuat Inggris sering tersingkir di fase gugur hingga akhirnya terpecahkan pada era Gareth Southgate.
  • Egoisme antar pemain akibat rivalitas klub Premier League menghambat kekompakan tim, membuat kerja sama di lapangan tidak maksimal.
  • Formasi 4-4-2 yang kaku serta absennya gelandang bertahan berkualitas memperburuk performa, ditambah tekanan media yang menambah beban psikologis pemain.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Pecinta sepak bola boleh jadi ingat betapa mewahnya skuad Inggris pada era 1990-an hingga 2000-an. Alan Shearer, David Beckham, Steven Gerrard, hingga Wayne Rooney silih berganti mengisi daftar pemain The Three Lions. Namun, alih-alih membawa pulang trofi, generasi yang kerap disebut Golden Generation itu justru lebih akrab dengan kegagalan tragis dan selalu rontok pada fase gugur Piala Dunia. Apa saja penyebabnya?

1. Kutukan adu penalti merusak mental pemain sebelum diakhiri di Piala Dunia 2018

Dilansir Sky News, bagi Timnas Inggris pada era tersebut, adu penalti adalah momok. Masalah mental dan tekanan besar dari publik membuat para eksekutor Inggris kerap kehilangan fokus saat tos-tosan. Kegagalan adu penalti pada semifinal Piala Dunia 1990 melawan Jerman Barat seolah menjadi awal dari penyakit kronis yang sulit disembuhkan.

Kutukan ini terus berlanjut pada edisi-edisi berikutnya. Langkah Inggris harus terhenti lewat adu penalti di Piala Dunia 1998 saat menghadapi Argentina pada babak 16 besar. Hal serupa terulang di Piala Dunia 2006 ketika tiga penendang mereka gagal menaklukkan kiper Portugal pada perempat final. Beruntung, penyakit tersebut sembuh di Piala Dunia 2018 ketika Inggris diasuh Gareth Southgate.

2. Egoisme di level klub ikut terbawa ketika para pemain membela Timnas Inggris

Tak cuma adu penalti, persaingan ketat di kompetisi domestik, English Premier League, ternyata membawa dampak negatif bagi keharmonisan tim nasional. Para pemain dari klub top seperti Manchester United, Liverpool, dan Chelsea gagal meleburkan ego saat berseragam putih-putih. Rivalitas sengit di level klub menciptakan kubu-kubu kecil di ruang ganti.

Dilansir 90min.com, beberapa mantan pemain belakangan mengakui, mereka tidak bisa saling terbuka karena takut taktik klub mereka bocor. Salah satunya Rio Ferdinand. Alih-alih berjuang sebagai satu unit yang solid, egoisme klub membuat kerja sama tim di lapangan menjadi hambar dan miskin kreativitas. Dalam sebuah wawancara pada 2018, Ferdinand menyebut, rivalitas di level klub membuat Timnas Inggris menjadi prioritas kedua dan ia menyesali hal tersebut.

3. Formasi klasik yang diterapkan secara paksa dan krisis gelandang jangkar berkualitas

Kesalahan juga terjadi di tataran teknis. Pelatih Inggris pada era 2000-an terjebak dalam formasi klasik 4-4-2 yang kaku. Dilansir ESPN, salah satu blunder taktik paling terkenal adalah memaksakan duet Steven Gerrard dan Frank Lampard di lini tengah. Karena sama-sama memiliki karakter menyerang, kedua maestro ini justru kebingungan mengatur posisi saat transisi menyerang atau bertahan. Blunder taktik tersebut dilakukan Sven-Goran Eriksson (2001-2006), Steve McClaren (2006-2007), dan Fabio Capello (2008-2012).

Akibat duet Gerrard-Lampard, Inggris tidak memasang gelandang bertahan yang bisa memutus serangan lawan. Permainan The Three Lions menjadi sangat mudah dibaca tim lain yang lebih fleksibel saat menerapkan taktik. Beruntung, Inggris memiliki gelandang bertahan berkualitas pada tiga edisi Piala Dunia terakhir. Ada duet Jordan Henderson-Eric Dier (2018), Declan Rice (2022), serta Elliott Anderson (2026).

4. Tekanan besar dari media-media Inggris yang tak ragu melakukan pembunuhan karakter

Media lokal Inggris kerap disebut musuh utama yang jarang disadari para pemain. Pers mereka terkenal sangat kejam dan gemar membesar-besarkan ekspektasi sebelum turnamen dimulai. Label Generasi Emas yang disematkan justru berubah menjadi beban yang sangat berat di pundak para pemain. Idealnya, Generasi Emas hanya bisa disematkan ketika sebuah tim meraih pencapaian prestisius.

Dilansir Bleacher Report, ketika tim meraih hasil buruk, media tidak ragu melakukan pembunuhan karakter. Contoh paling nyata terjadi di Piala Dunia 1998 saat David Beckham menerima kartu merah melawan Argentina pada perempat final. Ia langsung dijadikan musuh nomor satu media. Ini melahirkan tekanan yang tak hanya membuat Beckham depresi, tetapi juga berimbas kepada klubnya saat itu, Manchester United.

Perusahan yang dibawa Gareth Southgate ke Timnas Inggris kemudian diteruskan Thomas Tuchel. Tak main-main, Harry Kane dan kawan-kawan bisa dibawa melaju ke semifinal Piala Dunia 2026. The Three Lions seolah sudah sembuh dari penyakit yang mendera sejak 1990-an. Mungkinkah tahun ini sepak bola benar-benar pulang ke rumahnya?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More