Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Keputusan Menarik Mirwan Suwarso untuk Como 1907

5 min read
5 Keputusan Menarik Mirwan Suwarso untuk Como 1907
Kota Como dan Danau Como dilihat dari ketinggian (commons.wikimedia.org/Nicolago)
  • Mirwan Suwarso memperkuat identitas lokal Como 1907 lewat dialek Semm Cumasch, keterlibatan warga, perlindungan harga bagi pemegang tiket lama, serta dukungan pada produk minuman setempat.
  • Ia mendorong sepak bola yang terjangkau dengan rencana menggratiskan tribun curva, sekaligus menyerahkan kursi direksi kepada suporter kelahiran 1950 atau sebelumnya saat debut Liga Champions.
  • Suwarso menyerahkan keputusan teknis kepada Cesc Fabregas, sementara manajemen fokus pada bisnis dan relasi kota; kolaborasi ini mengantar Como kembali ke Serie A dan Liga Champions.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Berkapasitas sekitar 12 ribu kursi dan berdiri beberapa langkah dari tepi Danau Como, Stadion Giuseppe Sinigaglia menggelar laga pada 21 Oktober 2026 yang berlangsung di tengah hujan dan angin kencang. Como 1907 menjamu Manchester United dalam pertandingan kandang Liga Champions Eropa dan menutup laga dengan skor 4-1. Suporter Como 1907 menyebut malam itu sebagai pengalaman yang tidak pernah dibayangkan seumur hidup.

Di balik kesuksesan Como 1907 melawan Manchester United, ada lima keputusan penting tentang harga tiket, jumlah kursi, tahun kelahiran suporter, dan pemasok minuman. Mirwan Suwarso, Presiden klub ini, berada di balik keputusan itu. Setiap keputusannya mempunyai alasan tersendiri yang patut diapresiasi.

  1. 1. Dialek Semm Cumasch masuk ke kaus, bar, dan rumah sakit kota

    Di tribun Stadion Giuseppe Sinigaglia, spanduk bertuliskan Semm Cumasch tergantung di banyak sudut. Frasa dialek Comasco yang berarti ‘kami orang Como’ itu tercetak pada kaus, topi, dan suvenir yang dikirim sampai ke Jepang dan Amerika Serikat. Lantas, bahasa sehari-hari warga Como menjadi bagian resmi dari identitas klub itu.

    Manajemen Como 1907 membagikan pakaian terusan bertuliskan Semm Cumasch kepada bayi-bayi yang lahir di dua rumah sakit di Kota Como. Untuk kampanye kaus terbaru, klub itu merekrut model dari warga setempat. Dengan cara yang hangat, dua langkah itu menempatkan warga kota sebagai bagian dari keluarga klub ini.

    Lebih lanjut, kesetiaan penggemar Como 1907 dihormati lewat harga. Tiket musiman klub itu termasuk yang termahal keenam di Serie A Italia, tetapi pemegang tiket musiman lama membayar harga terendah kedua di liga yang sama. Mirwan Suwarso menyebut sikap itu sebagai cara memahami batas antara hal yang boleh diubah dan yang harus dijaga.

  2. 2. Mirwan Suwarso ingin tiket tribun curva gratis karena sepak bola adalah milik orang banyak

    Pada Juli 2025, Mirwan Suwarso mengatakan kepada La Stampa harapannya menggratiskan tiket tribun curva terlebih dahulu sebelum tribun distinti. Dirinya beralasan sepak bola adalah milik orang banyak. Gagasan itu muncul saat Como 1907 menjadi salah satu klub dengan belanja transfer terbesar di Eropa.

    Pada musim panas 2025, belanja pemain Como 1907 melewati 100 juta euro atau Rp2,03 triliun. Di tengah pengeluaran sebesar itu, Mirwan Suwarso tetap berbicara tentang kursi murah untuk warga. Dia menyebut model klubnya sebagai sepak bola yang berkelanjutan.

    Rencana Mirwan Suwarso menyasar penonton yang mengisi tribun paling murah di Stadion Giuseppe Sinigaglia. La Gazzetta dello Sport memasukkan ambisi itu dalam gagasan calcio popolare, yaitu sepak bola untuk orang banyak. Dengan menggratiskan salah satu sektor terlebih dahulu, Mirwan memulai dari tempat yang paling dekat dengan warga biasa.

  3. 3. Kursi direksi diserahkan kepada suporter kelahiran 1950 atau sebelumnya

    Menjelang debut Como 1907 di Liga Champions pada September 2026, Mirwan Suwarso dan sejumlah direktur melepas kursi dalam pertandingan melawan RB Leipzig. Mengingat, permintaan tiket jauh melebihi pasokan, sementara kapasitas Stadion Giuseppe Sinigaglia berkurang sekitar 1.000 kursi karena aturan penyiaran dan operasional UEFA. Lantas, klub itu mengalokasikan kursi para direktur kepada suporter yang lahir pada 1950 atau lebih awal.

    Mirwan Suwarso menyebut bahwa kapasitas yang menyusut membuat Stadion Giuseppe Sinigaglia tidak bisa menampung semua orang yang ingin hadir. Oleh karena itu, dirinya memilih suporter yang paling lama menunggu. Suporter yang dimaksud itu adalah mereka yang mengikuti Como di setiap divisi dan setiap era.

    “Kami (manajemen Como 1907) akan merasa terhormat (untuk) menyerahkan kursi kami kepada mereka,” ungkap Mirwan Suwarso dalam pemberitaan BBC Sport.

    Debut Como 1907 di Liga Champions menutup perjalanan panjang sebuah klub yang dua kali bangkrut dalam 2 dekade terakhir. Como menunggu 21 tahun untuk kembali ke Serie A pada 2024, lalu finis keempat pada musim berikutnya. BBC Sport mencatat Liga Champions 2026 sebagai penampilan pertama klub itu dalam 119 tahun sejarah mereka berdiri.

  4. 4. Kunci urusan lapangan diserahkan kepada Cesc Fabregas

    Cesc Fabregas mengenang pertemuan dengan Mirwan Suwarso sebagai awal dari proyek Como 1907. Presiden klub itu menanyakan rencana dan visi Fabregas. Kemudian, dirinya membiarkan Fabregas menyusun seluruh gagasan klub itu.

    “Mirwan (Suwarso) mengurus hal-hal di luar lapangan, lalu memberi saya kunci untuk urusan sepak bola,” kata Cesc Fabregas sebagaimana dilansir ESPN.

    Kepercayaan Cesc Fabregas dan Mirwan Suwarso berjalan dua arah. Fabregas memegang keputusan teknis, sementara Mirwan mengurus bisnis dan hubungan dengan kota. Mirwan menyebut ide permainan klub itu sebagai cetak biru buatan Fabregas atau football the Como way.

    Hasil kolaborasi Cesc Fabregas dan Mirwan Suwarso muncul saat Como 1907 kembali ke Serie A setelah 21 tahun dan lolos ke Liga Champions untuk pertama kalinya. Sebelum kickoff melawan Manchester United, manajemen Como 1907 mengundang suporter paling setia untuk masuk ke lapangan sambil membawa spanduk Liga Champions. Fabregas menyebut suporter, direksi, staf, dan kota sebagai satu kesatuan yang membuat proyek klub itu berjalan.

  5. 5. Minuman lokal dan harga tiket menjadi cara menjaga warga kota

    Mirwan Suwarso mengambil alih La Comasca, tempat pembuatan minuman lokal yang hampir bangkrut. Manajemen klub ini memasok minuman itu ke Stadion Giuseppe Sinigaglia dan menutup kesepakatan distribusi dengan sebuah jaringan hotel. Rencana selanjutnya adalah mencetak lisensi merek untuk pasar Inggris dan Amerika Serikat.

    Dalam wawancara dengan Rivista Undici, Mirwan Suwarso menyatakan bahwa Como 1907 tidak boleh mengambil aset milik kota. Dirinya berjanji untuk menjaga program klub itu agar tidak pernah memasang harga yang keterlaluan bagi warga Como. Baginya, klub dan warga harus hidup berdampingan di Kota Como.

    Mirwan Suwarso menilai sepak bola yang menarik sebagai satu-satunya hal yang bisa menyatukan warga lama dan pendatang baru. Baginya, harga tiket yang mahal akan memutus hubungan klub dengan warga yang sudah mendukung sejak lama. Lantas, keputusan itu memastikan keberpihakannya kepada warga Kota Como.

    Akhirnya, lima keputusan Mirwan Suwarso memastikan identitas Como 1907 tidak memudar. Mereka saling memercayai, termasuk kepada pelatih yang membawa klun itu finis keempat dan lolos Liga Champions. Oleh karena itu, menarik untuk melihat perjalanan Como 1907 ke depannya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More